Jombang, bimasislam—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Agil Siradj menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah suatu aliran baru, bukan mazhab baru, atau firqah baru. Islam nusantara menjadi ciri khas Islam-nya orang-orang nusantara, yaitu melebur secara harmonis dengan budaya nusantara, syara’, kearifan yang tak melanggar syara’, digunakan untuk dakwah Islam di nusantara.
Hal itu disampaikan Said Agil saat memberikan sambutan pada pembukaan Muktamar NU ke-33 yang berlangsung di Alun-alun Kota Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8) malam. Hadir pada acara pembukaan, Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, Mantan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarno Putri, Istri mendiang Gus Dur, Shinta Nuriah Abdurrahman, beberapa Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Jatim, Soekarwo, para Kyai dari berbagai daerah, dan perwakilan Duta Besar Negara Sahabat.
Kedepan, Said Aqil melanjutkan, perlunya menguatkan Islam ahlussunnah wal jamaah dan meneruskan perjuangan Wali Songo, yaitu memperjuangkan Islam yang santun dan mengedepankan hati nurani, Islam yang memanusiakan manusia, dan cinta tanah air.
Sementara itu, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Mustofa Bisri saat menyampaikan Khutbah Iftitah, mengatakan kalau muktamar kali ini sangat istimewa karena diadakan di bulan Syawal sekaligus bulan Agustus dan mengajak semua pengurus hindari perselisihan.
“Bulan Syawal adalah saat-saat umat Islam bergembira menyukuri idul fitri dan melakukan silaturahim serta halal bihalal khas Islam Nusantara, kita juga memasiki bulan Agustus dan sebentar lagi akan memperingati kemerdekaan yang ke-70, semoga semua komponen bangsa diberi hidayah agar tetap menjaga persatuan bangsa guna mencapai cita-cita baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, ujar Kyai yang akrab disapa Gus Mus.
Di akhir khutbah iftitahnya, Gus Mus mengutip sebagian pesan Rais Akbar NU, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari saat menyampaikan ceramah idul fitri tahun 1357 H silam. “Kami sangat mengharap dari warga jam'iyyah NU untuk menjaga kekompakan hati dan menjauhi sesuatu perselisihan, yang menyebabkan kegagalan dan kekalahan, warga NU dan bangsa Indonesia menunggu khidmah kita sekalian,” pungkas Gus Mus.
Disaat yang sama, puluhan ribun warga nahdliyin menyemut disekitar arena Muktamar yang menyaksikan jalannya pembukaan melalui layar lebar yang berada di sisi utara alun-alun. Pembukaan sendiri diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, sholawat, pembacaan puisi dan diakhiri menyanyikan lagu Indonesia pusaka yang diiringi seribu santri dari empat pondok besar yang ada di Jombang. (syam/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



