Sidoarjo, bimasislam— “Pekerjaan penyuluhan itu tidak nampak, tapi mudah dirasakan. Kami memberikan penyuluhan kepada masyarakat sering di luar jam kerja. Pada saat jam kerja kami sering membuat laporan, perencanaan program, atau sekedar diskusi dengan sesama rekan tentang strategi pembinaan yang efektif. Sehingga rekan-rekan kami non penyuluh masih melihat kami seperti tidak ada pekerjaan”, ujar Imam Mukozali, Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Kemenag Kabupaten Sidoarjo kepada kru bimasislam tempo hari (21/4).
Imam menambahkan bahwa tugas-tugas seorang penyuluh itu sangat banyak dan kompleks. Waktu-waktu penyuluhan ada yang dilakukan pada jam kerja, meskipun tidak sedikit yang dilakukan di luar jam kerja, bahkan malam hari atau hari libur.
“Meskipun ada yang menganggap kami dengan sebelah mata karena bertugas banyak di luar jam kerja, kami tidak patah semangat demi pengabdian kepada masyarakat. Kami memiliki tunjangan kinerja lebih tinggi dari JFU yang lain, sehingga itu menjadi motivasi kami untuk melakukan yang terbaik buat umat. Satu kekurangan kami adalah belum memadainya alat transportasi menuju warga binaan, sehingga sering menggunakan kendaraan pribadi atau ongkos sendiri. Mungkin ini usulan kami agar menjadi perhatian bapak-bapak di Pusat”, katanya.
Menurutnya, tugas penyuluhan bersama teman-temannya sangat luas. Ada yang membina Majelis Taklim, warga Lembaga Pemasyarakatan (LP), pengajian rutin mingguan, bahkan hingga lokalisasi di tempat yang jauh atau terpencil. Untuk menuju kesana membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga sering menjadi masalah teknis.
“Kami membina masyarakat yang beragam. Ada Majelis Taklim, LP, pengajian, bahkan lokalisasi yang di sebuah desa yang sangat terpencil. Untuk mencapai ke sana membutuhkan transportasi khusus dengan naik perahu. Untungnya kami ada kerja sama dengan BAZNAS yang bersedia membiayi kami untuk sewa perahu, sehingga masalah ini dapat teratasi”, tegasnya.
Ditanya soal metode pembinaan, Imam mengatakan bahwa pihaknya mencari cara yang paling halus agar tujuan penyuluhan dapat tercapai. Setiap warga binaan memiliki keunikan sendiri, sehingga membutuhkan metode yang tepat agar apa yang disampaikan sesuai sasaran.
“Dalam membina warga kami sesuaikan dengan kondisi. Misalnya, saat membina di LP atau lokalisasi kami tidak bicara tentang dosa-dosa, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang bisa menghargai orang lain, dan sebagainya dengan pendekatan hati. Demikian juga kami menekankan bahwa hidup adalah potongan-potongan cerita yang masih bisa berubah di kemudian hari”, tandas Imam sambil berbagi pengalaman. (thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



