Manggarai Barat, Bimas Islam — Di tepian laut Warloka Pesisir, Kecamatan Komodo, Nusa Tenggara Timur, kehidupan masyarakat berjalan mengikuti irama pasang dan surut. Bagi keluarga nelayan, perahu bukan sekadar alat mencari ikan. Perahu menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak, dan menjaga keberlangsungan keluarga.
Di tengah keterbatasan itu, hadir ikhtiar pemberdayaan untuk mengubah pola bantuan menjadi kekuatan ekonomi yang dapat dikelola secara mandiri. Melalui Program Pemberdayaan Kelompok Nelayan Wae Jawa Mandiri yang digagas LAZ BSI Maslahat, masyarakat pesisir dibangun melalui pendekatan ekonomi produktif, kelembagaan, pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, menilai model pemberdayaan seperti Wae Jawa Mandiri penting karena zakat dan dana sosial keagamaan tidak semestinya berhenti sebagai bantuan sesaat. Dana tersebut perlu diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan.
“Ke depan, pengembangan perlu diarahkan dari fase bantuan menuju fase produktivitas dan kemandirian ekonomi,” ujar Waryono, Senin (10/8/2026).
Arah tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menempatkan dana umat tidak hanya sebagai instrumen bantuan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat. Menurut Menag, pengelolaan dana sosial keagamaan perlu diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Program Wae Jawa Mandiri saat ini menjangkau 97 kepala keluarga atau 307 jiwa. Mereka terdiri atas 117 laki-laki, 172 perempuan, dan 18 lansia. Pemberdayaan ekonomi nelayan sekaligus menyentuh keluarga dan kelompok rentan di dalamnya.
Di Warloka Pesisir, pendekatan tersebut diwujudkan melalui dukungan 18 unit perahu nelayan dan satu kapal bagan. Sekitar 80 persen penerima manfaat juga mendapat alat tangkap. Selain itu, rumah produksi dan sekretariat telah selesai dibangun, sementara instalasi air bersih tersedia bagi masyarakat di empat wilayah RT.
Program tersebut memiliki dana sekitar Rp6 miliar dengan realisasi mencapai Rp5,6 miliar atau 91 persen. Namun, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang terserap. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh aset yang diberikan mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kelompok Nelayan Wae Jawa Mandiri mulai menguji pemasaran udang mantis dan teripang. Pengembangan usaha juga diarahkan untuk membangun rantai nilai dari penangkapan ikan, tempat pelelangan, offtaker, pengolahan, hingga pemasaran.
Dengan pola tersebut, nelayan tidak hanya menjual hasil laut sebagai bahan mentah. Mereka diarahkan untuk memperoleh nilai tambah melalui pengolahan dan hilirisasi.
Pendamping program dari LAZ BSI Maslahat, Asdin, mengatakan, penguatan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pemberian aset produktif. Kelembagaan dan kemampuan pengelolaan juga harus dibangun agar aset tersebut memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Substansi utama program saat ini adalah membangun ekosistem ekonomi nelayan dari hulu ke hilir,” kata Asdin.
Kelompok Nelayan Wae Jawa Mandiri kini telah memiliki Koperasi Pemasaran Syariah Nelayan Wae Jawa Mandiri. Koperasi tersebut telah memiliki legalitas badan hukum, surat keputusan desa, dokumen notaris, dan izin usaha.
Kelembagaan ini menjadi fondasi agar aset pemberdayaan dapat dikelola secara bersama. Dengan demikian, bantuan tidak berhenti menjadi aset individual, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi kelompok.
Pemberdayaan juga menyasar peningkatan kapasitas masyarakat. Sebanyak 85 orang mengikuti Training Manual Program, 44 orang mengikuti Training Bisnis Proses, dan empat pengurus mengikuti Training Alur dan Tata Kelola.
Pada saat yang sama, dimensi sosial dan keagamaan turut dibangun. Halaqah Al-Qur’an ibu-ibu diikuti 14 orang, halaqah anak-anak 15 orang, kajian Maulid Nabi 12 orang, serta kegiatan keagamaan masyarakat yang melibatkan 23 orang.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara tentang perahu, ikan, omzet, dan pendapatan. Di dalamnya terdapat upaya membangun kapasitas manusia, solidaritas, kepercayaan, serta modal sosial yang menjadi bagian penting dari kemandirian.
Bagi Kementerian Agama, Wae Jawa Mandiri menjadi gambaran bagaimana zakat, infak, sedekah, dan filantropi dapat menjadi instrumen transformasi sosial ketika dikelola dengan pendekatan pemberdayaan.
Namun, perjalanan kelompok nelayan Warloka belum selesai. Produktivitas 18 perahu masih perlu ditingkatkan. Jaringan offtaker perlu diperluas, fasilitas jual beli ikan harus dioptimalkan, dan produk olahan perlu terus dikembangkan.
Yang tak kalah penting, koperasi harus mampu tumbuh menjadi usaha yang sehat dan berkelanjutan.
Di titik itulah cerita Warloka memasuki babak baru. Laut yang selama ini menjadi tempat masyarakat bertahan hidup perlahan diarahkan menjadi sumber pertumbuhan. Bukan hanya agar nelayan dapat kembali melaut esok hari, tetapi agar mereka memiliki usaha, meningkatkan pendapatan, menyekolahkan anak, dan membangun masa depan dari kampungnya sendiri.
Yani/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



