Terik mentari menyiram Kota Padang, Sumatera Barat. Memasuki waktu Zuhur, terik itu kian menyengat. Mendekati puncaknya. Terlihat sekelompok warga berbusana Muslim kompak menuju satu lokasi. Masjid Raya Sumatera Barat. Ya, hari itu, Jum’at, hari yang disyariatkan untuk mendirikan Salat sebanyak dua rakaat di waktu Zuhur yang didahului dengan dua khutbah.
Meski di luar panas, di dalam masjid amatlah sejuk. Lantai bawah masjid sengaja dibuka untuk Salat Jum’at dan salat lima waktu mengingat lantai utama masih ditutup akibat pandemi covid-19. Menjelang masuk waktu Zuhur, ruangan salat sementara ini sudah ramai. Shaf diatur berjarak agar sesuai dengan anjuran phisycal distancing.
Tak selayak Jum’at biasanya, Jum’at (20/11/20) terasa istimewa. Jamaah lebih penuh. Meluber hingga ke sisi kanan-kiri-depan ruangan. Pasalnya, Jum’at kali ini bertepatan dengan malam penutupan gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-28 tahun 2020. Hal lain yang membuat Jum’at ini spesial, tak lain adalah kehadiran Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional, Professor Kamaruddin Amin. Sosok yang juga menjabat sebagai Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag ini didaulat sebagai Khatib Jum’at.
Tak hanya itu, didaulatnya Sekretaris LPTQ Nasional, Doktor Juraidi, sebagai Imam Salat Jum’at juga menambah kesan spesial. Apalagi, di deretan makmum ada Gubernur Sumatera Barat, Profesor Irwan Prayitno dan seluruh Ketua dan Pengurus LPTQ Provinsi dari seluruh penjuru tanah air.
Dari atas mimbar, Professor Kamaruddin Amin menyampaikan pesan-pesan kebangsaan yang aplikatif untuk diamalkan. Pesan-pesan kebangsaan yang barangkali mulai dilupakan oleh generasi kekinian yang kerap menamakan diri sebagai millenial.
Kamaruddin memulai khutbah dengan intonasi yang sedang, namun terdengar gagah. Penuh isi. Lelaki dengan perawakan sedang itu mengawali khutbah dengan mengingatkan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.
“Setiap manusia ditugaskan dan diamanahi untuk menjadi khalifah di muka bumi untuk mengurus dunia, mengurusi alam, mengurusi umat manusia dalam rangka menjalankan syariat Allah Ta’ala. Dalam melaksanakan amanah tersebut, Allah melengkapi kita dengan tiga hal yang sangat fundamental,” ungkap Kamaruddin, bertenaga.
Tiga instrumen yang dimaksudkan Kamaruddin adalah Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk, akal untuk mengelola dan menjalankan syariat, serta nurani yang menjadi sumber pencerahan dan inpirasi otentik.
Menjalankan amanah kekhalifahan ini, lanjut Kamaruddin, bukanlah perkara mudah. Untuk menempuhnya dibutuhkan sinergi dengan orang dan komponen lain dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Menurut Kamaruddin, peran kekhalifahan hanya bisa dijalani dengan sempurna ketika manusia hidup berbangsa dan bernegara.
“Berbangsa dan bernegara adalah upaya untuk menerjemahkan, mengaktualisasikan misi yang diberikan Allah kepada manusia untuk menjalankan syariat. Dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi, kita perlu berbangsa dan bernegara. Hanya dengan berbangsa dan bernegara amanah ini bisa dilaksanakan dengan baik,” tambahnya.
Kamaruddin menganalogikan dengan kaidah Ushul Fiqh yang menyatakan wajibnya suatu sarana jika dibutuhkan untuk melakukan suatu kewajiban. Karenanya, Kamaruddin berpendapat bahwa berbangsa dan bernegara merupakan suatu kewajiban jika dengannya peran kekhalifahan di muka bumi bisa dijalankan dengan sempurna.
“Kita wajib melaksanakan amanah Allah, dan untuk menjalankan amanah itu kita perlu berbangsa dan bernegara. Berbangsa dan bernegara hukumnya wajib. (Dalam kerangka itu), wajib bagi kita berbangsa dan bernegara untuk menjadi warga bangsa, warga negara yang baik,” ungkapnya.
Menjaga negara, tutur Kamaruddin, bukan hanya menjaga wilayah. Menjaga negara adalah menjaga ideologi dan melakukan semua faktor yang dibutuhkan untuk kemajuan sebuah bangsa. Ia mengingatkan agar semua anak bangsa berkembang secara optimal untuk berkontribusi di bidang sains, teknologi, pendidikan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
“Menjadi warga negara yang baik adalah manisfestasi kekhalifahan kita kepada Allah Ta’ala,” tegasnya.
Dengan intonasi yang tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, Kamaruddin mengambil inspirasi kecintaan kepada bangsa dan negara dari kehidupan Nabi Muhammad yang mulia. Nabi Muhamamd sangat mencintai Makkah sebagai tanah kelahirannya. Lelaki mulia ini pun merasakan kesedihan mendalam saat diperintahkan berhijrah ke Madinah. Tunduk patuhnya Nabi kepada perintah Allah untuk berhijrah, kata Kamaruddin, tidak sedikit pun mengurangi kecintaannya kepada Makkah sebagai tanah terbaik, tempat ia dilahirkan dari rahim Bunda Aminah binti Wahab.
Inspirasi lain yang digali oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag ini, adalah terkait perjanjian monumental antara Nabi dengan Kaum yahudi dan Nasrani setibanya di Madinah. Perjanjian yang dikenal dengan Piagam Madinah ini, kata Kamaruddin, memiliki kemiripan dengan Pancasila yang merupakan kesepakatan para pendiri Bangsa Indonesia.
“Ketika Rasullah sampai di Madinah, beliau membangun entitas politik yang sangat monumental dan dikenal dengan Piagam Madinah. Beliau membuat perjanjian politik dengan Kaum Yahudi Bani Quraizhah, Bani Nadhir, Bani Qainuqa, Kaum Nashrani, Muhajirin, dan Anshar sama-sama membangun entitas politik. Nabi mengatakan kepada kaum Muslimin: barangsiapa diantara kaum Muslimin yang membunuh orang-orang yang terikat dengan perjanjian Madinah maka haram baginya masuk surga. Rasulullah sangat marah jika Perjanjian Madinah dilanggar,” ungkap Kamaruddin, penuh penekanan.
“Jika kita ingin membandingkan Piagam Madinah dengan Pancasila, maka Pancasila adalah kesepakatan bersama antara para pendiri bangsa ini. Sehingga wajib bagi semua komponen bangsa untuk menjaga Pancasila dan Undang Undang Dasar sebagai kesepakatan bersama para pendiri bangsa,” lanjutnya.
Kamaruddin menyerukan agar menjadi warga bangsa yang baik, yang berkontribusi secara maksimal untuk bangsa dan negara dari bidang apa pun yang digeluti. Hanya dengan berkontribusi itulah peran kekhalifahan bisa dijalankan secara optimal.
Di titik ini, Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag itu menyampaikan pentingnya ilmu pengetahuan. Ia mengutip adanya riset yang menyatakan tentang korelasi antara tingkat intelektualitas dengan tingkat kontribusi seseorang kepada bangsa dan negara.
“Untuk berbangsa dan bernegara yang berkualitas harus didasari oleh ilmu pengetahuan. Semakin berilmu, semakin cerdas maka semakin berkualitas dalam berbangsa dan semakin berkualitas dalam berperan sebagai khalifah di muka bumi. Sejumlah fakta empiris menunjukkan, indeks pembangunan manusia berkorelasi signifikan dengan daya saing sebuah bangsa. Untuk menjadi khalifah yang baik harus memiliki kualitas personal yang bagus,” ujar Kamaruddin.
Di akhir khutbahnya, Kamaruddin mengingatkan bahwa semua jenis ibadah yang disyariatkan Allah merupakan wahana komunikasi intensif untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Berbagai jenis ibadah yang disyariatkan itu, kata Kamaruddin, merupakan hal yang amat personal antara seorang hamba dengan Tuhan Yang Maha Esa.
“Kita sebagai hamba Allah diberi instrumen untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seluruh amal ibadah yang diperintahkan Allah adalah medium komunikasi antara kita dengan Allah. Ketika kita melaksanakan salat, kita sedang melakukan komunikasi yang sangat intens dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin kita dekat dengan Allah semakin berkualitas kehidupan kita. Mari kita meresapi dalam melaksanakan ibadah sebagai instrumen komunikasi kepada Allah,” tambahnya.
Seketika setelah Kamaruddin mengakhiri khutbahnya, muadzin lekas mengumandangkan iqamah. Tak lama berselang, Sekum LPTQ Nasional, Doktor Juraidi maju ke tempat imam untuk memimpin Shalat Jum’at. Lantunan surat Al-Anfal ayat 20 sampai 23 pada rakaat pertama dan surat Al-Anfal ayat 24 sampai 26 pada raka’at kedua menambah suasana khusyuk sekaligus membangkitkan semangat ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, juga semangat berkontribusi untuk bangsa dan negara Indonesia yang tengah diuji dengan pandemi covid-19 serta berbagai persoalan pelik lainnya.
(Tim Media MTQ Nasional 2020)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



