Jakarta, Bimas Islam -- Di tengah lantunan zikir yang menggema dari kawasan Monumen Nasional (Monas), ribuan pasang tangan terangkat memanjatkan doa untuk Indonesia yang akan memasuki usia ke-81. Ratusan pasang mata dari beragam latar belakang agama tertuju ke panggung utama, tempat di mana lantunan ayat suci dan doa digemakan.
Namun, tak jauh dari kerumunan jamaah, ada sekelompok orang yang memilih tetap waspada ketika yang lain menundukkan kepala. Mereka adalah para tenaga kesehatan yang selalu siaga, memastikan setiap peserta dapat mengikuti rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan dengan aman.
Di balik pos-pos tenda medis yang tersebar di berbagai sudut Monas, mereka menyiapkan infus, obat-obatan, tabung oksigen, hingga ambulans. Semua perlengkapan telah siap untuk setiap keluhan dan pertolongan pertama.
Dokter dari Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Arifah, mengatakan pos kesehatan dilengkapi berbagai fasilitas untuk mengantisipasi beragam kondisi medis yang mungkin muncul di tengah keramaian.
"Di sini ada infusan, injeksi, obat simptomatis, perawatan luka, velbed, tabung oksigen, kursi roda, sampai ambulans," ujarnya, Sabtu di Monumen Nasional Jakarta, (1/8/2026).
Tenaga kesehatan sedang bersiaga di tengah acara Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
Kerumunan besar yang diisi peserta dari berbagai kalangan usia membuat kemungkinan gangguan kesehatan tak bisa diprediksi. Berbagai keluhan kesehatan seringkali melanda.
"Sejauh ini tadi itu luka-luka kecil di kaki, terus lemas, mual muntah, keleyengan, sama tensi tinggi," kata Arifah.
Bagi dr. Arifah, bertugas di tengah acara kebangsaan seperti ini bukan sekadar menjalankan profesi. Ada kepuasan tersendiri ketika kehadiran tenaga medis mampu membuat masyarakat merasa lebih aman.
"Cukup baik ya, berarti kan merasa bermanfaat. Memberikan manfaat kepada masyarakat selama acara," tuturnya.
Kesiapsiagaan itu bukan hanya bertumpu pada satu pos kesehatan. Kementerian Kesehatan sebagai koordinator utama menempatkan tujuh pos medis di berbagai titik kawasan Monas agar pelayanan dapat menjangkau peserta dengan cepat.
Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, Bagus, menjelaskan setiap pos diisi rata-rata 15 hingga 16 tenaga kesehatan. Dengan tujuh pos yang beroperasi, total personel yang bertugas mencapai sekitar 100 orang lebih.
Di balik jumlah tersebut, koordinasi menjadi kunci utama. Seluruh laporan dari tenaga medis di lapangan dipusatkan ke Kementerian Kesehatan untuk mempercepat pengambilan keputusan, termasuk bila diperlukan rujukan ke rumah sakit.
"Semua koordinasi itu berpusat di kami. Jadi yang menjadi tenaga medis nanti melapornya kepada kami. Kalau misalnya butuh rujukan, kami yang akan menyiapkan rujukannya," ujar Bagus.
Pelayanan kesehatan dalam acara ini juga menjadi contoh kolaborasi lintas instansi. Selain Kementerian Kesehatan sebagai koordinator, tim medis diperkuat oleh Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puskesmas, hingga sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD).
Menurut Bagus, bekerja di tengah ribuan peserta yang datang dari berbagai rentang usia menghadirkan tantangan tersendiri. Setiap tenaga kesehatan dituntut menjaga fokus sepanjang acara karena kondisi medis yang muncul bisa sangat beragam.
"Sangat seru ya, dan bangga juga menjadi bagian dari acara ini. Pesertanya dari berbagai usia, dari orang tua sampai anak-anak. Artinya kasus yang mungkin terjadi sangat luas. Kami harus menempatkan 100 persen fokus melihat keadaan sekitar agar memastikan kesehatan di acara ini semuanya baik dan seminimal mungkin ada aksiden," katanya.
Posko layanan kesehatan
Sampai malam di bawah naungan bulan purnama, lantunan doa dan salawat kebangsaan masih menggema di kawasan Monas. Ratusan ribu orang larut dalam harapan yang dipanjatkan untuk Indonesia. Sementara itu, di balik keramaian yang penuh khidmat, para tenaga kesehatan tetap berdiri di pos-pos mereka, mengamati setiap sudut, bersiap membantu siapa saja yang membutuhkan. Kehadiran merekalah yang memastikan rangkaian doa kebangsaan dapat berlangsung dengan tenang.
Bagaimanapun dan di situasi apapun, menjaga kondisi tubuh agar tetap fit menjadi hal yang penting. Oleh karena itu, jangan lupa jaga kesehatan, konsumsi makanan yang bergizi, dan tetap rutin berolahraga, yaa!
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



