Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama menggelar Expo Syiar Budaya Islam 2025 di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa hingga Kamis (4-6/11/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Hari Toleransi Internasional, sekaligus ruang kolaborasi bagi pelaku seni, sineas muda, dan komunitas budaya Islam untuk meneguhkan nilai-nilai keislaman yang damai, inklusif, dan moderat melalui karya kreatif.
Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan, penyelenggaraan Expo Syiar Budaya Islam merupakan bentuk dakwah kultural yang menampilkan keindahan ajaran Islam melalui seni dan kebudayaan. Menurutnya, pendekatan ini mampu menyentuh dimensi batin dan rasa masyarakat yang mungkin tidak terjangkau oleh ceramah konvensional.
“Islam itu penuh dengan nilai keindahan. Melalui seni, budaya, dan film, pesan keislaman bisa disampaikan secara lembut, menggembirakan, dan menginspirasi banyak orang,” ujarnya.
Abu menjelaskan, kegiatan berbasis budaya menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat moderasi beragama. Di tengah dinamika sosial dan kemajuan teknologi, dakwah perlu hadir dengan cara yang relevan dan adaptif.
“Film dan karya budaya memiliki daya pengaruh yang besar dalam membentuk persepsi dan perilaku publik. Ia bisa membuat seseorang tersentuh, berubah, dan menemukan nilai spiritualnya kembali,” ungkapnya.
Menurutnya, tema besar kegiatan ini, _The Wonder of Harmony:_ Merajut Cahaya Islami Keberagamaan, Cinta, dan Harapan, menggambarkan semangat Islam sebagai sumber harmoni dan kebajikan universal. Ia mengajak seluruh insan seni dan masyarakat luas untuk menanamkan kesadaran bahwa keberagaman adalah anugerah, dan kerukunan adalah hasil dari usaha bersama menjaga kemanusiaan.
“Kemenag ingin memperlihatkan bahwa wajah Islam Indonesia adalah wajah yang ramah, terbuka, dan menghargai perbedaan. Itulah makna sejati dari Islam _rahmatan lil ‘alamin,”_ tegasnya.
Ia berharap, ekosistem seni dan budaya Islam di Indonesia dapat terus berkembang sebagai sarana dakwah yang kreatif dan membangun optimisme sosial. “Ini momentum penting untuk memperluas dakwah yang menyejukkan, berbasis cinta kasih dan kebersamaan,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi menjelaskan, Expo Syiar Budaya Islam juga menjadi wadah konsolidasi antara dakwah, seni, dan teknologi digital. Menurutnya, cara berdakwah masa kini tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui media audio-visual yang mampu menjangkau jutaan penonton lintas wilayah dan budaya.
“Film, musik, dan karya kreatif lainnya punya kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi emosi penonton. Sebuah film dapat membuat orang tersenyum, menangis, bahkan merenung, sehingga pesan moral yang dibawanya lebih mudah diterima,” ujar Zayadi.
Ia mencontohkan, dalam konteks dakwah, seorang dai konvensional bisa menjangkau ribuan atau mungkin jutaan umat, tetapi sebuah film dapat menembus penonton hingga puluhan juta orang di berbagai negara. “Itu artinya, dakwah melalui film dan seni adalah investasi nilai yang berdampak sangat luas,” ungkapnya.
Zayadi menambahkan, pendekatan budaya dalam dakwah merupakan strategi penting di era digital yang sarat distraksi. Melalui pendekatan estetik dan emosional, masyarakat bisa diajak memahami Islam sebagai agama yang lembut, inklusif, dan membahagiakan. “Kita ingin Islam tampil sebagai inspirasi peradaban, bukan sumber perpecahan,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong ekosistem dakwah kultural yang lebih dinamis di Indonesia, serta memperkuat kolaborasi lintas bidang antara pelaku seni, sineas, akademisi, dan tokoh agama.
“Kemenag berkomitmen untuk terus memfasilitasi lahirnya karya-karya keislaman yang mencerahkan, membangun karakter bangsa, dan memperkuat semangat kebangsaan,” pungkasnya.
An/Mr



