Makassar, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) bersama Universitas Muhammadiyah Makassar menggelar rukyatulhilal untuk penentuan awal Bulan Rajab 1447 Hijriah di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Minggu (21/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian bimbingan teknis (Bimtek) hisab rukyat di Sulawesi Selatan yang digelar Ditjen Bimas Islam.
Rukyatulhilal tersebut diikuti unsur Kemenag, akademisi, ahli falak, serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu falak sekaligus memastikan penetapan waktu ibadah dilakukan secara syar’i dan astronomis.
Tenaga Ahli Kementerian Agama Bidang Umrah, Haji, dan Kerja Sama Luar Negeri, Bunyamin M. Yapid, menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam proses pengamatan hilal. Menurutnya, selama ini masyarakat cenderung hanya mengetahui hasil penetapan awal bulan tanpa memahami proses ilmiah yang melatarbelakanginya.
“Selama ini mungkin teman-teman hanya melihat di televisi dan mengetahui hasilnya. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini kita juga bisa melaksanakannya secara langsung, tentu dengan bantuan dan dukungan dari Universitas Muhammadiyah Makassar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rukyatulhilal tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan keagamaan. Dalam Islam, hilal menjadi penanda penting waktu ibadah. "Allah menjadikannya sebagai penentu waktu-waktu bagi manusia,” kata Bunyamin.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk memahami bahwa penentuan awal bulan hijriah tidak hanya berbasis tradisi, tetapi juga didukung pendekatan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Bunyamin berharap, kolaborasi antara Kemenag dan perguruan tinggi dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai hisab dan rukyat secara utuh.
Bunyamin mengatakan, melalui kegiatan tersebut, Kemenag berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan institusi pendidikan dalam penguatan keilmuan falak. Sinergi ini dinilai penting agar penentuan kalender hijriah semakin transparan, edukatif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Fn/Mr



