Surabaya, Bimas Islam— Kementerian Agama (Kemenag) mendorong peran aktif remaja sebagai agen perubahan dalam membangun generasi yang tangguh, berkarakter, dan bebas dari perilaku berisiko. Melalui kegiatan Peer Educator Bimbingan Remaja yang digelar di Surabaya, Rabu (5/11/2025), Kemenag mengajak pelajar untuk menjadi pelopor gerakan pencegahan perkawinan anak, kenakalan remaja, dan perilaku negatif di lingkungan sekolah.
Sebanyak 80 siswa dan siswi dari empat lembaga pendidikan di Jawa Timur terlibat dalam kegiatan ini, yakni SMK Wachid Hasyim Pasuruan, MA Tachsinul Akhlaq Surabaya, MAN Surabaya, dan MA Darul Ulum Sidoarjo. Mereka menjadi bagian dari upaya besar Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah dalam memperkuat karakter generasi muda melalui pendekatan pendidikan sebaya (peer educator).
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengungkapkan, remaja memiliki peran penting dalam menguatkan nilai-nilai moral dan sosial di era digital. “Program ini dirancang untuk membentuk generasi remaja yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan spiritual yang kuat terhadap isu-isu remaja seperti pencegahan kawin anak, seks pranikah, dan perilaku menyimpang,” ujar Zayadi.
Ia menambahkan, Peer Educator berfungsi sebagai motor penggerak perubahan di kalangan remaja. "Peer Educator bukan hanya memberi sosialisasi, tetapi juga bertindak sebagai agen perubahan strategis untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya judi online, kenakalan remaja, dan perkawinan anak di kalangan sebaya mereka,” jelasnya.
Menurut Zayadi, pendekatan sebaya merupakan strategi efektif karena komunikasi antarremaja berlangsung lebih terbuka dan setara. “Keterlibatan remaja sangat penting karena mereka lebih mudah memahami persoalan sosial di lingkungannya dan mampu menularkan semangat perubahan secara alami,” tambahnya.
Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, mengungkapkan, program Peer Educator merupakan bagian dari ikhtiar Kemenag dalam membangun generasi yang mampu menavigasi tantangan zaman dengan nilai-nilai Qur’ani.
“Melalui program ini, para siswa diharapkan mampu mengenali tantangan era digital, mengambil keputusan yang tepat, dan membangun keterampilan hidup sehat untuk mencegah perkawinan anak serta perilaku berisiko lainnya,” kata Zudi.
Ia menuturkan, para Peer Educator tidak hanya diberi pemahaman moral dan spiritual, tetapi juga keterampilan kepemimpinan dan komunikasi publik agar dapat menjadi panutan di lingkungan madrasah maupun sekolah.
Zudi berharap, gerakan Peer Educator ini dapat menumbuhkan ekosistem remaja yang saling menguatkan, mendorong perilaku positif, serta memperkokoh pondasi keluarga sakinah sejak dini—menuju generasi unggul Indonesia Emas 2045.
Msk/Mr



