Bandung, Bimas Islam -- Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama menggelar kegiatan “Mabar Ramadan: Beragama dengan Asyik” di Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (5/3/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan agama, budaya, dan kreativitas generasi muda melalui diskusi publik, pertunjukan seni, serta refleksi keagamaan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan pendekatan keberagamaan yang ramah dan relevan bagi anak muda. Menurutnya, agama tidak hanya hadir dalam ruang ritual, tetapi juga dapat diekspresikan melalui seni, budaya, dan kreativitas.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang dialog yang santai dan terbuka, sehingga anak muda dapat merasakan bahwa beragama itu menyenangkan, damai, dan tetap menghargai keragaman,” ujar Arsad Hidayat dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).
Arsad menjelaskan, generasi muda saat ini cenderung mencari cara beragama yang lebih cair, inklusif, dan dekat dengan ekspresi kreatif mereka. Karena itu, Kementerian Agama menghadirkan forum yang mempertemukan mahasiswa, seniman, dan pegiat budaya dalam suasana interaktif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa agama adalah sumber keindahan dan kedamaian. Ketika nilai-nilai agama bertemu dengan seni dan tradisi, lahirlah ekspresi keberagamaan yang lebih ramah, penuh makna, dan mampu memperkuat harmoni sosial,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Keagamaan, Dedi Selamet Riyadi, menyebut kegiatan ini sebagai salah satu upaya memperkuat pemahaman keagamaan moderat di kalangan generasi muda.
“Kami ingin mengampanyekan cara beragama yang asyik, damai, dan santai dalam arti sikapnya. Artinya, kita tetap serius dalam menjalankan ibadah, tetapi dalam menyikapi perbedaan kita bisa lebih terbuka dan saling menghormati,” kata Dedi.
Ia menegaskan bahwa beragama dengan cara yang menyenangkan bukan berarti meremehkan ibadah, melainkan membangun sikap bijak dalam menyikapi perbedaan.
“Beragama dengan asyik bukan berarti meremehkan ibadah, tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan dengan bijak. Kita bisa tetap teguh menjalankan keyakinan sekaligus menghargai orang lain yang memiliki cara beribadah atau tradisi yang berbeda,” ujarnya.
Dedi menambahkan, sejumlah survei menunjukkan generasi Z memiliki kecenderungan lebih terbuka terhadap keragaman. Hal ini menjadi potensi untuk memperkuat budaya dialog dan membangun kehidupan beragama yang harmonis di ruang publik.
“Kami melihat generasi Z memiliki energi besar untuk merawat keragaman. Karena itu ruang dialog seperti ini penting agar mereka dapat mengekspresikan kreativitas sekaligus memperdalam nilai-nilai agama secara damai,” tambahnya.
Kegiatan yang diawali dengan salat magrib berjemaah ini dihadiri mahasiswa dan komunitas seni. Acara diisi dengan diskusi budaya, pembacaan puisi sufistik, serta penampilan musik religi yang memperkaya suasana refleksi Ramadan.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



