Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menerima kunjungan tokoh nasional yang juga Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak periode 2004–2009, Meutia Hatta, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Pertemuan tersebut membahas pentingnya keluarga sebagai ruang utama pewarisan nilai kebangsaan, keteladanan, dan kecintaan terhadap Indonesia di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
Dalam pertemuan itu, Meutia Hatta menekankan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, keteladanan yang hidup dalam keluarga menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus memperkuat jati diri bangsa.
Ia menjelaskan bahwa bangsa yang kuat tidak hanya dibangun melalui kebijakan publik atau pendidikan formal, tetapi juga melalui proses pewarisan nilai yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Karena itu, keluarga perlu menjadi ruang yang nyaman untuk menanamkan rasa cinta tanah air, tanggung jawab sosial, dan penghargaan terhadap budaya bangsa.
“Kita perlu merawat akar bangsa. Keteladanan harus dikenalkan kembali kepada generasi muda agar mereka memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman,” ujar Meutia Hatta di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Meutia Hatta mencontohkan sosok Rachmi Hatta, istri dari Bung Hatta, yang dikenal memiliki kecintaan besar terhadap Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tercermin dalam kesederhanaan hidup, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menggunakan dan mempromosikan budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti inilah yang menurutnya perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Keteladanan Keluarga dan Karakter Bangsa
Meutia Hatta juga mengungkapkan bahwa berbagai kegiatan edukatif tengah disiapkan untuk mengenalkan kembali warisan nilai tersebut kepada masyarakat. Kegiatan itu antara lain menghadirkan ruang berbagi pengalaman para saksi hidup, dokumentasi perjalanan tokoh bangsa, hingga pameran yang menampilkan kekayaan budaya dan identitas Indonesia sebagai bagian dari proses pembelajaran lintas generasi.
Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad menyambut baik gagasan penguatan nilai kebangsaan melalui keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam membentuk karakter, moralitas, serta kesadaran kebangsaan seseorang.
Abu mengatakan bahwa rumah sejatinya menjadi ruang pendidikan paling awal bagi anak untuk mengenal nilai agama, akhlak, dan kecintaan terhadap tanah air. Karena itu, penguatan keluarga menjadi bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Rumah adalah madrasah pertama bagi setiap anak. Dari keluargalah nilai-nilai cinta tanah air, penghormatan terhadap budaya bangsa, dan akhlak mulia ditanamkan sejak dini,” ujar Abu.
Ia menjelaskan bahwa upaya memperkuat keluarga sejalan dengan berbagai program pembinaan yang dijalankan Ditjen Bimas Islam. Menurutnya, keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, integritas, dan karakter kebangsaan yang kokoh.
Abu menambahkan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi global, keluarga perlu terus diperkuat agar mampu menjadi ruang dialog, keteladanan, dan pembentukan identitas generasi muda. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan untuk menghadirkan narasi kebangsaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Pesan yang disampaikan Ibu Meutia Hatta mengingatkan kita bahwa merawat Indonesia dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam keluarga. Keteladanan, penghargaan terhadap budaya bangsa, dan nilai kemanusiaan harus terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi menilai gagasan tersebut selaras dengan berbagai upaya penguatan ketahanan keluarga yang selama ini dijalankan Kementerian Agama. Menurutnya, keluarga merupakan ruang paling efektif untuk membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa keluarga yang sehat dan harmonis akan menjadi tempat tumbuhnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut pada akhirnya akan membentuk masyarakat yang kuat dan berdaya tahan.
“Ketika keluarga mampu menjadi ruang keteladanan, proses pewarisan nilai akan berjalan secara alami. Di situlah karakter kebangsaan dan keagamaan tumbuh secara beriringan,” kata Zayadi.
Menurut Zayadi, Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah terus mendorong penguatan fungsi edukasi keluarga melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, dan layanan keluarga. Upaya tersebut dilakukan agar keluarga mampu menghadapi berbagai tantangan sosial sekaligus tetap menjadi ruang pembentukan karakter yang efektif.
Ia menegaskan bahwa penguatan keluarga juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang harmonis dan berakhlak. Sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, pembangunan bangsa perlu dimulai dari pembangunan manusia yang berakar pada keluarga, sehingga nilai agama, akhlak, dan cinta tanah air dapat tumbuh secara berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



