Jakarta, bimasislam – Umat Islam baru saja selesai menunaikan ibadah puasa ramadhan dan menyambut Kemenangan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1438 H. Melalui mimbar masjid Istiqlal, Khatib Idul Fitri mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Fitrri sebagai momentum memperkokoh persatuan dan kesatuan.
“Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa kendati madzhab, agama atau pandangan politik kita berbeda, karena kita semua ber Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat Berbhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam tidak melarang kita berkelompok dan berbeda, yang dilarangnya adalah berkelompok dan berselisih”, demikian pesan Khatib Shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal KH. Muhammad Quraish Shihab, Jakarta, Minggu (25/6).
Sekitar 250 ribu umat Islam melaksanakan jamaah shalat Idul Fitri bersama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla di Masjid Istiqlal, Jakarta. Turut hadir Menag Lukman Hakim Saifuddindan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar. Tampak hadir pula menteri kabinet kerja, para duta besar negara sahabat, pimpinan dan anggota DPR-MPR, serta tokoh agama. Shalat Idul Fitri dimulai tepat pukul 07.00 wib, dengan imam Ust. Husni Kamil
Selaras dengan tema khutbahnya yakni Idul Fitri dan Semangat Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan, Pendiri Pusat Studi Alquran ini mengingatkan umat Islam bahwa perbedaan adalah sunnatullah. “Saudara,keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah buat seluruh makhluk termasuk manusia”, katanya.
Selain itu, Quraish Shihabmengingatkan agar manusia menyadari akan asal usulnya yaitu dari tanah, dengan begitu diharapkan manusia memahami jati dirinya. “Kesadaran bahwa asal kejadian manusia dari tanah, harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan apiyang merupakan asal kejadian Iblis. Sifat tanah stabil tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar”, paparnya.
Lebih lanjut dikatakan Quraish Shibah bahwa tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang dan tumbuhan tapi api tidak oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan. “Jika demikian manusia mestinya, stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya”, imbuhnya.
Lebih jauh penulis buku Tafsir Al-Misbah ini menjelaskan, karena manusia diciptakan Allah dari tanah, maka tidak heran jika Nasionalisme, Patriotisme, Cinta tanah air merupakan Fithrah yakni naluri manusia. “Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita sehingga mempersembahkan segala buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fithrah naluri manusiawi karena itu Hubbu Al-Wathan Minal Iman, Cinta tanah air adalah manefistasi dan dampak keimanan”, jelasnya.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga menegaskan jika kita mencintai sesuatu pasti akan memeliharanya, menampakkan dan mendendangkan keindahannya serta menyempurnakan kekurangannya bahkan bersedia berkorban untuknya. “Tanah air kita yang terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara Persatuan dan Kesatuannya. Persatuan dan Kesatuan adalah anugerah Allah yang tidak ternilai” pesannya.
(syamsuddin/foto:daniel)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



