Jakarta, Bimas Islam — Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama mengungkapkan pentingnya peran majelis taklim sebagai sumber inspirasi harmoni sosial dan peneguhan nilai Islam yang ramah. Hal itu disampaikan Zayadi saat membuka kegiatan Penilaian Babak Penyisihan Festival Majelis Taklim Indonesia 2025 yang menjadi bagian dari rangkaian The Wonder of Harmony Kementerian Agama.
Zayadi menjelaskan, majelis taklim tidak hanya berfungsi sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga menjadi wadah yang membumikan ajaran Islam secara adaptif dan membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat. “Majelis taklim harus menjadi teladan dalam menghadirkan Islam yang mendidik, menyejukkan, dan membawa pesan kedamaian. Dari sini, harmoni sosial dan spiritual bisa tumbuh secara alami,” ujarnya di Jakarta, Kamis (13/11/25).
Menurutnya, Festival Majelis Taklim 2025 menjadi momentum untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan penuh inovasi. Melalui lomba-lomba seperti tilawah, dakwah kebangsaan, karya tulis, kasidah, dan video profil, potensi dakwah kreatif para jamaah dapat terekspos secara luas. “Inilah bentuk dakwah kontekstual yang sejalan dengan visi The Wonder of Harmony. Dakwah tidak cukup dengan kata-kata, tetapi juga melalui karya, kolaborasi, dan kontribusi nyata bagi umat,” jelasnya.
Zayadi menambahkan, Kemenag ingin agar majelis taklim tampil lebih progresif dan transformatif, bukan hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Ia menilai, kehadiran perempuan dalam kegiatan keagamaan perlu dioptimalkan untuk memperkuat daya tahan keluarga dan memperluas jejaring kebaikan di tingkat akar rumput. “Majelis taklim harus menjadi ruang produktif bagi perempuan untuk berdaya, berdampak, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” katanya.
Ia juga mengungkapkan pentingnya keterbukaan majelis taklim terhadap budaya lokal sebagai bagian dari strategi dakwah yang kontekstual. “Kita perlu mengakomodasi kearifan budaya daerah agar dakwah menjadi lebih membumi dan diterima oleh semua kalangan. Semangat kebangsaan dan kebersamaan itulah yang menjadi ruh dari The Wonder of Harmony,” tutur Zayadi.
Dalam kesempatan itu, Zayadi mendorong agar sinergi antara pemerintah, ormas Islam, dan komunitas majelis taklim terus diperkuat. Ia mengapresiasi Kelompok Kerja Majelis Taklim (POKJA) yang mampu menjaga kesinambungan kegiatan dan menjadikannya ruang kolaboratif lintas daerah. “Ini bukan hanya festival, tapi gerakan kultural yang menunjukkan kekuatan harmoni dalam keberagaman,” imbuhnya.
“Majelis taklim telah membuktikan diri sebagai pelaku dakwah yang mampu menjembatani ajaran dengan praktik keberagamaan. Ke depan, kami ingin majelis taklim menjadi pusat inspirasi yang menebarkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kedamaian di tengah masyarakat,” pungkas Zayadi.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Majelis Taklim (POKJA), Nyai Surunin, menyampaikan bahwa Festival Majelis Taklim 2025 diikuti peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Ia menjelaskan, terdapat lima kategori lomba, yaitu Tilawah dan Sari Tilawah, Dakwah Kebangsaan, Qasidah Rebana, Karya Tulis Majelis Taklim, dan Video Profil Majelis Taklim. “Hingga penutupan pendaftaran, peserta datang dari 26 provinsi untuk kategori tilawah, 23 provinsi untuk karya tulis, 21 provinsi untuk dakwah, serta masing-masing 15 provinsi untuk video profil dan kasidah,” ungkapnya.
Nyai Surunin menuturkan, proses seleksi dan penilaian lomba dilakukan secara bertahap dan transparan. Tahap penyisihan dilaksanakan sejak pertengahan Oktober hingga pertengahan November, sementara babak final akan digelar pada 25–27 November 2025. “Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarjemaah majelis taklim dari berbagai daerah sekaligus sarana pertukaran gagasan dalam mengembangkan metode dakwah yang relevan,” ujarnya.
“Melalui festival ini, kita ingin menunjukkan kepada publik bahwa majelis taklim kini semakin modern, aktif, dan memiliki kontribusi nyata bagi bangsa. Kami ingin menampilkan wajah Islam yang ramah, harmonis, dan membahagiakan,” tutupnya.
An/Mr



