Pandegelang, bimasislam—Pagi itu, matahari belum sepenuhnya terbit, namun jalanan sudah mulai ramai. Kanan kiri jalan utama menuju wisata pantai labuhan itu sudah penuh sesak oleh mobil yang berjajar, mereka memakirkan kendaraan di tempat yang sempit. Ramai suara saling sahut, maklum selain jalan berbelok, disitu ada pasar Saketi. Tidak jauh dari situ pula sedang ada pengecoran jalan, atas aba-aba pihak keamanan pasar, kami pun parkir tepat disebrang pasar.
Setelah memastikan kendaraan tidak memakan bahu jalan terlalu lebar, kami pun turun dan bergegas ke sebuah bangunan tua. Bangunan tua yang telah berdiri sejak 1986. Konon, para guru agama dan pegawai KUA iuran untuk membeli sebidang tanah yang terletak disebrang pasar Saketi.
“Silahkan, silahkan, silahkan, kami sudah menunggu sejak pagi, bahkan semalam saya tidak bisa tidur karena mau ada tamu dari Jakarta”, aku pria berbadan tegap dan berpeci hitam.
“Saya adalah kepala KUA sini, nama saya Kosim”, lanjut pria yang sejak awal menyambut dengan ramah. Salah satu dari rombongan pun meminta untuk bernafas sejenak sebalum melanjutkan mengobrol. Oh iya, kami dipersilahkan duduk di ruang utama, tepat didepan meja kepala KUA.
Usai beberapa menit berlalu, kami pun mulai melanjutkan perbicangan yang sempat dimulai. “Maaf, bapak-bapak beginilah kondisinya, silahkan ditafsirkan sendiri”, kata Kosim mengawai pembicaraan. Kondisi yang dimaksud Pak Kosim adalah keadaan gedung KUA yang sangat memprihatinkan, atap bocor, dinding lusuh, lantai hancur, horden tercabik-cabik, ruangan pengab, sanitasi yang buruk dan tentu bising suara kendaraan. Tidak ada air conditioner, televisi, telepon, komputer, tapi untung absen sidik jari pegawai terlihat sangat dirawat.
Tak selang lama, salah satu pejabat yang ikut dalam rombongan menimpali keluh kesah Pak Kosim. “begini pak, setelah melihat kenyataannya seperti ini, kita akan kerja keras memperjuangkan agar secepatnya mendapat prioritas anggaran, minimal gedung ini direnovasi berat, karena kalau dibangun ulang membutuhkan waktu yang terlalu panjang”, ujar Kepala Sub-Direktorat Kepenghuluan, Anwar Saadi.
Beberapa kali Anwar Saadi mengulang dan memyakinkan kepada seluruh pegawai KUA Kec. Saketi. Saat itu pula wajah Kosim tampak berseri, sesekali tersenyum, diruangan sebelah terdengar ungkapan, “alhamdulillah, semoga saja benar akan direnovasi”.
Muhammad Rifa’i, teman kami yang lain sibuk mengabadikan beberapa lubang di atap ruangan. Kami pun menyapa satu persatu karyawan, baik staff PNS maupun yang honorer. Saat berbincang hangat, seisi ruangan saling tanya dan jawab. Disitu ada satu jawaban yang membuat kami tercengang saat kami tanya bagaimana perasaan ibu bekerja disini? “biasa saja Pak, khawatir, do’a kami hanya satu, gedung ini boleh roboh asal malam hari saat kami tidak ada”, ungkap salah seorang pegawai yang bernama AI Khojariyah.
Waktu menunjukkan pukul 08.30 wib, sudah saatnya rombongan bimasislam dan kepala KUA segera bergegas. Ya, pukul 09.00 wib akan ada peristiwa nikah, disebuah desa yang berjaran kira-kira 5 km dari kantor KUA Saketi. Kami pun menyudahi perbincangan hangat pagi itu.
Jalan Terjal tugas Penghulu
Secara beriringan kami menuju lokasi pernikahan yaitu di desa Majua.Mula-mula tidak ada yang istimewa, namun setelah mulai masuk ke jantung perkampungan, disitu perjalanan mulai tampak istimewa. Jalanan mulai berkelok, tidak ada aspal maupun beton, lubang dan genangan tidak terhitung jumlahnya. Meski demikian, Pak Kosim terus memacu motor dinasnya, seolah ngebut di jalan tol.
“Ayo kang, sebentar lagi sampai”, teriak Pak Kosimyang sebentar lagi akan bertindak sebagai penghulu.Jalanan mulai menanjak dengan kanan kiri tebing, suasana daerah tertinggal mulai terasa, ditambah dengan bentuk bangunan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di bawah kolong rumah ramai dihuni binatang ternak, dari bebek, ayam hingga anak kambing. Begitulah warga desa Majua meramahibinatang ternaknya.
Di depan sebuah warung kecil, akhirnya kami menghentikan kendaraan. Kami terpaksa memarkir kendaraan di depan rumah warga karena menuju lokasi hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Selain jalan setapak dan menanjak, kondisi jalan licin karena belum lama turun hujan. Sekitar 300 meter, kami disambut puluhan anggota keluarga mempelai. Sholawat pun menggema, dibawah sebuah tenda berukuran 4 kali 10 meter akan dilangsungkan akad nikah dua insan manusia.
“Alhamdulillah sudah sampai”, ujar Pak Kosim sambil tersenyum ke arah kami. Tidak ada ubin/kramik atau sejenisnya, yang ada hanya tanah liat ditaburi sekam padi. Tidak ada tratak / tenda layaknya pernikahan dikota, yang ada hanya sebuah terpal yang disangga bambu kecil. Berjajar kursi tamu yang berjumlah kurang dari 15 buah. Begitulah gambaran pernikahan pagi itu, sangat sederhana. Tapi dibalik kesederhanaan itu Kosim Setiawan tetap menjalankan tugasnya dengan penuh wibawa, satu per satu ulama setempat disapa, mereka menjadi saksi pernikahan. Seluruh prosesi tidak dibedakan dengan yang dilaksanakan di gedung mewah.
Sah, sah, alhamdulillah. Akad nikah pun sukses dilaksanakan, prosesi pencatatan nikah selesai. Sejenak kami diajak mencicipi kopi pahit dan makanan khas daerah pandegelang. “insya Allah kalau cuma kopi pahit tidak gratifikasi”, kata Kosim tersenyum. Sambil ngobrol ringan, Kosim pun memberi saran kepada mempelai agar membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Selesai “ritual suci” dirampungkan, mempelai pun menyalami para sanak saudara juga tamu yang hadir. Kepada bimasislam mempelai pria mengaku membayar pernikahan kepada KUA sebesar 600 ribu karena diluar kantor dan diluar jam kerja. “alhamdulillah prosesnya semua mudah dan lancar, kami bayar 600 ribu dan langsung disetor ke Bank”, terang mempelai pria. [syam/foto:bimasislam]
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



