Yogyakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama membekali penghulu dengan berbagai keterampilan untuk meningkatkan kualitas layanan Kantor Urusan Agama (KUA). Pembekalan diberikan melalui Short Course Penguatan Kapasitas Penghulu dan Pejabat Kepenghuluan yang berlangsung pada 18–21 Agustus 2026 di Yogyakarta.
Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan kabupaten/kota di sekitarnya. Peserta mendapatkan materi akad nikah dwibahasa dalam bahasa Inggris dan Arab beserta simulasinya, fikih munakahat klasik dan kontemporer aplikatif, serta literasi digital.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi mengatakan peningkatan kapasitas penghulu diperlukan untuk memastikan layanan KUA mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
“Karena itu, penghulu dituntut memiliki kepekaan sosial, keluasan ilmu, dan kemampuan membaca perubahan agar layanan KUA benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya saat memberikan pembinaan dalam kegiatan tersebut, Kamis (20/8/2026).
Menurut Zayadi, penghulu memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan masyarakat dalam berbagai persoalan keluarga dan kehidupan sosial keagamaan. Karena itu, penghulu perlu menguasai kemampuan teknis sekaligus memiliki kompetensi sosial dan keagamaan yang memadai.
“Kita ini pelayan, bertindak sebagai perawat umat. Tugas kita adalah merawat bangsa, melayani umat, dan merawat umat di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah,” ujarnya.
Zayadi mengatakan short course tersebut tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga sarana berbagi pengalaman dan praktik baik antarpenghulu. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehingga memberikan dampak terhadap kualitas layanan KUA di daerah.
“Forum ini menjadi kesempatan terbaik untuk memvalidasi pengalaman dan praktik baik yang sudah dilakukan para penghulu. Setelah silaturahim dan silatulafkar, harus ada silatulamal agar gagasan yang dibahas benar-benar berdampak bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan kebutuhan masyarakat menuntut penghulu untuk terus meningkatkan kompetensi. Penguasaan bahasa, fikih kontemporer, kemampuan profesional, kepekaan sosial, dan literasi digital menjadi bagian penting dalam menghadirkan layanan KUA yang relevan.
“Masyarakat yang kita layani itu dinamis. Karena itu, penghulu harus adaptif, terus memperkuat kapasitas, serta mengembangkan kompetensi akademik, profesional, sosial, moral, bahasa, fikih kontemporer, dan literasi digital agar layanan KUA tetap relevan,” tegasnya.
Kasubdit Bina Kepenghuluan Zudi Rahmanto mengatakan penghulu saat ini memiliki posisi strategis sebagai jabatan fungsional berbasis keahlian. Kondisi tersebut menuntut penghulu memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
“Melalui short course ini, penghulu dilatih memperkuat layanan akad nikah dalam bahasa asing, memahami fikih klasik dan kontemporer secara aplikatif, serta meningkatkan literasi digital. Semua itu penting karena penghulu hari ini harus mampu menjawab ekspektasi masyarakat melalui layanan KUA yang profesional dan berdampak,” ungkapnya.
Menurut Zudi, peningkatan kualitas KUA tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik. Kualitas sumber daya manusia, integritas layanan, kemampuan teknis, dan kepekaan sosial aparatur juga menjadi faktor penting dalam transformasi KUA.
“Yang perlu kita tata adalah SDM, kemudian diikuti fisiknya. Tantangan penghulu tidak bisa dihadapi dengan pola template karena masyarakat membutuhkan nilai tambah dari layanan penghulu yang profesional, relevan, dan benar-benar berdampak,” pungkasnya.
Zudi mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan Asta Protas Menteri Agama Nasaruddin Umar, terutama dalam penguatan layanan keagamaan yang berdampak dan digitalisasi tata kelola. Pembekalan kompetensi penghulu diharapkan dapat mendukung layanan KUA yang semakin adaptif, profesional, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, penghulu tidak hanya memperoleh penguatan pengetahuan, tetapi juga kesempatan mempraktikkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas. Materi simulasi akad nikah dalam bahasa Inggris dan Arab serta praktik literasi digital diharapkan dapat diterapkan dalam layanan KUA di daerah masing-masing.
Zidni/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



