Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan jumlah masjid yang mencapai sekitar 800 ribu di seluruh Indonesia, potensi tersebut dinilai menjadi modal besar dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama M. Fuad Nasar saat mewakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada Seminar Nasional Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).
"Masjid bukan sekadar bangunan fisik atau simbol keagamaan dalam arti sempit. Masjid merupakan bangunan risalah dan peradaban yang diwariskan Rasulullah saw., sekaligus menjadi bangunan pemersatu umat. Keberadaan masjid mengingatkan bahwa ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa harus ditempatkan di atas segala kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan," ujar Fuad.
Fuad menjelaskan, sejarah mencatat sejumlah universitas tertua di dunia lahir dari tradisi keilmuan yang berkembang di masjid. Di antaranya Universitas Az-Zaitunah di Tunisia, Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, dan Universitas Al-Azhar di Mesir. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa masjid sejak awal menjadi pusat lahirnya ilmu pengetahuan dan peradaban.
"Kegiatan pengajian, pendidikan, dan pengajaran di masjid pada masa itu berkembang hingga melahirkan universitas (jami'ah). Hal ini menunjukkan bahwa masjid memiliki daya hidup dan daya bangun peradaban," katanya.
Karena itu, menurut Fuad, imam masjid tidak hanya bertugas memimpin ibadah, tetapi juga berperan menghidupkan dakwah, pendidikan, dan tradisi keilmuan di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, pengelolaan masjid perlu mengembangkan tiga aspek utama, yakni riayah (pemeliharaan fisik), idarah (pengelolaan administrasi), dan imarah (pengelolaan kegiatan). Ketiga aspek tersebut harus dijalankan secara dinamis agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Fuad juga menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam terus menggulirkan berbagai program penguatan ekosistem kemasjidan. Program tersebut meliputi Masjid Ramah Anak, Masjid Ramah Disabilitas, pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid, pengembangan perpustakaan masjid, hingga Masjid Ramah Pemudik.
Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 800 ribu masjid, belum termasuk musala. Potensi tersebut perlu terus dioptimalkan agar masjid semakin berfungsi sebagai pusat dakwah, pendidikan, pembinaan umat, dan pemberdayaan masyarakat.
"Umat Islam Indonesia pada umumnya memiliki pandangan keagamaan yang moderat. Karena itu, masjid-masjid kita memiliki ruang untuk mewadahi berbagai kegiatan kemasyarakatan di luar peribadatan, sepanjang tetap berada dalam koridor nilai-nilai ketakwaan dan fungsi ideal masjid dalam Islam," tuturnya.
Seminar Nasional IPIM di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya merupakan bagian dari rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Puncak kegiatan berupa tabligh akbar diikuti sekitar 10 ribu jemaah dan dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, didampingi Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar, Kepala Biro SDM Muhammad Zain, serta Penasihat Ahli Menteri Agama Nur Syam.
Mfn/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…



