Oleh:
Syafaat*
Sebuah kebanggaan bagi kami ketika ditunjuk untuk mendampingi anak-anak berbakat di Kabupaten Banyuwangi dalam pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Al-Qur’an yang juga dipersiapkan mengikuti Musabaqoh Makalah Al-Qur’an (MMQ), sebagai salah satu cabang MTQ di Indonesia. Meskipun hal ini bukan sebuah tujuan utama dari pelatihan ini, karena menjadi juara dalam karya tulis bukanlah hal yang utama, bagi seorang penulis, menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah karya tulis merupakan kepuasan tersendiri, terlebih Karya Tulis ilmiah Al-Qur’an, yakni menulis tentang problem sosial dengan pendekatan agama dengan kajian Al-Qur’an sebagai solusi pemecahannya. Karya tulis tersebut bukan hanya dapat dijadikan motivasi bagi para penulisnya untuk lebig giat belajar, namun karya tersebut dapat dibaca siapapun yang menginginkannya.
Tidak banyak remaja yang berminat mengikuti pelatihan Karya Tulis Ilmiah, terlebih dengan spesifikasi kajian Al-Qur’an, karena dalam kajian ilmiah yang dilaksanakan harus benar-benar komprehensif dan murni dari pemikiran sang penulisnya dengan landasan argumen dari beberapa referensi yang terpercaya. Para penulis ini dalam mengutip ayat Al-Qur’an benar-benar harus memahami makna yang terkandung didalamnya berdasarkan kajian kitab atau karya tulis yang dibacanya, tentang Asbabun Nuzul dari ayat tersebut, Asbabul Wurud dari Hadits dan kajian teoritis problem sosial yang menjadi pembahasannya.
Minat remaja dari berbagai pesantren, Madrasah, Sekolah dan perguruan tinggi atau remaja Banyuwangi yang menempuh study di luar daerah sangat terlihat ketika diadakan pelatihan KTI Al-Qur’an, mereka yang berada diluar kota rela pulang kampung dua hari untuk mengikuti kegatan yang diselenggarakan LPTQ Kabupaten Banyuwangi. Para remaja usia dibawah 22 tahun ini sangat antusias mengikuti kegiatan untuk menebarkan virus generasi Qur’ani melalui kajian dan tulisan ilmiah yang bersumber dari kitab suci. Semangat belajar menulis karya Ilmiah juga diminati oleh mereka yang usianya baru belasan tahun. Mereka tidak takut bersaing dengan para seniornya, karena dalam pelatihan ini tidak ada istilah persaingan, ilmu yang didapat dan diterapkan lebih bermanfaat daripada sekedar mendapat gelar sebagai sang juara.
Sebuah terobosan baru yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menggelar festival yang salah satunya adalah Festival Al-Qur’an, yang bukan hanya mengadakan khataman Al-Qur’an yang dilakukan di Instansi Pemerintah, namun melalui LPTQ Kabupaten juga memberikan edukasi kepada para pelajar dan mahasiswa untuk menjadi generasi yang cinta dan mempelajari tentang Al-Qur’an. Kegiatan ini dapat menumbuh kembangkan Literasi di Kabupaten Banyuwangi, karena bagi mereka yang menuliskan karya, maka akan merangsang untuk membaca dengan berbagai referensi untuk mendapatkan satu kesimpulan dari kajian ilmiah yang mereka lakukan.
Al-Qur’an sebagai sumber dari segala sumber hukum agama Islam, menjadi pedoman hidup bagi Umat Islam bukan sekedar berisi tentang pedoman beribadah saja, namun menjadikan induk bagi ilmu pengetahuan yang berisi tentang masa lalu dan masa yang akan datang, karenanya kajian yang didasarkan pada kitab suci ini tidak akan pernah berakhir, akan dinamis sesuai dengan perkembangan alur pemikiran manusia dan kondisi zaman. Karenanya menumbuh kembangkan kecintaan mempelajari Al-Qur’an dalam bentuk kajian ilmiah yang dituangkan dalam bentuk karya tulis sangat perlu dilakukan, yang diharapkan ada pemikiran baru dari para remaja ini yang didasarkan pada kajian kitab suci.
Moderasi beragama sebagai tema penulisan KTI tahun ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk, masyarakat Kabupaten Banyuwangi yang dihuni banyak etnis dan agama. Para penulis dituntut untuk membuat kajian ilmiah tentang kondisi tersebut, serta pandangan agama yang didasarkan pada Al-Qur’an dalam masalah tersebut, sehingga dapat diperoleh kajian moderasi beragama yang dapat diterima oleh semua pihak yang tidak bertentangan dengan pedoman hidup bagi umat beragama.
Perubahan besar-besaran dan sangat cepat yang terjadi di dunia, terutama dengan mewabahnya covid-19 menjadikan era disrupsi ini layak dijadikan kajian bagi para Remaja Islam. Hal ini dengan mengingat perkembangan tehnologi yang sanggup menembus batas ruang yang memungkinkan seseorang mendapatkan informasi serta melakukan sebuah kegiatan secara cepat, berbagai masalah baru yang belum terpikirkan sebelumnya bermunculan, hal ini patut dikaji secara ilmiah yang dikaitkan dengan yang terkandung dalam kitab suci.
Kita menyadari bahwa perubahan akan terus berlangsung, baik dengan atau tanpa kita, karena yang tetap dari perubahan hanyalah perubahan itu sendiri, karenanya hanya ada dua pilihan dari perubahan tersebut yakni kita berperan dalam perubahan tersebut ataukah hanya jadi penonton yang bisa jadi akan tergilas dengan adanya perubahan tersebut, karena dalam era disrupsi, bagi mereka yang eksis mengikuti perubahan sajalah yang akan bertahan, sedangkan bagi mereka yang stagnan dengan kondisi sebelumnya, lambat laun akan musnah diterjang perubahan.
Kajian perubahan dengan pendekatan Al-Qur’an sangat diperlukan dan dipelajari oleh para remaja, disamping agar semakin melekat kecintaannya terhadap kitab suci, juga untuk pengembangan pemikiran secara ilmiah para remaja, sehingga akan muncul para ilmuwan yang sangat berpegang teguh pada ajaran agamanya, para ilmuwan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pagangan utama dalam melakukan segala tindakan yang dilakukannya.
Pelatihan KTI Al-Qur’an yang dilakukan diharapkan memunculkan banyak penulis muda dari ujung timur pulau jawa ini. Hal ini tidaklah berlebihan dengan mengingat selama ini sudah banyak para penulis yang lahir dari Bumi Blambangan ini, karenanya sangat tidak mustahil bagi para penulis muda berbakat ini akan lahir berbagai karya tulis bernuansa religi yang terkenal hingga manca negara.
*Penulis adalah ASN pada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi



