Majalengka, Bimas Islam — Di tengah derasnya arus mudik Lebaran 1447 H/2026 M, Masjid Siti Hawa Sumberjaya, Majalengka, menjadi titik singgah yang tak hanya menawarkan tempat istirahat, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin bagi para pemudik. Letaknya yang strategis di pintu keluar KM 172 Sumberjaya, Tol Cipali, sekitar sepertiga awal perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Tengah, menjadikan masjid ini pilihan ideal untuk rehat pertama sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke arah Semarang dan Solo.
Bagi banyak pemudik, singgah di masjid bukan sekadar melepas lelah. Ada pengalaman batin yang tak jarang ikut menyertai. Cerita-cerita itulah yang setiap hari disaksikan langsung oleh Abdul Kohar, Sekretaris DKM Masjid Siti Hawa Sumberjaya, Majalengka.
Ia menuturkan, selama beberapa tahun terakhir, masjid ini semakin dirasakan manfaatnya oleh para musafir. “Masjid ini buka 24 jam. Tidak hanya untuk salat, tapi siapa saja boleh singgah, sekadar istirahat, bahkan untuk keperluan pribadi seperti MCK,” ujarnya di Majalengka, Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, karakter jemaah di masjid ini sangat khas. Sebagian besar adalah pemudik yang tengah dalam perjalanan jauh. Pada hari Jumat, misalnya, masjid dipenuhi jamaah dari berbagai daerah yang singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Kohar menyebut, dari interaksi sederhana itulah muncul kisah-kisah yang membekas. Ia pernah mendengar langsung pengakuan seorang pemudik yang awalnya hanya singgah untuk beristirahat, namun perlahan merasakan kedekatan dengan masjid. “Ada yang bilang, awalnya malu ke masjid, tapi karena sering singgah di sini, akhirnya justru rindu untuk kembali,” katanya.
Ia menjelaskan, masjid sengaja dikelola secara terbuka dan inklusif. “Tujuannya agar semua merasa ini rumah bersama,” tuturnya.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai ruang sosial dan dakwah. Berbagai kegiatan keagamaan rutin digelar, termasuk i’tikaf dan musyawarah jamaah. Kohar menilai, keberadaan masjid di jalur mudik memberi peluang besar untuk menghadirkan nilai-nilai keagamaan secara alami.
“Walaupun hanya singgah dan salat dua rakaat, itu tetap bernilai besar. Yang penting ada keyakinan, pemahaman, istiqamah, dan keikhlasan,” ujarnya.
Ia berharap, kehadiran masjid di jalur mudik tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat istirahat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan spiritual para pemudik di tengah perjalanan.
Bagi Maryam (40), pemudik asal Bekasi yang hendak menuju Klaten, keberadaan Masjid Siti Hawa menjadi penolong di tengah perjalanan panjang. Ia menempuh perjalanan sekitar 500 kilometer dari Jakarta menuju kampung halaman, dan memilih berhenti di Majalengka untuk beristirahat.
“Perjalanan jauh itu capek. Jadi pas sampai sini, rasanya lega sekali bisa istirahat di masjid yang nyaman,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (26/3).
Maryam mengatakan, ia memang sengaja mencari tempat istirahat yang aman dan tenang, terutama saat membawa keluarga. Menurutnya, masjid memberikan rasa nyaman yang sulit didapatkan di tempat lain.
Ia menilai fasilitas yang tersedia cukup membantu, mulai dari tempat ibadah yang bersih hingga area untuk beristirahat sejenak. Kehadiran masjid di jalur tol, lanjutnya, sangat memudahkan pemudik seperti dirinya.
“Di masjid itu rasanya lebih tenang. Bisa istirahat, bisa salat juga. Jadi badan lebih segar sebelum lanjut perjalanan,” katanya.
Maryam mengaku biasanya membagi perjalanan menjadi beberapa tahap agar tidak terlalu lelah. Titik Majalengka, menurutnya, menjadi lokasi yang pas untuk berhenti pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah.
Ia pun berharap, semakin banyak masjid di jalur mudik yang membuka layanan bagi pemudik. “Semoga masjid-masjid seperti ini semakin banyak. Jadi pemudik bisa lebih aman, nyaman, dan tetap ingat ibadah di perjalanan,” tuturnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



