Bandung, Bimas Islam— Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama (Kemenag) melatih 60 siswa dari enam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Bandung untuk menjadi tutor sebaya atau peer educator. Pelatihan yang berlangsung di Kota Bandung pada Selasa–Kamis (28–30/10/2025) ini bertujuan membentuk agen perubahan di madrasah dalam pencegahan perkawinan anak dan perilaku seks pranikah.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, menjelaskan, pelatihan ini merupakan langkah strategis Kemenag dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah yang sehat, berdaya, dan berkarakter.
“Program ini dirancang untuk membentuk generasi muda madrasah yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan sosial yang tinggi terhadap isu-isu remaja, termasuk pencegahan kawin anak dan seks pranikah,” ujar Zayadi.
Ia menambahkan, meskipun peserta berasal dari enam madrasah, dampak kegiatan ini diharapkan meluas ke seluruh siswa.
“Karena peran Anda, maka semua murid dari enam madrasah itu dalam jangka waktu tertentu, akan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang pentingnya mencegah kawin anak serta membiasakan akhlak Qur'ani,” tegasnya.
Zayadi menyebut, melalui metode peer education, para siswa akan dilatih untuk menjadi contoh dan penyampai pesan positif bagi teman sebaya mereka. Pendekatan ini dinilai efektif karena komunikasi antarremaja berlangsung lebih terbuka dan setara.
“Tujuan utama program ini adalah memberikan edukasi kepada duta-duta madrasah agar mereka menjadi tutor sebaya dalam membiasakan perilaku Qur'ani, mencegah kawin anak, dan mencegah seks pranikah. Inilah jalan menuju generasi unggul Indonesia Emas 2045,” katanya.
Selain pembekalan nilai-nilai moral, peserta juga mendapatkan pelatihan keterampilan komunikasi publik dan kepemimpinan. Mereka diajak memahami dinamika dunia remaja serta tantangan moral di era digital.
“Tidak semua murid madrasah mendapatkan kesempatan seperti ini. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk memperkuat jati diri sebagai murid madrasah yang bisa menjadi rujukan dalam peer group masing-masing,” pesan Zayadi.
Melalui pembinaan lanjutan, para peserta diharapkan dapat mengembangkan kegiatan kelompok sebaya di madrasah mereka, seperti diskusi tematik, kampanye sosial, dan pendampingan teman sebaya.
Kemenag berharap, program ini dapat melahirkan kader muda madrasah yang menjadi pelopor gerakan pencegahan kawin anak di tingkat sekolah. Program ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk menekan angka perkawinan usia dini.
“Kita ingin memperkuat jati diri kita sebagai murid madrasah. Jati diri yang, insyaallah, akan menjadi narasumber dan rujukan bagi teman sebaya kita,” pungkas Zayadi.
Fn/Mr



