Jakarta, Bimas Islam — Rektor UIN Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis, mengajak umat Islam meneguhkan spirit kurban sebagai jalan merawat alam, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan mengikis kesombongan diri.
Pesan itu disampaikan Hamdan saat menyampaikan khotbah pada Salat Iduladha 1447 Hijriah Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Rabu (27/5/2026).
Dalam khotbah bertema “Meneguhkan Spirit Kurban: Merawat Alam dan Kemanusiaan”, ia mengatakan, kehidupan modern kerap diwarnai krisis kemanusiaan, kesombongan intelektual, dan memudarnya penghargaan terhadap martabat manusia.
Hamdan menjelaskan, ibadah haji dan Iduladha merupakan ruang pendidikan spiritual untuk mengikis egoisme dan kesombongan. Menurutnya, pakaian ihram dalam ibadah haji menjadi simbol kesetaraan dan penghapusan sekat sosial.
“Ibadah haji adalah medan pelatihan untuk mengikis kesombongan diri,” katanya.
Ia menambahkan, Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum transformasi diri agar manusia tidak diperbudak kepemilikan duniawi dan mampu berbagi dengan sesama.
“Kurban bukan hanya ritual, tetapi proses untuk bertransformasi. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dikuasai oleh kepemilikan, melainkan harus menguasai dirinya untuk berbagi,” ucapnya.
Dalam khotbahnya, Hamdan juga mengulas krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi tanpa batas. Ia mengingatkan bahwa alam bukan objek eksploitasi, tetapi amanah yang harus dijaga bersama.
“Dunia menghadapi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan. Bumi yang menjadi rumah kita bersama terus terluka akibat eksploitasi tanpa batas,” tuturnya.
Hamdan mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia. Menurutnya, pesan Al-Qur’an itu relevan dengan situasi global saat ini.
Ia juga mengajak umat Islam membangun budaya berbagi, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sebagaimana diajarkan dalam Surah Ali Imran ayat 134. "Berbagi dalam keadaan luang bisa terasa ringan, tetapi berbagi dalam keadaan sempit menjadi lebih bermakna,” katanya.
Selain itu, Hamdan menekankan pentingnya kesabaran di tengah era disrupsi digital, maraknya hoaks, dan budaya saling menghakimi di ruang publik.
“Sabar hari ini bukan hanya menahan penderitaan, tetapi kemampuan menjaga produktivitas, melakukan tabayyun, dan menyaring informasi sebelum membagikannya,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Hamdan menyerukan lahirnya “Neo-Ibrahim” dan “Neo-Ismail”, yaitu generasi yang berorientasi pada kontribusi nyata bagi bangsa dan kemanusiaan
“Makna hidup bukan pada berapa lama kita hidup, tetapi pada seberapa luas kita memberi hidup kepada yang lain,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa tema Iduladha tahun ini mengangkat spirit kurban untuk merawat alam dan kemanusiaan. Tema tersebut selaras dengan program Kementerian Agama mengenai ekoteologi dan teologi cinta.
Menutup khotbahnya, Hamdan mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, bangsa, dan kemanusiaan. "Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses menjadi manusia yang lebih tulus, lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih berani melepaskan demi makna yang lebih dalam,” pungkasnya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



