Jakarta, Bimas Islam– Di malam Penganugerahan Kompetisi Film Islami Tingkat Nasional 2025, komika dan influencer Arie Kriting mengungkapkan pandangannya tentang peran film sebagai medium untuk menggambarkan kehidupan beragama di Indonesia. Acara yang digelar Kementerian Agama di Jakarta, pada Senin (10/11/2025), menjadi ajang apresiasi bagi sineas muda yang mengangkat nilai-nilai keislaman dalam karya.
Menurut Arie, film merupakan bentuk seni yang paling kompleks, mampu menggabungkan berbagai unsur artistik dalam satu kesatuan yang utuh. “Film itu dalam seni kami sebut sebagai medium paling puncak. Karena di film, kita bisa melihat kemampuan akting, mendengarkan musik, menikmati visual artistik, gambar, fotografi, dan warna—semuanya menyatu dalam satu karya sederhana,” kata Arie di atas panggung.
Arie juga menilai bahwa film memiliki kekuatan besar untuk mengabadikan realitas kehidupan beragama yang ada di Indonesia. “Dalam durasi 15, 30, atau 60 menit, film bisa mengabadikan kehidupan beragama di Indonesia. Memberikan ruang apresiasi untuk itu menurut saya tidak gampang. Jadi terima kasih banyak kepada Kementerian Agama yang sudah menghadirkan hal seperti ini,” tambahnya.
Menurut Arie Kriting, langkah Kementerian Agama ini sangat strategis. Dengan film, pesan-pesan keberagamaan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga dapat dirasakan melalui visual, emosi, dan pengalaman estetik. Pendekatan ini, katanya, dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang hidup di era digital.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengapresiasi pandangan Arie Kriting terhadap inisiatif Kementerian Agama. “Kami berterima kasih atas apresiasi Mas Arie Kriting. Pandangan beliau menunjukkan bahwa dunia seni, khususnya film, memiliki peran penting dalam memperkenalkan wajah keberagamaan yang damai, moderat, dan inspiratif. Kompetisi ini bukan sekadar lomba, tetapi juga upaya membangun ruang ekspresi yang mempertemukan nilai spiritual dengan kreativitas anak muda,” ungkap Zayadi.
Zayadi juga mengungkapkan, film merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan keberagamaan di era digital. “Kami ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam yang penuh nilai toleransi dan kemanusiaan dapat disampaikan dengan cara-cara yang indah dan kreatif, salah satunya melalui bahasa film,” jelasnya.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini diharapkan dapat memantik tumbuhnya ekosistem kreatif berbasis nilai keagamaan. Kementerian Agama berkomitmen untuk terus mendorong para kreator muda agar berani menghadirkan narasi keislaman yang segar, relevan, dan penuh makna. “Kami ingin film-film seperti ini menjadi ruang dialog budaya, bukan hanya tontonan. Ketika seni dan nilai-nilai agama berpadu, di situlah lahir karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan,” tutup Zayadi.
Fn/Mr



