Faruq Hamdi
Di pagi hari yang penuh barakah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan takwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah.
Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.
Dalam suasana Idul Adha seperti sekarang ini, perhatian kita umumnya tertuju kepada dua hal, yaitu: haji dengan serangkaian kegiatan ritualnya, sejak niat, memakai pakaian ihram sampai tahallul, dan pelaksanaan ibadah kurban berupa penyembelihan hewan ternak.
Melalui mimbar ini khatib mengajak hadirin sekalian untuk memaknai spirit Idul Adha dan penyembelihan kurban sebagai media untuk berinstopeksi diri. Marilah, kita tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan sifat keangkuhan dan kecongkakan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
Idul Adha tidak saja menyimpan sejuta maknadan spirit, ia tidak sekedar merayakan hari raya haji, tapi juga merupakan hari raya yang menekankan pentingnya kita untukberkurban. Pada kata “qurban” atau kurban, terdapat makna “dekat”. Dekat kepada Allah SWT dan dekat kepada sunnahnya.
Ada beberapa spirit yang patut kita renungkan dari Idul Qurbanini. Pertama, dekat pada Allah dengan belajar ikhlas. Ibadah kurban menuntut seseorang untuk melepas sesuatu dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan. Keduanya akan mencapai ridha-Nya. Sebuah kenikmatan untuk umat Nabi Muhammad SAW adalah perbuatan kebajikannyadilipatgandakan oleh-Nya. Hal ini menjadi sebab, umur-umur umatnya pendek-pendek. Baina sittina ila al-Sab’ina atau antara 60 sampai 70 tahun.
Keikhlasan tidak cukup tanpa ketakwaaan. Banyak umat Muhammad yang ikhlas saat menjalin hubungan dengan-Nya, tapi tidak takwa. Takwa adalah seseorang yang baik dalam sosial dan kemasyarakatannya. Hubungan antar manusia sama baiknya dengan hubungan dirinya dengan Allah SWT.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al-Hajj: 37).
Dalam konteks kurban, aspek yang lebih pokok adalah keikhlasan. Karena ini salah satu yang dapat mengantarkan kita kepada ketakwaan, baik takwa secara individu maupuntakwa secara sosial. Jika keduanya lepas, maka sifat rububiyah atau ketuhanan dalam diri manusia tidak berfungsi lagi. Mengapa? Karena kemurnian jiwa manusia telah ditaklukkan oleh nafsu dan balatentaranya. Manusia hanya mementingkan ego dan menuruti hawa nafsunya, akhirnya kecenderungan meremehkan orang lain dan merendahkan terus menjadi selimutnya, dan dirinya senang dipuji.
Kedua, sifat syaithaniyah atau kesetanan. Sifat ini kerap bersemanyam dalam diri manusia. Manusia harus memangkasnya sebelum eksistensi setan menguasai jiwa. Tanpa mengetahui cara kerja setan ini, manusia tidak akan mampu menemukankebahagiaan
Pekerjaan setan adalah selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya, dan dusta, bukan mengorbankansesuatu yang dimiliki untuk kemaslahatan umat. Maka momentum kurban adalah memangkas sifat setan yang cenderung egois dan tidak mau berbagi kebahagiaan dan kenikmatan dengan orang lain. Mengapa demikian? Watak dasar sifat kesetanan adalah suka mengajak manusia pada kemunafikan dan menjelmakan jalan kesesatan dengan jalan kebenaran. Ia membuat mata tampak indah, namun Allah murka akan hal itu.
Ketiga, sifat bahimiyah atau kebinatangan. Kurban adalah wadah saling berbagi sedikit harta yang kita miliki. Hewan hidup tanpa peraturan atau kendali sosial, sehingga mereka bebas mengekspresikan insting-nya tanpa batas-batas yang jelas. Sifat-sifat rakus, tamak, mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan, menyalurkan hasrat seksual tanpa dasar hukum yang jelas dan halal, perilaku seks menyimpang, dan lain-lain sebagainya merupakan gambaran betapa manusia itu telah dikeuasai oleh sifat bahimiyah. Dengan berkurban menyembelih binatang ternak merupakan symbol “menyembelih ego” yang selama ini mencoba menguasai hiduop kita.
Dan keempat, sifat sabuiyah atau kebuasan. Akhir-akhir ini sering kita dengar begitu banyak terjadi “kebrutalan” jalanan, bahkan banyak yang menjurus pada kekerasan seksual yang sulit diterima oleh norma dan standar moralitas. Bahkan ada seorang bapak menggauli anak perempuan kandungnya, seorang guru yang seharusnya mendidik justru memperlakukan muridnya dengan kasar dan tidak senonoh, perkelahian dan saling maki terjadi dimana-mana, tindakan anarkisme karena sebab yang sepele sering kita dengar. Ini semua sifat-sifat binatang buas yang kerap ada di dalam diri manusia.
Ketiga sifatburuk di atas akan menyerang dan setiap hari bertarung untuk menaklukkan sifat ketuhanan dalam diri manusia. Ketuhuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main dan sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baik kerangka demi tujuan yang mulia. Melalui tempaan zuhud, ia sucikan dirinya dari nafsu-nafsu jasmani untuk mencapai tingkatan tertinggi, tidak menjadi budak nafsu, dan meraih- sifat-sifat malakut.
Ia temukan surganya dalam perenungan tentang keindahan Abadi dan tak lagi memedulikan kenikmatan badani.Kimia ruhani yang mampu menghasilkan perubahan seperti ini, layaknya kimia yang mengubah logam biasa menjadi emas, tak mudah ditemukan.?Artinya, siapa saja yang mencarinya di tempat lain, pasti akan kecewa dan terpuruk di hari berbangkit.
Ada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam” (Qs. Qaf [50]: 22).
Allah SWT mengutus 124 ribu nabi untuk mengajar manusia-manusia tentang resep kebahagiaan dan cara menyucikan hati mereka dari sifat-sifat hina melalui zuhud. Sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali dengan jelas dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahwa sifat tiga di atas sangatlah tidak pantas dimiliki manusia, maka di hari indah ini, kita pangkas segala sifat buruk dan ganti dengan sifat rububiyah. Sifat yang menghambakan diri pada-Nya, tidak memalingkan wajah dan jiwanya dari kebenaran, dan selalu menghindar dari ajakan bala tentara setan.
Dekatnya manusia dengan-Nya, lebih dekat dari urat nadi kita. Sebenarnya, sifat rububiyah itulah yang selalu membuat manusia taat pada Allah dan beribadah. Maka, di samping prosesi ibadah kurban, yang merupakan perintah agama, ada misi liberatif berupa semangat pembebasan. Bebas dari budaknya setan, hewan dan nafsu buas, menuju pengakuan akan ke-Esa-an Allah SWT. Dan menegasikan segala otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Allah.
Muara penyembelihan kurban pun sejalan dengan visi teologi pembebasan, dimana tujuan dasar dari teologi pembebasan adalah “persaudaraan universal”, “kesetaraan” dan “keadilan sosial”. Persaudaraan universal ada sejak semua manusia bersama-sama menuju masjid untuk menunaikan shalat dua rakaat dan mendengarkan khutbah, (Mushofahah) bersalam-salaman sebagai sarana mempererat rajutan dan ikatan persaudaraan.
Di tambah lagi muatan kesetaraan. Semua manusia yang sedang berhaji, tidak mengenal kelas sosial, semua sama menggunakan dua helai kain putih layaknya kain kafan yang nanti kita pakai ketika ajal sudah menjemput. Dan keadilan sosial tampak dari ritual penyembelihan kurban. Di dalam kepemilikan kita terdapat hak orang lain.
Semua itu untuk mengantarkan kita pada sifat ke-Tuhanan. Bagaimana setelah kita mengenal diri, maka kita akan mengenal Tuhan dengan pandangan yang jelas dan holistik. Tanpa mengenal diri kita, kita tidak akan mengenal Tuhan. Imam Ghazali dalam kitab Kimia Saadah mengajukan beberapa pertanyaan, siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi dan apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, serta dimanakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?.
Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya. Tak ada yang dekat denganmu kecuali diri kita sendiri. Jika kita tidak mengetahui diri kita sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuan kita tentang diri sendiri dari aspek lahiriyah, seperti: bentuk muka, badan, anggota tubuh dan lain sebagainya, tidak akan mampu menghantarkan kita untuk mengenal Tuhan lebih baik.
Imam Ghazali mengatakan, ?kita dapat melihat jasad kita sebagai sebuah kerajaan. Jiwa sebagai rajanya dan indra beserta fakultas lain sebagai tentaranya. Akal bisa disebut perdana menterinya, syahwat sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai polisi. Dengan alasan mengumpulkan pajak, syahwat selalu ingin merampas segala hal demi kepentingan sendiri, sementara amarah cenderung bersikap kasar dan keras.?
Artinya, bahwa ketiga sifat buruk yang telah kita jelaskan di atas dan juga syahwat serta amarah harus berada di bawah sifat rububiyah atau pemungut pajak dan polisi selalu ditempatkan di bawah raja, sekalipun tidak harus dibunuh atau ditindas, karena mereka memiliki peran-peran tersendiri. Namun, ketika sifat seperti bahimiyah (kebinatangan), sabu?iyah (kebuasan), syahwat dan amarah menguasai nalar maka jiwa otomatis akan runtuh. Istilah Imam Ghazali, layaknya ?seseorang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing dan seorang Muslim kepada seorang raja kafir yang zalim.?
Oleh karena itulah, dalam kesempatan ini, kita tidak saja harus berbangga telah menyumbangkan hewan kurban untuk kepentingan orang lain, kemaslahatan umat, sebagai wujud dan aktualisasi dari takwa yang ideal, tapi bagaimana kita semaksimal mungkin untuk memangkas sifat-sifat yang tidak baik, yang sudah menguasai diri kita ini.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Akhirnya, marilah dengan penuh keikhlasan, kita menunduk di hadapan Allah SWT untuk memohon dan meminta segala kebaikan, baik kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak. Sungguh, terlalu banyak dosa yang sudah kita lakukan, maka tak pantas jika tidak segera bertaubat kepada-Nya.
Ya Allah, tidak ada satupun kedurhakaan kami, yang tak Engkau ketahui. Kami tidak akan pernah untuk lari dari pengawasan-Mu. Di manapun kami sembunyi, Engkau pasti melihat setiap perbuatan kami. Namun, kami juga menyakini, betapa maha pengampunnya Engkau. Karena itu, tutupilah dosa ini. Ampunilah dosa ini, karena Engkau jualah yang dapat mengampuni dosa-dosa kami.
Faruk Hamdi,Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta & Staf Komisi Dakwah MUI Pusat
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



