Serang, bimasislam—Perkawinan merupakan fitrah manusia, memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membentuk suatu keluaraga yang bahagia. Di dalam Islam dikenal istilah sakinah, mawaddah, warahmah atau SAMARA. Namun, dalam kenyataannya tidak semua rumah tangga berjalan dengan baik, jika masalah sudah tidak bisa di reda, tidak sedikit yang memilih untuk berpisah, sesuatu yang diperbolehkan namun dibenci oleh Allah SWT.
Beberapa waktu lalu, reporter bimasislam melakukan liputan khusus di Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Lebak Wangi, Kab. Serang, Banten. Hasil dari wawancara dengan salah seorang Penyuluh Agama Islam (PAI) bernama Khatibul Umam (33), didapat beberapa informasi yang menarik untuk dibagi, yaitu tentang perjuangannya membentuk keluarga SAMARA melalui kursus calon pengantin (suscatin) bagi pasangan yang hendak mengikatkan janji suci atas nama Tuhan.
Ditemui ditempat kerjanya, Umam, sang mentor membuka cerita tentang kualitas calon pengantin (catin) yang dinilainya perlu mendapat perhatian khusus. “Mohon maaf, disini orang menikah rata-rata pendidikannya sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berbekal uang seratus ribu sebagai mahar, mereka berani menikah”, ungkap Umam.
Menyikapi keprihatinan itu, KUA Lebak Wangi lantas menjadikan suscatin sebagai pintu masuk melakukan pendidikan informal pra nikah. Setiap calon pengantin diberi penyuluhan dengan metode tatap muka, disana ada pembekalan serta tanya jawab seputar pernikahan menurut agama Islam. Tidak hanya itu, catin juga di wajibkan mengikuti pendalaman membaca al-Qur’an.
Selain itu, catin lalu dibekali dengan ilmu-ilmu sosial dan psykologi, diantaranya tindakan preventif dalam mensikapi permasalan klasik rumah tangga. “Kita berikan pembinaan juga terkait dengan antisipasi dengan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pentingnya pendidikan anak dan bagaimana menjalin komunikasi yang baik dengan pasanganserta pentingnya pembagian peran antara suami dan istri”, terang Umam.
Keuletan Umam dalam melaksanakan suscatin mendapat apresiasi dari peserta. Ada sebagian peserta yang meminta untuk ikut kelas untuk kedua kali. “Suscatin dilakukan kira-kira 10 pasang, mereka sangat antusias, bahkan ada peserta yang minta diulang, mereka ingin pasangannya memahami betul materi suscatin”, tutur Umam.
Peseta suscatin, lanjut Umam, diberi panduan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, mulai dari pernikahan, mendidik anak dan seterusnya. “Kita sampaikan bahwa setiap rumah tangga pasti ada masalah, kita jelaskan bagaimana kesiapan kita, setiap pasangan memiliki karakter yang berbeda, dan ini adalah langkah preventif dari kita”, ujarnya.
Kedepan, Umam menambahkan, materi suscatin akan dilengkapi dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, hal ini sangat penting mengingat para catin pendidikannya rendah sehingga perlu diberikan pengetahuan seputar organ reproduksi.
“Kita sudah melakukan konsultasi dengan puskesmas, kedepan kami juga akan kerjasama dengan pihak terkait agar suscatin bisa lebih baik lagi, termasuk materi tentang kesehatan reproduksii”, imbuh Umam.
(syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



