Bandung, Bimas Islam — Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah, menyampaikan pentingnya tradisi sanad dalam menjaga keotentikan bacaan Al-Qur’an. Hal itu disampaikannya saat mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Indonesia Qur'an Fest 2 di Bandung, Minggu (23/8/2026).
Lubenah mengatakan, keistimewaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungannya, tetapi juga pada keotentikan dan keterpeliharaannya dari perubahan. Menurutnya, Allah Swt. telah menjamin penjagaan Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hijr ayat 9.
“Keistimewaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan isinya, tetapi juga pada jaminan keotentikan dan keterpeliharaannya dari segala bentuk perubahan,” ujar Lubenah.
Menurut Lubenah, penjagaan Al-Qur’an juga diwujudkan melalui sistem transmisi ilmu yang berlangsung dari generasi ke generasi. Salah satunya melalui sanad yang menghubungkan bacaan murid kepada guru, kemudian kepada guru sebelumnya hingga bersambung kepada Rasulullah saw., Malaikat Jibril, dan Allah Swt.
“Belajar Al-Qur’an secara bersanad dilakukan melalui metode talaqqi dan musyafahah, yakni pertemuan tatap muka ketika murid membaca Al-Qur’an di hadapan guru. Guru membenarkan setiap makhraj, tajwid, hingga sifat huruf secara presisi,” jelasnya.
Ia mengatakan, talaqqi dan musyafahah menjadi bagian penting untuk memastikan bacaan Al-Qur’an tetap sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw.
Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tradisi pesantren dan rumah tahfiz yang kuat. Karena itu, menurut Lubenah, ketersambungan sanad Al-Qur’an di Indonesia perlu terus dijaga dan dikembangkan.
Lubenah menyebut penguatan sanad memiliki sejumlah manfaat, antara lain menjaga keotentikan bacaan dan mencegah kekeliruan dalam melafalkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan bacaan Rasulullah saw.
Selain bacaan, sanad juga berkaitan dengan pemahaman terhadap Al-Qur’an. Ia menyebutnya sebagai sanad fahm yang menjadi bagian dari kesinambungan keilmuan.
“Belajar dari guru yang bersanad memastikan penafsiran Al-Qur’an tetap berada dalam koridor keilmuan ulama mu’tabar,” katanya.
Menurutnya, sanad ilmu juga membawa sanad akhlak. Tradisi keilmuan Al-Qur’an yang diwariskan para ulama Nusantara turut membentuk karakter keberislaman yang ramah, santun, dan menyejukkan.
Lubenah menekankan bahwa membumikan Al-Qur’an melalui sanad tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Tradisi talaqqi dapat dipadukan dengan manajemen pendidikan modern.
Ia mendorong penguatan ekosistem rumah tahfiz dan pesantren agar para hafiz dan hafizah tidak berhenti pada capaian hafalan, tetapi juga melanjutkan pendidikan hingga memperoleh ijazah bersanad.
“Selain itu, perlu dilakukan standardisasi guru Al-Qur’an dengan meningkatkan kualitas pengajar di TPQ dan sekolah formal agar memiliki pemahaman tajwid yang mutaqin,” tuturnya.
Pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran Al-Qur’an. Menurut Lubenah, platform digital dapat digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran, sedangkan pemeriksaan akhir bacaan tetap dilakukan melalui talaqqi secara langsung dengan guru.
“Menjaga Al-Qur’an bukan sekadar mencetak sebanyak mungkin penghafal, melainkan memastikan setiap ayat yang dihafalkan tersambung sanadnya secara otentik hingga kepada Nabi Muhammad SAW dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Lubenah mengapresiasi penyelenggaraan Indonesia Qur'an Fest 2. Menurutnya, kegiatan tersebut relevan di tengah arus globalisasi dan sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam meningkatkan pemahaman serta kecintaan masyarakat terhadap ajaran agama.
“Saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiasi program ini. Program ini sangat penting dan relevan dilaksanakan di tengah arus globalisasi saat ini,” ungkapnya.
Ia berharap Indonesia Qur'an Fest dapat memberi dampak positif bagi peserta, terutama dalam meningkatkan pemahaman dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan bersinergi dengan Kementerian Agama. “Kita tentu berharap program ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berkelanjutan dan dapat terus bersinergi dengan Kementerian Agama,” tandasnya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



