Semarang, Bimas Islam --- Di antara para peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia ke Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang, Muhammad Sauqi dan Amnah Abdullah membawa cerita yang sedikit berbeda.
Keduanya datang bersama Kafilah Kalimantan Selatan. Sama-sama membawa hafalan 30 juz. Sama-sama mendalami tafsir. Bahkan, sama-sama tampil pada cabang Tafsir Bahasa Inggris.
Namun ada yang membedakan keduanya dengan peserta lain. Sauqi dan Amnah adalah pasangan suami istri.
Di arena MTQ, keduanya berdiri sebagai peserta dengan tanggung jawab masing-masing. Namun jauh sebelum sampai ke panggung nasional, perjuangan itu telah berlangsung di rumah. Di sanalah keduanya terbiasa bergantian membaca dan menyimak, mengulang hafalan, mendiskusikan tafsir, hingga berlatih Bahasa Inggris.
Maka ketika Sauqi melihat Amnah berdiri di arena MTQ Nasional, yang dilihatnya bukan sekadar peserta lain dari Kalimantan Selatan.
“Ada rasa haru ketika melihat pasangan juga berdiri di arena yang sama, berjuang dengan hafalan Al-Qur’an dan kemampuan yang dimilikinya. Rasanya seperti melihat sebagian dari perjuangan rumah tangga kami hadir di atas panggung MTQ,” ungkapnya.
Dua Hafiz, Satu Panggung
Perjalanan keduanya bersama Al-Qur’an dimulai jauh sebelum mereka menjadi pasangan.
Sauqi mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 12 tahun. Amnah bahkan telah memulainya sejak usia 10 tahun.
“Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan membaca Al-Qur’an. Kemudian tumbuh keinginan untuk tidak hanya membacanya, tetapi juga menghafal dan memahami kandungannya,” tutur Sauqi.
Perjalanan menuju 30 juz tidak selalu mudah. Ada hafalan yang cepat melekat, ada pula ayat yang harus berulang kali diulang.
Namun setelah 30 juz berhasil diselesaikan, keduanya justru menemukan tantangan yang lebih panjang: menjaganya.
“Menghafal 30 juz bagi kami bukan perjalanan yang singkat. Menyelesaikan hafalan bukan berarti perjalanan selesai. Justru setelah 30 juz selesai, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankannya,” ungkap mereka.
Itulah perjalanan panjang yang kini mereka bawa ke MTQ Nasional.
Ketika Pasangan Menjadi Penyimak
Menjaga 30 juz membutuhkan murajaah yang tak putus. Bagi Sauqi dan Amnah, pernikahan membuat perjalanan itu memiliki teman.
Ketika salah seorang membaca, yang lain bisa menyimak. Ketika hafalan tersendat, pasangan membantu mengingatkan. Ketika salah seorang lelah, yang lain memberi semangat.
“Kalau soal mengingatkan, sebenarnya kami saling mengingatkan. Kadang saya yang mengingatkan, kadang Amnah,” ujar Sauqi.
“Kami berusaha saling menguatkan, bukan saling membebani. Karena kami sama-sama tahu bahwa menjaga hafalan itu membutuhkan proses yang panjang,” lanjutnya.
Rumah pun menjadi salah satu ruang persiapan menuju MTQ. Selain saling menyimak hafalan, mereka berdiskusi tentang ayat dan tafsir serta berlatih menyampaikan materi dalam Bahasa Inggris.
Prinsip keduanya sederhana: jangan menunggu waktu luang untuk membaca Al-Qur’an. Waktu untuk Al-Qur’an harus disediakan.
“Di rumah bukan hanya berbagi kehidupan sebagai suami istri, tetapi juga berbagi perjuangan bersama Al-Qur’an,” tutur mereka.
Membawa 30 Juz ke Tafsir Bahasa Inggris
Di MTQ Nasional XXXI, perjalanan panjang itu diuji dalam cabang Tafsir Bahasa Inggris.
Cabang ini bukan semata menguji hafalan. Peserta dituntut memiliki hafalan 30 juz yang kuat, memahami tafsir, sekaligus mampu menyampaikan pemahamannya dalam Bahasa Inggris.
“Tidak cukup hanya hafal ayat kalau tidak memahami kandungannya. Sebaliknya, memahami tafsir juga harus didukung kemampuan menyampaikan dengan bahasa yang baik,” jelas mereka.
Karena itu, persiapan Sauqi dan Amnah berjalan berlapis. Murajaah, kajian tafsir, dan latihan Bahasa Inggris dilakukan beriringan.
Bagi keduanya, kemampuan menyampaikan tafsir dalam Bahasa Inggris juga membuka ruang yang lebih luas untuk mengenalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Bukan tentang Siapa yang Menang
MTQ adalah musabaqah. Ada penilaian, ada hasil, ada peserta terbaik.
Namun bagi Sauqi dan Amnah, berdiri bersama di MTQ Nasional menghadirkan makna lain.
Mereka tentu ingin memberikan penampilan terbaik dan membawa nama Kalimantan Selatan. Tetapi orang yang berada di sisi mereka bukanlah lawan. Ia justru orang yang mengetahui betapa panjang perjalanan sebelum keduanya sampai ke panggung tersebut.
Ada tahun-tahun menghafal. Ada ayat yang diulang berkali-kali. Ada doa orang tua dan guru. Ada malam-malam belajar. Dan ada dua orang yang terus saling mengingatkan untuk menjaga apa yang telah mereka hafalkan.
Karena itu, kemenangan bagi keduanya tidak berhenti pada hasil perlombaan.
“Kemenangan yang paling utama adalah ketika Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan kami dan perjalanan ini membuat kami semakin bersyukur kepada Allah,” tutur mereka.
MTQ Usai, Murajaah Berlanjut
MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang akan berakhir. Arena perlombaan kembali sunyi dan para peserta pulang ke daerah masing-masing. Sauqi dan Amnah pun akan kembali ke Kalimantan Selatan.
Namun ada sesuatu yang tidak selesai ketika MTQ ditutup. Masih ada 30 juz yang harus dijaga. Masih ada tafsir yang ingin terus dipahami. Masih ada ayat yang harus kembali diulang ketika mulai samar.
Kepada pasangan muda, keduanya menitipkan pesan agar Al-Qur’an tak hanya hadir pada saat-saat tertentu dalam kehidupan rumah tangga.
“Yang terpenting adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga, bukan hanya dibaca ketika ada masalah,” pesan mereka.
Setelah panggung MTQ ditinggalkan, Sauqi dan Amnah akan kembali pada keseharian mereka. Kembali membuka mushaf. Kembali bergantian membaca dan menyimak. Kembali menjaga ayat demi ayat.
Sebab MTQ mungkin mempertemukan mereka dalam satu panggung. Namun perjalanan menjaga 30 juz itu akan terus mereka jalani berdua.
Raju / Ft. Sauqi/Kemenag.go.id
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



