Palangkaraya, bimasislam— “Saat ini, profesi penghulu menjadi sorotan karena perannya yang sangat penting di masyarakat. Karena itu, harus ada paradigma baru yang berorientasi pada konsensus dan keterbukaan”. Demikian dikatakan oleh Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA, dalam kegiatan SPIP yang bertema “Membangun Budaya Kerja dengan Paradigma Baru Penghulu dan P3N Sebagai Manager/Administrator Mufti/Mubaligh dan Konselor’ yang diselenggarakan oleh Bagian Ortala, Ditjen Bimas Islam di Swiss-bell Hotel, Palangkaraya (29/4).
Lebih lanjut Djamil menegaskan bahwa di era reformasi birokrasi ini, kinerja penghulu dan P3N makin disorot sehingga muncul adanya kesadaran untuk saling mengawasi terhadap kinerja penghulu dan P3N (mengawasi dan diawasi). Dengan cara ini diharapkan kita tidak mengalami resistance to change.
“Masyarakat sekarang ini semakin peka teradap apa yg terjadi. Jika ada hal-hal yang tidak sesuai, mereka bisa langsung melaporkan kepada pihak-pihak yg berwenang atau diblow-up lewat media. Sehingga, kita perlu membangun informasi terbuka sesuai dengan SOP yg ada. Juga harus ada mekanisme jelas yang perlu di informasikan kepada Masyarakat. Kita harus tahu, masyarakat makin jeli dan responsif, seperti adanya pungutan-penguatan yang dilakukan oknum KUA seperti yang terjadi di Jawa Timur. Jika budaya kerja yang salah dilakukan berulang-ulang (common mistakes) mengakibatkan para penghulu dan P3N menjadi resistance terhadap perubahan”, imbuhnya.
Atas hal tersebut, tambahnya, perlu ada sosialisasi SPIP guna membangun paradigma baru penghulu dan P3N dalam rangka meminimalisir penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dari tahun ke tahun. "Saatnya kita berubah, jangan berhenti pada kebiasaan kuno yang tidak bermutu". Untuk mengantisipasi penyimpangan, perlu membangun skala prioritas yang dapat menciptakan perubahan yang baik. Seperti halnya peningkatan kompetensi penghulu yang sudah dilakukan oleh Ditjen Bimas Islam, yaitu adanya Musabaqah Qiraatil Kutub untuk para Penghulu.
Terakhir, Djamil memberikan catatan, bahwa penghulu merupakan entitas di Republik ini. Budaya kerja merupakan falsafah yang harus didasari oleh suatu pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan perilaku. Semua itu bertujuan membangun komitmen dan konsistensi, wewenang dan tanggung jawab, keikhlasan dan kejujuran serta intgritas, kreativitas, dan kepekaan, kepemimpinan dan keteladan, serta disiplin dedikasi. (hilda/foto:masjustice)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



