Jakarta, Bimas Islam— Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengungkapkan pentingnya mempertimbangkan pendekatan andragogis, sebagai salah satu bagian dari proses pembinaan remaja madrasah. Ia menilai, meski masih berusia remaja, peserta kegiatan perlu diperlakukan sebagai pribadi yang aktif, mandiri, dan mampu berpikir kritis.
Hal tersebut disampaikan Zayadi saat membuka kegiatan Peer Educator Bimbingan Remaja Usia Sekolah di Jakarta, Rabu (13/11/2025). Kegiatan ini diikuti peserta dari sejumlah satuan pendidikan, antara lain MAN 1 Jakarta, MAN 3 Jakarta, MAN 4 Jakarta, MAN 5 Jakarta, SMA Muhammadiyah 11 Jakarta, dan MA Asshiddiqiyah Jakarta.
“Remaja madrasah kita tempatkan bukan sebagai siswa, tetapi sebagai murid. Murid itu pribadi yang punya potensi, kehendak, dan keunggulan. Sedangkan siswa cenderung hanya mengikuti kehendak orang dewasa,” ujarnya.
Makna murid yang sesungguhnya dalam tradisi pendidikan Islam memiliki makna lebih luhur karena menggambarkan peserta didik yang menyadari potensi dirinya. “Dengan menyebut mereka murid, artinya kita memberi penghargaan bahwa mereka cerdas, hebat, dan memiliki hal-hal positif yang perlu dikembangkan,” tambahnya.
Menurut Zayadi, masa remaja adalah periode transisi yang ditandai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada fase ini, remaja aktif mengeksplorasi jati diri dan mencari makna keberadaan dirinya. “Remaja sering bertanya, siapa saya? Siapa kita? Ini masa eksplorasi diri yang luar biasa. Karena itu, mereka perlu role model dan pendamping yang memahami karakter serta cara berpikir mereka,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya peran fasilitator yang memahami dinamika perkembangan remaja agar metode pembelajaran dapat berjalan efektif. “Fasilitator harus mampu menciptakan suasana belajar yang demokratis dan partisipatif agar potensi remaja berkembang maksimal,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong peserta untuk berani berekspresi dan mengemukakan pendapat secara kritis. “Jangan takut salah. Dari kesalahan justru kita belajar. Dalam penelitian pun, ada hipotesis yang bisa keliru, tetapi itu bagian dari proses menemukan kebenaran,” katanya.
Ia menambahkan, pendekatan andragogi penting untuk menumbuhkan keberanian bereksperimen, kreativitas, dan pola pikir reflektif pada remaja madrasah. “Remaja madrasah harus punya semangat untuk mencoba hal baru dan berani menyampaikan pendapat secara santun,” ujarnya.
Di akhir sambutan, Zayadi berharap, para peserta dapat menjadi pendidik sebaya di lingkungan masing-masing. “Peserta dari MAN 1, MAN 3, dan madrasah lainnya diharapkan menjadi role model. Jadilah uswah, jadilah qudwah bagi remaja lain,” pesannya.
Ia berharap, pendekatan andragogi dapat membantu madrasah mencetak generasi muda yang berkarakter kuat, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Msk/Mr



