Semarang, Bimas Islam — Kementerian Agama bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan identitas Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Peluncuran tersebut berlangsung di Semarang, Kamis (25/6/2026), ditandai dengan penancapan gunungan dan pengenalan logo, maskot, serta tema MTQ Nasional.
Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jawa Tengah, Yasin Maimoen, mengatakan, penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah didasarkan pada Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 715 Tahun 2025.
“MTQ Nasional XXXI akan berlangsung pada 11 sampai 20 September 2026 di Provinsi Jawa Tengah,” ujar Yasin saat menyampaikan laporan pada acara launching MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Kamis (25/6/2026).
Yasin menjelaskan, kedatangan dan registrasi kafilah dijadwalkan pada 11–12 September 2026. Pembukaan MTQ Nasional akan digelar pada 12 September 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang yang diawali dengan pawai ta’aruf dan malam ta’aruf.
Sementara itu, pelaksanaan perlombaan dan pameran produk unggulan akan berlangsung pada 13–19 September 2026. Penutupan dijadwalkan pada 19–20 September 2026, disertai berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Yasin memperkenalkan identitas resmi MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 yang terdiri atas logo, maskot, dan tema.
Logo MTQ mengangkat unsur budaya khas Jawa Tengah dan Kota Semarang sebagai simbol kebudayaan dan kebanggaan daerah. Maskot yang diperkenalkan bernama Saqur atau Sahabat Quran, yang menggambarkan semangat generasi muda yang dekat dengan Al-Qur'an. Sementara tema yang diusung adalah “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas Berkeadilan.”
“Identitas visual ini diharapkan menjadi simbol pemersatu seluruh kafilah dari 38 provinsi sekaligus mencerminkan keanggunan budaya dan nilai-nilai keislaman Jawa Tengah,” kata Yasin.
Sebagai tuan rumah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan berbagai layanan pendukung bagi peserta, mulai dari penjemputan dan pengantaran kafilah, kendaraan operasional, pawai ta’aruf, malam ta’aruf, hingga penyediaan sarana dan prasarana perlombaan.
Selain musabaqah, rangkaian kegiatan juga akan dimeriahkan dengan Expo dan Pameran Produk Unggulan yang berlangsung selama sembilan hari dengan melibatkan seluruh provinsi, kementerian, pemerintah kabupaten/kota, BUMN, BUMD, serta lembaga filantropi.
Pameran tersebut akan menghadirkan produk ekonomi syariah, kaligrafi Islam, dan festival kuliner halal sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah di Jawa Tengah.
Berbagai kegiatan pendukung lain juga telah disiapkan, antara lain lomba rebana nasional, pameran halal tour, fashion Islami, Batik Nusantara Award, job fair, seminar nasional bertema moderasi beragama dan ekonomi syariah di era digital, hingga program wisata religi dan heritage bagi para kafilah.
Yasin mengajak seluruh pihak untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Menurutnya, momentum ini bukan hanya ajang perlombaan Al-Qur’an, tetapi juga sarana syiar Islam, promosi budaya, dan penguatan kerukunan masyarakat Indonesia.
“Jawa Tengah terakhir kali menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada tahun 1979. Karena itu, kami menyambut kesempatan ini dengan penuh semangat dan komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh peserta dan tamu dari seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi berbagai inovasi yang disiapkan Jawa Tengah dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI. Menurutnya, sejumlah agenda pendukung tersebut menjadi nilai tambah yang memperkuat posisi MTQ tidak hanya sebagai ajang perlombaan Al-Qur’an, tetapi juga ruang syiar, edukasi, dan pengembangan ekonomi umat.
“Banyak sekali hal yang sangat menarik akan ditampilkan di MTQ Nasional XXXI di Semarang. Selain musabaqah, ada seminar, pameran kaligrafi, festival ekonomi syariah, lomba qasidah rebana tingkat nasional, hingga berbagai kegiatan yang memperkuat literasi Al-Qur'an,” ungkap Menag.
Menag menegaskan bahwa MTQ merupakan salah satu kegiatan keagamaan terbesar di Indonesia yang memiliki dampak luas bagi masyarakat. Selain memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur'an, MTQ juga mampu menggerakkan sektor ekonomi, pariwisata, dan usaha masyarakat di daerah penyelenggara.
“MTQ ini bukan hanya syiar Al-Qur'an, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi daerah. Hotel, kuliner, transportasi, UMKM, dan berbagai sektor lainnya ikut bergerak karena banyaknya peserta dan pengunjung yang datang,” katanya.
Menurut Menag, Indonesia memiliki tradisi MTQ yang unik dan sulit ditemukan di negara lain. Antusiasme masyarakat terhadap Al-Qur'an yang tercermin dalam penyelenggaraan MTQ dari tingkat desa hingga nasional menjadi kekuatan tersendiri dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur'an di tengah masyarakat.
Karena itu, ia berharap MTQ Nasional XXXI di Semarang dapat menghadirkan keseimbangan antara kemeriahan penyelenggaraan dan pendalaman substansi Al-Qur'an melalui seminar, kajian ilmiah, dan berbagai forum edukatif.
“Kita ingin MTQ di Semarang memadukan aspek kesemarakan dan pendalaman Al-Qur'an. Jika keduanya berjalan beriringan, Semarang akan menciptakan sejarah baru dalam penyelenggaraan MTQ di Indonesia,” tegasnya.
Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



