Bekasi, Bimas Islam — Kementerian Agama mulai mengoperasikan program Masjid Ramah Pemudik di Kabupaten Bekasi sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik Lebaran. Hal tersebut ditandai dengan kegiatan launching Masjid Ramah Pemudik yang digelar di Masjid Besar Al-Hidayah, Cikarang Barat, Jumat (13/3/2026).
Para penyuluh menjadi penggerak utama dalam menyiapkan posko layanan pemudik di masjid, mulai dari penyediaan fasilitas istirahat hingga layanan konsultasi keagamaan bagi para musafir.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari tugas pelayanan keagamaan kepada masyarakat, termasuk dalam momentum arus mudik Lebaran.
“Program Masjid Ramah Pemudik sudah diluncurkan secara nasional oleh Wakil Menteri Agama. Ada 6.859 masjid atau titik layanan yang disiapkan sebagai tempat singgah pemudik,” kata Muchlis.
Ia menjelaskan, program ini tidak hanya melibatkan masjid, tetapi juga sejumlah rumah ibadah lain, kampus keagamaan, hingga fasilitas kesehatan yang berada di bawah Kementerian Agama.
Muchlis menambahkan, dari perspektif agama, upaya menghadirkan layanan bagi para pemudik merupakan bagian dari menjaga keselamatan jiwa, yang menjadi salah satu tujuan utama syariat.
“Dalam perspektif agama, menjaga keselamatan jiwa adalah bagian dari tujuan syariat. Karena itu kita ingin memastikan para pemudik dapat kembali ke kampung halaman dengan aman, nyaman, dan selamat,” ujarnya.
Ia juga meminta para penyuluh agama dan relawan yang terlibat memastikan pelayanan bagi pemudik berjalan secara berkelanjutan selama masa arus mudik dan balik.
“Jangan sampai program yang sudah dicanangkan ini berhenti di tengah jalan. Pelayanan harus terus berjalan, karena ini bukan hanya tugas operasional, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kemanusiaan,” katanya.
Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Umar Nashir mengatakan, program Masjid Ramah Pemudik telah dijalankan untuk kedua kalinya di wilayahnya dengan dukungan berbagai pihak, terutama para penyuluh agama yang tergabung dalam IPARI.
Ia menekankan pentingnya pelayanan yang ramah dan profesional kepada para pemudik yang singgah di masjid. "Melayani pemudik bukan pekerjaan sampingan. Mereka sedang dalam perjalanan jauh, sehingga harus mendapatkan pelayanan yang baik dan nyaman,” ujar Umar.
Ia juga meminta seluruh petugas membuat jadwal piket yang jelas agar pelayanan di posko berjalan optimal.
Sementara itu, Ketua IPARI Kabupaten Bekasi Supriyadi menjelaskan, Masjid Besar Al-Hidayah menjadi salah satu titik Masjid Ramah Pemudik yang disiapkan oleh para penyuluh agama di Kabupaten Bekasi tahun ini.
Menurutnya, berbagai fasilitas telah disiapkan untuk melayani pemudik, mulai dari tempat ibadah, area istirahat, layanan kesehatan, hingga konsultasi keagamaan bagi musafir.
“Pemudik dapat beristirahat di rest area masjid, menggunakan fasilitas charger, mendapatkan takjil, hingga berkonsultasi mengenai fikih musafir seperti salat jamak dan qashar,” jelasnya.
Selain itu, panitia juga menyediakan logistik sederhana bagi pemudik, termasuk minuman, kopi hangat, serta bahan bakar kendaraan.
Di Kabupaten Bekasi, selain Masjid Besar Al-Hidayah, dua masjid lain yang juga menjadi bagian dari program Masjid Ramah Pemudik adalah Masjid Jami Darussa’adah dan Masjid Jami Al-Barkah. Secara nasional, program Masjid Ramah Pemudik melibatkan 6.859 masjid yang disiapkan sebagai tempat singgah bagi para pemudik selama masa mudik Lebaran.
Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



