Tangerang, bimasislam— Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kota Tangerang terus melakukan inovasi dalam mengoptimalkan peran penyuluh agama Islam di wilayahnya. Menurut Ketua Pokjaluh Kota Tangerang, Hj. Nurul M, Penyuluh PNS di lingkungan Kemenag Kota Tangerang memiliki agenda pertemuan secara rutin, dua kali dalam seminggu untuk meningkatkan kualitas layanan penyuluhan bagi masyarakat. Selain itu, para penyuluh PNS se-Kota Tangerang yang berjumlah 18 orang melakukan halaqah tukar pikiran dalam mengembangkan metode dan materi penyuluhan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
“Kami Penyuluh PNS se-Kota Tengerang secara rutin melaksanaan koordinasi untuk meningkatkan kapasitas kita masing-masing. Selain itu juga dilakukan diskusi terkait metode dan materi penyuluhan sesuai dengan kebutuhan di lapangan”, tegas Nurul kepada bimasislam (22/5).
Ketika ditanyakan apa masalah terkait dengan tugas-tugas di lapangan, perempuan berparas manis ini mengatakan bahwa tugas-tugas penyuluhan selama ini banyak dilakukan di luar jama kerja, sementara pada saat yang sama harus membuat laporan harian dan mingguan dalam waktu kerja.
“Masalah serius yang kami hadapi di lapangan adalah penyuluhan lebih banyak dilakukan di luar jam kerja, sementara laporan yang dibuat harus dilakukan di dalam jam kerja. Bahkan kami sering melakukan pembinaan kepada umat pada hari Sabtu dan Ahad. Padahal kan ini hari libur kerja, tetapi masyarakat tidak mau tahu. Pertanyaan kami kepada pimpinan atau auditor, kalau memang pembinaan banyak dilakukan di luar jam kerja, apakah bisa kami masukkan dalam laporan SKP?”, tegasnya mewakili penyuluh se-Kota Tangerang.
Selain itu, tambahnya, kalau penyuluh melakukan pembinaan keluar tidak mendapatkan uang pengganti transport. Lain halnya dengan penghulu yang mendapatkan uang transport dan jasa profesi dalam melakukan tugas dan fungsinya.
“Kami sering terjun ke lapangan, tetapi negara tidak memberi kami uang transport. Dulu pernah ada, tetapi sekarang tidak ada. Semua biaya kami tanggung sendiri, menggunakan fasilitas dan uang pribadi. Lain halnya para penghulu pak”, ungkapnya.
Saat ditanya apa harapan penyuluh kepada pimpinan di Pusat, wanita berkaca mata ini menegaskan bahwa penyuluh membutuhkan kendaraan dinas untuk kepentingan tugas agar lebih mobile.
“Kami berharap, Pusat bisa memikirkan untuk menyediakan alat trasportasi, motorlah, agar kami bisa memberikan penyuluhan lebih dinamis. Apalagi tidak ada uang transportnya. Selain itu, kami juga memerlukan anggaran yang cukup agar pola-pola pembinaan dapat dilakukan secara lebih optimal”, harapnya. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



