Yogyakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama kembali menggelar Ngaji Budaya sebagai ruang ekspresi keberagamaan yang memadukan nilai Islam dan tradisi lokal. Kegiatan yang menghadirkan Kiai Kanjeng dan Letto ini berlangsung di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (15/11/2025), dan menjadi edisi keenam dari tujuh rangkaian acara nasional.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, penguatan tema harmoni menjadi bagian dari upaya merawat toleransi sebagai modal sosial bangsa. Ia mengingatkan bahwa konflik hanya akan menguras energi dan menghambat pembangunan nasional.
“Kita tidak mungkin bisa membangun bangsa dan negara kalau kita terus disibukkan dengan konflik,” ujarnya.
Abu menjelaskan, perhatian Kemenag atas isu toleransi bukan karena Indonesia tengah mengalami krisis, melainkan untuk menjaga kekuatan historis bangsa yang telah mengakar.
“Kami ingin kita semua menyadari bahwa ini adalah modal besar. Mohon kepada para mahasiswa untuk memviralkan pentingnya hidup harmoni, peduli sesama, dan berdampingan dengan mereka yang berbeda keyakinan,” tegasnya.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Ngaji Budaya kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Sedunia pada 16 November. Momentum tersebut semakin menegaskan relevansi tema besar yang diusung Kemenag, yakni “The Wonder of Harmony”.
“Dari Jogja ini kita memulai perayaan Hari Toleransi Dunia. Ini menjadi bagian dari tema besar Pak Dirjen, The Wonder of Harmony,” ujarnya.
Zayadi mengungkapkan peran strategis budaya dalam kehidupan keberagamaan umat Islam Indonesia. Menurutnya, budaya adalah ruang alami bagi ekspresi keislaman dan tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama.
“Bagi umat Islam Indonesia, budaya itu sejatinya adalah wadah atas ekspresi keberagamaan kita. Kita tidak dapat memisahkan antara budaya dan agama karena keduanya memiliki hubungan yang mutualistik dan saling melengkapi,” jelasnya.
Ia menambahkan, Ngaji Budaya dirancang sebagai instrumen dakwah kontemporer yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan dinamika peradaban modern. Melalui pendekatan budaya, nilai-nilai agama diharapkan lebih mudah dipahami dan dihayati masyarakat.
“Ngaji Budaya ini kita harapkan menjadi salah satu instrumen dakwah yang dapat menjawab kebutuhan zaman. Ada keharusan untuk mengontekstualisasikan doktrin agama dengan peradaban, dan salah satu wujudnya adalah melalui pengajian kebudayaan seperti ini,” katanya.
Zayadi menyebut, tujuan utama kegiatan ini adalah menghadirkan kedekatan antara ajaran agama dan pemeluknya. Pemanfaatan budaya dalam dakwah diharapkan memperkuat internalisasi nilai Islam di tengah masyarakat.
“Kita ingin nilai-nilai Islam dapat teramplifikasi dan terinternalisasi dalam laku kehidupan masyarakat, sehingga tidak ada jarak antara ajaran agama dengan pemeluknya,” tuturnya.
Fn/Mr



