Jakarta, bimasislam—Semakin ketatnya kebijakan penggunaan anggaran negara terkait bantuan sosial dalam lingkup kegunaan yang mengandung risiko sosial, tidak mengurangi komitmen Kementerian Agama untuk tetap mengalokasikan bantuan dana APBN setiap tahunnya untuk Masjid Istiqlal yang merupakan masjid negara. Risiko sosial seharusnya dipahami tidak sebatas bencana. Namun Masjid Istiqlal diharapkan dari tahun ke tahun selalu menjaga dan meningkatkan performa akuntabilitas laporan penggunaan bantuan operasional kepada Kementerian Agama. Masjid Istiqlal sebagai masjid negara dan masjid percontohan perlu terus mengembangkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah mahdhah dan pusat pemberdayaan umat melalui berbagai kegiatan yang dikelola. Demikian harapan yang disampaikan Pgs Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Prof. Dr. Abdul Djamil, MA dalam acara penandatanganan Berita Acara Serah Terima Bantuan Operasional Masjid Istiqlal di Kementerian Agama Jl. MH Thamrin 6 Jakarta (5/8).
Dalam kesempatan itu Dirjen didampingi Sekretaris Ditjen Bimas Islam Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Dr. Muchtar Ali, M.Hum, Direktur Pemberdayaan Zakat, serta pejabat dan staf terkait pada Direktorat Urais dan Bimbingan Syariah.
Dalam tahun anggaran 2014 Masjid Istiqlal mendapat bantuan operasional sebesar Rp 15 Milyar. Jumlah ini turun dibanding tahun 2013 sebesar Rp 22 Milyar.
Ketua Pelaksana Badan Pengelola Masjid Istiqlal, H. Mubarok, M.Si, dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa bantuan operasional dari Pemerintah melalui Kementerian Agama (Ditjen Bimas Islam) dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan utama masjid dan biaya pemeliharaan masjid kebanggaan umat Islam Indonesia yang telah berusia setengah abad itu.
Menurut mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji dan Sekjen Kemenag itu, Masjid Istiqlal selalu menjadi kunjungan tamu-tamu negara mengingat posisi masjid terbesar di Asia Tenggara ini sebagai “landmark Indonesia” dan “icon kebangsaan” umat Islam Indonesia, dan sekaligus “etalase Kementerian Agama”.
Sekilas sejarah Masjid Istiqlal, Solichin Salam dalam buku Masjid Istiqlal menulis, pada tanggal 7 Desember 1954 terbentuk Pengurus Harian Yayasan Masjid Istiqlal, dengan Ketua Umum H. Anwar Tjokroaminoto. Pembentukan Yayasan Masjid Istiqlal merupakan kesepakatan dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 200 orang ulama dan tokoh-tokoh Islam seluruh Jakarta Raya di bawah pimpinan K.H. Taufiqurrahman (tokoh Masyumi).
Pada 22 Februari 1955 diumumkan melalui surat kabar Sayembara Rencana Gambar Masjid Istiqlal. Ketua Panitia Sayembara ialah Mr. Assaat (mantan Presiden Negara Bagian RI yang berkedudukan di Yogyakarta, dulu Ketua Panitia Pembangunan Masjid Syuhada), dan Ketua Dewan Juri Presiden RI Ir. Soekarno. Pemenang pertama sayembara, arsitek F. Silaban, memakai sandi “Ketuhanan”. Pemenang kedua, R. Oetoyo, memakai sandi “Istighfar”. Pemenang ketiga, Hans Groenewegen dengan sandi “Salam”. Pemenang keempat dan kelima, masing-masing lima orang Mahasiswa ITB, memakai sandi “Ilham”, dan tiga orang Mahasiswa ITB, memakai sandi “Khatulistiwa”. Dewan Juri memutuskan karya arsitek F. Silaban sebagai pemenang, dengan catatan gambar tersebut harus disempurnakan.
Pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno dalam upacara resmi, Kamis, 24 Agustus 1961. Pembangunan Masjid Istiqlal berjalan lambat dan terhenti sampai jatuhnya pemerintahan Soekarno (Orde Lama). Panitia Pembangunan Masjid yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden RI beberapa kali diganti. Sampai tahun 1969 bangunan masjid masih merupakan pilar-pilar beton yang tegak berdiri tanpa atap. Pembangunan Masjid Istiqlal dilanjutkan pada masa pemerintahan Orde Baru. Presiden Soeharto turun tangan selaku Ketua Penyantun Masjid Istiqlal dengan menyediakan anggaran pembangunan sejak Pelita I hingga Pelita II.
Peresmian penggunaan Masjid Istiqlal oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Sebelum peresmiannya, untuk pertama kalinya Presiden Soeharto bersama para menteri dan ribuan umat Islam di Jakarta telah melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal pada tanggal 30 November 1970 (1 Syawal 1390). (mfns/foto:mfns)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



