Banjar, bimasislam— Kota Banjar, Jawa Barat, dikenal sebagai kota tua sekaligus kota transit yang menjadi batas Tanah Pasundan dan Provinsi Jawa Tengah melalui jalur selatan. Kota ini sudah dikenal sejak abad ke-7 sebagai bagian dari Kerajaan Galuh. Terletak di jalur strategis, kehidupan sosial masyarakat Banjar berjalan dinamis dan berpandangan terbuka. Meski begitu, sebagai bagian dari tanah Pasundan yang religius, warga Banjar tetap menempatkan agama sebagai bagian penting dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut disampaikan Tatang Kohara, Kepala KUA Kecamatan Banjarsari, Kota Banjar saat berbincang dengan bimasislam¸ Kamis (23/02).
Dikatakan Tatang, kehidupan keagamaan masyarakat Banjar cukup membanggakan. Hasil kerja keras para tokoh agama, MUI, Ormas Islam, dan para penyuluh agama yang sudah berjalan sekian lama telah menjadikan agama sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar.
Di Kecamatan Banjarsari sendiri, kerukunan internal umat berjalan kondusif. Di kecamatan ini, angka pernikahan di bawah umur relatif tidak ada, demikian juga dengan kasus hamil di luar nikah. “Daerah Banjar dikenal agamis, sikap keagamaannya juga cukup ketat. Ucapan dan petuah para kyai dijadikan pedoman oleh warga.” Ujar Tatang.
Yang menarik, terkait dengan kerukunan internal umat, jalinan kerjasama antar Ormas Islam di Banjarsari dinilai patut menjadi contoh bagi daerah-daerah lain.
“Fragmentasi umat Islam di Banjar cukup dinamis, berbagai Ormas berperan dalam membimbing Umat Islam.” Kata Tatang melanjutkan. Sebagai contoh, pria kelahiraan 1967 itu melanjutkan, pengelolaan masjid di daerah perkotaan di Banjarsari relatif didominasi oleh ormas Persatuan Islam (Persis) dan Persatuan Umat Islam (PUI), sementara masjid yang terletak di pasar dikelola oleh Ormas Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama mengelola masjid-masjid yang tersebar di daerah perkampungan. Semua nya bersinergi dalam membangun umat.
“Di Masjid Besar At-Taqwa yang dikelola oleh teman-teman Persis dan PUI, jadwal kajian Islam dibagi rata dengan mengakomodasi semua Ormas Islam.” Imbuhnya.
Pembagian itu, seperti pembagian jadwal Kajian Islam, misalnya PUI dan Persis pada malam Kamis Kajian kelompok salafy tiap hari Sabtu, dan sebagainya. Begitu juga dengan jadwal khutbah yang mengakomodasi semua Ormas, termasuk NU, Muhammadiyah, MUI, dan pihak Kementerian Agama sendiri.
“Masing-masing Ormas berperan di dalam menumbuhkan sikap keberagamaan masyarakat, saling bekerjasama secara sinergis.” Tatang pun mengaku bersyukur kerukunan internal Umat Islam di wilayah pelayanan kerjanya berjalan kondusif dan damai. “Kami mewakili Kementerian Agama, alhamdulillah dekat dengan para tokoh agama dan kyai di sini. Kami bersyukur semuanya rukun dan damai.” Pungkas Tatang.
(syamsuddin/sigit)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



