Aceh Utara, Bimas Islam — Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sejak akhir November 2025 tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan keagamaan masyarakat. Sejumlah masjid terendam lumpur, perlengkapan ibadah rusak, dan akses air bersih terbatas. Kondisi tersebut menyulitkan warga menjalankan ibadah sehari-hari, terutama menjelang bulan Ramadan.
Merespons situasi itu, Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kementerian Agama memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menyentuh keberlangsungan ibadah serta kehidupan sosial-keagamaan masyarakat terdampak.
Pada Selasa (13/1/2026), Kementerian Agama bersama Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta sejumlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional mendatangi sejumlah titik pengungsian dan masjid terdampak di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Fokus utama diarahkan pada kebutuhan yang paling dirasakan masyarakat, yaitu pemulihan fungsi tempat ibadah, ketersediaan air bersih untuk bersuci, serta dukungan agar aktivitas keagamaan dapat kembali berjalan.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakafz Waryono Abdul Ghafur, mengungkapkan, pemulihan sosial-keagamaan merupakan bagian tak terpisahkan dari penanganan bencana. “Bagi masyarakat, bisa kembali beribadah dengan tenang merupakan bagian dari proses pemulihan. Karena itu, zakat dan wakaf kami arahkan untuk menjaga keberlangsungan ibadah dan martabat hidup warga terdampak,” ujar Waryono.
Masjid, Pengungsian, dan Air Bersih
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Masjid Rieseh Teunong, Aceh Utara, yang terdampak banjir dan kini difungsikan sebagai tempat pengungsian bagi sekitar 53 kepala keluarga. Upaya pemulihan dilakukan dari kebutuhan paling mendasar, seperti penyediaan kembali karpet sajadah, mukena, sarung, serta pemulihan akses air bersih untuk kebutuhan wudhu dan kebersihan masjid.
Melalui dukungan BAZNAS, masjid dan posko pengungsian menerima empat roll karpet sajadah, 100 sarung, 100 mukena, serta 84 mushaf Al-Qur’an. Selain itu, dua unit toren air disediakan untuk menjamin ketersediaan air bersih yang menjadi kebutuhan krusial masyarakat pascabanjir.
Pendampingan serupa juga dilakukan di lokasi pengungsian Gampong Rieseh Baroh yang dihuni sekitar 28 kepala keluarga. Di titik-titik ini, Kemenag bersama BAZNAS dan LAZ memastikan kebutuhan dasar ibadah tetap terpenuhi meski warga masih berada dalam kondisi darurat.
Rombongan juga meninjau Masjid Attaqarub Rieseh Tengoh yang hanyut akibat banjir sebagai bagian dari pemetaan pemulihan fungsi rumah ibadah di wilayah terdampak.
Dapur Umum Penopang Kehidupan Pengungsi
Di Kota Lhokseumawe, dapur umum yang dikelola LAZ Asar Humanity di Meunasah Cut Mamplam menjadi penopang kebutuhan pangan pengungsi. Setiap hari, dapur umum tersebut menyiapkan sekitar 435 porsi makanan yang didistribusikan ke berbagai titik pengungsian di Aceh Utara.
Akses jalan di Lhokseumawe yang relatif masih berfungsi menjadikan wilayah ini sebagai simpul distribusi logistik bagi daerah sekitar, sehingga kebutuhan pangan pengungsi dapat terus terjaga.
Layanan Spesifik dan Pendampingan Komunitas
Sejumlah LAZ nasional turut memberikan layanan spesifik berbasis kebutuhan komunitas. LAZ Munzalan menyalurkan 150 mushaf Al-Qur’an untuk mendukung kembali kegiatan belajar mengaji. LAZ Rumah Zakat menyediakan 150 mukena bagi perempuan agar dapat beribadah dengan layak di pengungsian.
Sementara itu, LAZ Rumah Yatim mendistribusikan 150 sarung bagi laki-laki dan anak-anak, serta DT Peduli menyalurkan selimut dan Al-Qur’an sebagai bagian dari perlindungan dasar dan penguatan spiritual.
Secara keseluruhan, bantuan sarana ibadah yang disalurkan mencakup sedikitnya 234 mushaf Al-Qur’an serta lebih dari 350 item perlengkapan ibadah berupa sarung, mukena, dan karpet sajadah.
Pendampingan juga menyentuh aspek psikososial. Anak-anak pengungsi diajak mengikuti berbagai kegiatan sederhana, seperti menggambar, bermain, dan kuis keislaman. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi beban psikologis sekaligus menghadirkan kembali suasana belajar dan kebersamaan di tengah situasi pascabencana.
Zakat dan Wakaf sebagai Penyangga Ketahanan Sosial
Waryono menilai, pengalaman penanganan pascabencana di Aceh Utara menunjukkan bahwa zakat dan wakaf memiliki peran strategis sebagai penyangga ketahanan sosial umat. Masjid, meunasah, dan Kantor Urusan Agama (KUA) tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pemulihan, konsolidasi warga, serta penguatan solidaritas komunitas.
“Kami ingin zakat dan wakaf tidak berhenti pada bantuan sesaat. Keduanya harus menjadi bagian dari sistem ketahanan sosial-keagamaan masyarakat,” kata Waryono.
Melalui pendekatan tersebut, Kemenag berharap masyarakat Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe dapat menjalani masa pemulihan dengan lebih tenang, tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga tetap terjaga kehidupan ibadah dan sosialnya dalam menyongsong bulan Ramadan.
Yazed/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



