Maros, Bimas Islam --- Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengapresiasi gebyar syiar Islam melalui lomba Seni Qasidah dalam Musabaqah Tilwatil Qur’an XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros. Ia menilai, pendekatan dakwah berbasis seni dan budaya berhasil menghadirkan wajah Islam yang lebih terbuka, membumi, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Muchlis, dakwah tidak lagi cukup bertumpu pada mimbar formal, tetapi perlu menjangkau ruang-ruang kultural yang hidup di tengah masyarakat. “Ruang-ruang syiar yang kreatif seperti pameran dan lomba qasidah mampu menghadirkan nilai Islam secara lebih dekat dan mudah diterima. Ketika syiar hadir dalam bentuk seni, ia tidak hanya terdengar, tetapi juga dirasakan,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menegaskan bahwa seni budaya memiliki kekuatan khas dalam menyentuh rasa, ingatan, dan kedekatan sosial masyarakat. Karena itu, penguatan syiar melalui ekspresi budaya menjadi bagian penting dari strategi dakwah ke depan.
“Syiar Islam tidak selalu harus disampaikan dalam bentuk ceramah formal, tetapi juga dapat dihadirkan melalui ekspresi budaya yang indah, santun, dan menggerakkan,” tambahnya.
Kegiatan ini, lanjut Muchlis, menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat disampaikan secara adaptif tanpa kehilangan substansi. Seni syiar Islam menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun keberagamaan yang ramah, sejuk, dan relevan dengan kehidupan publik.
Tingginya keterlibatan masyarakat dalam arena qasidah dan pameran juga menjadi indikator kuat bahwa dakwah berbasis budaya masih sangat diminati. “Ketika masyarakat datang, menikmati, dan terlibat, di situlah syiar bekerja secara hidup—bukan sekadar terdengar, tetapi juga dihayati,” tegasnya.
Melalui pelaksanaan MTQ ini, sinergi antara seni, budaya, dan dakwah dinilai semakin nyata. Model syiar seperti ini diharapkan terus dikembangkan sebagai strategi membumikan ajaran Islam yang inklusif dan berakar pada tradisi masyarakat.
Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam (SKSBI), Wida Sukmawati, turut mengapresiasi pagelaran syiar Islam dalam ajang tersebut. Ia meninjau langsung lomba qasidah, berdialog dengan peserta dan panitia, serta mengunjungi area pameran syiar Islam.
“Penyelenggaraan seni syiar Islam melalui pameran dan lomba qasidah menunjukkan bahwa dakwah dapat diperluas dengan pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat,” ujar Wida.
Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya area lomba qasidah dan pameran yang dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan. Sebanyak 14 peserta mengikuti lomba qasidah, sementara Pameran Syiar Islam melibatkan 23 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa seni syiar Islam memiliki daya tarik kuat dan mampu menjangkau lintas kelompok masyarakat.
Wida juga menyoroti keterlibatan lintas generasi sebagai kekuatan penting dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Islam. “Ini menunjukkan bahwa seni budaya Islam tetap hidup, diwariskan, dan diterima lintas generasi,” tambahnya.
MTQ XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan berlangsung pada 10–18 April 2026 di Kabupaten Maros, diikuti oleh 1.044 peserta dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Salah satu rangkaian yang menyedot perhatian publik adalah lomba qasidah yang digelar pada 13–16 April 2026 sebagai bagian dari penguatan seni syiar Islam.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



