Jakarta, bimasislam— Umat Islam Jakarta dan sekitarnya melaksanakan Shalat Idul Adha 1437 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/09/16). Shalat Idul Adha diimami oleh KH Syarifuddin Muhammad dan bertindak sebagai Khatib, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH Cholil Nafis Ph.D.
Diperkirakan lebih dari 250 ribu umat Islam melaksanakan shalat idul adha di Masjid Istiqlal. Shalat dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Sejumlah menteri kabinet kerja, Duta Besar negara sahabat tampak hadir didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Selain itu, hadir pula para pejabat Kementerian Agama, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Bimas Islam, Machasin, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin dan Direktur Penerangan Agama Islam, Muchtar Ali.
Tema khutbah kali ini adalah “Berkurban Meningkatkan Solidaritas Kemanusiaan”. Dalam khutbahnya, KH Cholil Nafis menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah swt dan kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Kurban. Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya, Ismail a.s.
KH. Nafis mengungkapkan Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, yang menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE tahun 2008.
“Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri”, ungkap KH. Nafis
Oleh karena itu, KH. Nafis menegaskan bahwa Idul Adha merupakan hari raya untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim as atas putranya Nabi Ismail as tersebut mempunyai dua nilai. Nilai-nilai tersebut adalah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.
Menurutnya, kesalehan spiritualnya adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim as. Sedang kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail (muda). Dikatakan bahwa, sikap kedua Rasul di atas penting unik diteladani, utamanya generasi muda indonesia.
"Ismail adalah figur anak shaleh, jujur, generasi muda yang baik, berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas tinggi, berani mengambil sikap pada situasi sulit, rela berkorban dan berbakti pada orang tua. Andai generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu Bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. " ujar KH. Nafis.
KH. Nafis juga menegaskan bahwa sikap rela berkorban ini merupakan salah satu prinsip keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi. Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap “altruisme”, menjunjung nilai-nilai “mengutamakan orang lain” dari pada diri sendiri.
Idul Adha tahun ini, Masjid Istiqlal menerima hewan korban 26 ekor sapi dan 15 ekor kambing. Di antara 26 sapi tersebut merupakan hewan kurban dari Presiden Joko Widodo dan Wapres M Jusuf Kalla serta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Hewan Korban dari Presiden seberat 1.5 Ton diserahkan kepada Wakil Ketua Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Bahrul Hayat oleh Menteri Pertanian, Andi Amran, sedangkan Hewan Korban Wapres diserahkan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan A Djalil.
(syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



