Jakarta, bimasislam—Dalam ceramah pembinaan pegawai sekaligus perpisahan akhir tugas Dirjen Bimas Islam, Prof Machasin, karena memasuki usia pensiun di Auditorium HM. Rasyidi Kemenag (31/10), KH. Manarul Hidayat berpesan kepada seluruh pegawai agar menjaga amanah dan menjadi contoh bagi lembaga pemerintah yang lain. Menurutnya, Bimas Islam itu unit pemerintah yang banyak bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat, sehingga perlu menjaganya dengan baik.
“Saya mau ceramah apa yah di sini. Ini kan Kementerian Agama. Semua orang pinter agama. Mau ngajarin apa lagi saya? Tapi sih saya yakin, Bimas Islam sebagai unit yang melayani umat secara langsung dapat menjadi contoh bagi yang lain. Pak Machasin sebagai guru saya orangnya kalem. Ambillah yang bagus-bagus dari beliau”, tegas penceramah yang semangat berdakwah ini.
Satu hal pokok yang disampaikan oleh kyai yang memiliki candaan khas ini adalah perlunya semua pihak menjaga keluarga masing-masing. Keluarga adalah benteng dari keutuhan negara dan bangsa. Jika keluarga-keluarga hancur, maka negara dipastikan juga hancur. Sehingga, dari para anggota keluarga harus saling topang untuk menegakkan martabat keluarga agar dapat terjaga utuh, khususnya peran seorang isteri atau ibu.
“Keluarga itu tiang negara. Kalau keluarga-keluarga Indonesia banyak yang hancur, cerai berai, maka negara dan bangsa terancam. Namun, peran yang sangat penting dalam keluarga adalah seorang isteri atau ibu. Meski suami atau bapaknya telah meninggal dunia, tetap saja anak-anaknya akan terurus. Lain halnya kalau isteri atau ibu meninggal lebih dulu, maka hampir pasti anak-anak tidak terurus. Kenapa suami lebih banyak mati duluan? Karena isterinya cerewetnya minta ampun”, candanya dengan disambut tawa hadirin.
Lebih lanjut kyai Manarul menambahkan, bahwa peran seorang ibu, meski sendiri (berstatus janda) sangat besar bagi pendidikan dan perkembangan anak-anaknya. Tidak sedikit para pemimpin di dunia ini yang besar di tangan para ibu-ibu, bahkan berstatus janda.
“Peran seorang ibu itu luar biasa bagi perkembangan anak. Pemimpin besar seperti Nabi Muhammad sudah ditinggal bapaknya sejak kecil. Artinya beliau diasuh oleh seorang ibu. Demikian juga Soekarno, Gusdur, pak Harto, dan lain-lain. Mana ada tokoh besar yang diasuh oleh seorang duda”, ujarnya dengan penuh semangat.
Kegiatan pembinaan dan perpisahan akhir tugas Dirjen Bimas Islam dihadiri oleh seluruh pejabat dan staf di lingkungan Ditjen Bimas Islam sekitar 300 orang. Acara diakhiri dengan berfoto bersama dan bersalaman sebagai tanda perpisahan antara pegawai dengan pak Machasin. Pak Machasin akan kembali mengajar sebagai guru besar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di UIN Suka Jugjakarta.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



