Bogor, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan NU Care-LAZISNU berkolaborasi dalam pembangunan Masjid Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) di Ciawi, Bogor. Pembangunan ini ditandai dengan peletakan batu pertama yang menjadi bagian dari penguatan layanan keagamaan terpadu di kawasan strategis UPQ, Rabu (29/4/2026).
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem layanan keagamaan yang telah dikembangkan di lingkungan UPQ. Menurutnya, kehadiran masjid akan melengkapi pusat literasi keagamaan Islam yang telah lebih dahulu berdiri.
Abu menyampaikan, gagasan pembangunan kembali masjid di lokasi tersebut berangkat dari kebutuhan masyarakat dan sejarah keberadaan masjid kecil yang sebelumnya pernah ada di kawasan itu. Masjid tersebut diharapkan kembali hadir dengan fungsi yang lebih luas dan representatif.
“Harapannya masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang layanan umat, termasuk tempat singgah bagi masyarakat yang melintas di jalur strategis Bogor–Puncak,” ujarnya.
Ia menambahkan, lokasi UPQ yang berada di simpul aktivitas masyarakat dinilai sangat strategis untuk menghadirkan layanan keagamaan yang lebih dekat dengan publik. Kehadiran masjid di kawasan ini juga diharapkan memperkuat fungsi sosial keagamaan.
Abu juga menekankan bahwa pembangunan masjid ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan pengembangan UPQ sebagai pusat layanan Al-Qur’an dan literasi keislaman yang lebih luas.
“Ini adalah bagian dari upaya memperkuat layanan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan umat,” ujarnya dalam kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Masjid UPQ di Ciawi, Bogor, Rabu (29/4/2026).
Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah menjelaskan, pembangunan Masjid UPQ merupakan bagian dari program kemaslahatan yang didanai melalui skema kerja sama dengan Kementerian Agama. Total anggaran program ini mencapai sekitar Rp4,593 miliar.
Ia mengatakan, program tersebut mencakup berbagai komponen, mulai dari perencanaan, pekerjaan fisik, hingga pengawasan yang dilakukan melalui mekanisme pengadaan yang transparan dan akuntabel. “Seluruh proses kami jalankan dengan tata kelola yang baik, agar dana umat benar-benar memberikan manfaat yang optimal,” ujarnya.
Fadlul menambahkan, pembangunan masjid ini direncanakan berlangsung sekitar tujuh bulan dengan desain dua lantai, yang akan difungsikan untuk area salat laki-laki dan perempuan secara terpisah.
Ia juga berharap masjid ini dapat menjadi bagian dari penguatan layanan publik di lingkungan UPQ sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU Riri Khariroh menyampaikan apresiasi kepada Kemenag dan BPKH atas kolaborasi dalam pembangunan masjid ini sebagai bagian dari program kemaslahatan umat.
Ia mengungkapkan, kerja sama ini merupakan bentuk nyata sinergi antarlembaga dalam memperkuat layanan keagamaan berbasis umat, khususnya melalui penguatan infrastruktur ibadah. “Program ini kami jalankan bersama BPKH sebagai bentuk ikhtiar menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat,” ujarnya.
Riri menambahkan, pembangunan Masjid UPQ merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan fasilitas keagamaan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan bagi masyarakat sekitar.
“Kami berharap masjid ini nantinya dapat menjadi pusat aktivitas keagamaan, sosial, dan edukasi yang memberi dampak langsung bagi masyarakat di kawasan Ciawi dan sekitarnya,” tandasnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



