oleh:
Ahmad Munir*
Suasana Idul Adha kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kegembiraan merayakannya harus dibatasi dengan kewaspadaan dan sikap kehati-hatian yang ekstra. Hal ini karena hari raya Idul Adha masih dalam suasana pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia dan mempengaruhi hampir semua segi kehidupan.
Selain dampak pada pelaksanaan ibadah kurban, pandemi ini juga sangat terasa di ruang keluarga. Interaksi antar anggota keluarga yang intens karena anjuran untuk lebih banyak tinggal di rumah meniscayakan komunikasi yang baik demi terwujudnya pola hubungan yang harmonis.
Idul Adha atau Idul Qurban sesungguhnya memiliki nilai dan semangat yang dapat dijadikan energi untuk mengelola ketahanan keluarga di tengah musibah pandemi ini. Pertama, dari sisi sejarah, syari’at qurban merupakan napak tilas syari’at Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang mengajarkan tentang nilai ketaatan yang total dan keikhlasan yang tulus. Ketika Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah Swt melalui ta’bir mimpinya untuk menyembelih puteranya, Ismail, maka dengan penuh ketundukan dan ketaatan ia menjalankan perintah itu.
Pun demikian dengan Nabi Ismail. Tatkala diberi tahu tentang kabar perintah itu dan ditanya tentang sikapnya, Nabi Ismail menjawab dengan tegas: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Peristiwa sejarah tersebut memberikan pelajaran penting dalam keluarga bahwa spiritualitas menjadi landasan pokok dalam membangun ketahanan keluarga. Nilai-nilai dan doktrin agamalah yang akan menjadi benteng terkuat dalam menghadapi gelombang permasalahan dalam keluarga. Spiritualitas juga menjadikan pola hubungan dalam keluarga menjadi dinamis dan harmonis.
Kedua, Idul Qurban juga mengajarkan bagaimana pelaksanaan ibadah selayaknya dilandasi rasa syukur. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar: 1-3).
Ayat tersebut dengan sarih menerangkan antara keterkaitan syukur dengan ibadah. Tatkala, Allah menjelaskan tentang kenikmatan yang banyak, lalu diperintahkan untuk ibadah. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah seharusnya dilambari dengan rasa syukur.
Pelajaran penting dalam mengelola kehidupan keluarga adalah rasa syukur atas anugerah dalam keluarga. Keberadaan anggota keluarga harus disyukuri sehingga akan memberikan energi positif dan komunikasi yang konstruktif. Bukan justru saling menegasikan peran antar anggota keluarga.
Rasa syukur atas keberadaan dan peran antar anggota keluarga ini akan membangun kepercayaan dan saling menghormati peran masing-masing. Selain itu, pesan ayat tersebut juga seharusnya menjadikan setiap aktivitas dalam kehidupan keluarga dapat bernilai ibadah. Apapun peran anggota keluarga tersebut.
Ketiga, ada nilai kemanusiaan yang hadir dalam perintah menyembelih hewan kurban dan diperintahkan untuk membaginya kepada fakir-miskin dan sesama. Betapa indahnya ajaran Rasulullah SAW tentang kepedulian sosial melalui pembagian daging hewan kurban. Shahibul Qurban dilarang mengambil daging hewan kurban melebihi sepertiga, ini memberikan gambaran bahwa berbagi kepada sesama merupakan hal penting yang ingin disampaikan Rasulullah melaui risalah kurban.
Ini mengajarkan kemanusiaan dan kepedulian sosial harus dibangun dalam kehidupan keluarga. Kebahagiaan tidak boleh dimonopoli sendiri, tetapi haruslah juga dirasakan sesamanya. Bahkan, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa etika orang kaya (aghniya’) adalah memiliki empati dan kasih sayang kepada kaum fakir, membantunya dalam kebaikan, dan tetap menjaga keistiqomahan untuk bersyukur.
Dengan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ajaran kurban, selayaknya menjadikan ketahanan keluarga semakin tangguh dengan landasan spiritual dan sosialnya. Semoga.
*Penyuluh Agama Islam Ahli Muda Kementerian Agama Kab. Gunungkidul, DI Yogyakarta



