Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag
(Kasubdit Pembinan Syariah dan Hisab Rukyah Kemenag RI)
Menurut sebuah riwayat, Kyai Saleh Darat adalah salah satu dari tiga ulama yang berasal dari Pulau Jawa yangsangat masyhurdalamkeilmuan. Beliaumempunyaibanyak santriyang menjadi ulama-ulama besar. Tiga orang ulama yang bersahabat, yang dimaksudkan adalahSyekh Muhammad Nawawi al-Bantani yang dikenalImam Nawawi ats-Tsani (lahir 1230 H/1814 M, wafat 1314 H/1896 M), Muhammad Khalil bin Kyai Abdul Lathif (lahir 1235 H/1820 M) dan Kyai Haji Saleh Darat yang lahir di Kedung, Jepara, tahun 1235 H/1820 M, wafat di Semarang, hari Jumaat, 29 Ramadhan 1321 H/18 Disember 1903 M).Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga hidup sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama yang berasal dari Patani sepertiSyekh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (lahir 1233 H/1817 M, wafat 1325 H/1908 M), Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (lahir 1234 H/1818 M, wafat 1312 H/1895 M). Mereka juga seperguruan di Mekah dengan Syekh Amrullah (Datuk dariProf. Dr. Hamka) yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.
Kebesaran Kyai Saleh Darat
Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pejuang Islam yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan jihad melawan penjajah Belanda, yaitu Kyai Haji Umar. Karena itu, Saleh Darat memperoleh ilmu asas dari ayahnya sendiri. Kemudian beliau belajar kepada Kyai Haji Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Kemudian, dibawa ayahnya ke Semarang untuk belajar kepada beberapa ulama, diantara mereka adalah Kyai Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kyai Haji Ishaq Damaran, Kyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (Mufti Semarang), Kyai Haji Ahmad Bafaqih Ba'alawi, dan Kyai Haji Abdul Ghani Bima.Ayahnya Kyai Haji Umar sangat inginmenjadikan anaknya itusebagai ulama yang berpengetahuan, sekaligus berpengalaman. Berawal dari pendidikan agamadi pondok pesantren di Jawa, pada suatu waktu Saleh Daratdiajak merantau ke Singapura. Beberapa tahun kemudian, bersama ayahnya, beliau berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.
Ayahnya wafat di Mekah. Saleh Darat mengambil keputusan dengan bertawakal kepada Allah untuk tinggal di Mekah karena mendalami pelbagai ilmu kepada beberapa orang ulama di Mekah pada zaman itu. Di antara gurunya ialah: Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi, Sayid Muhammad Saleh bin Sayid Abdur Rahman az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar asy-Syami, Syekh Yusuf al-Mishri dan Syekh Jamal Mufti Hanafi.
Setelah beberapa tahun belajar, di antara gurunya yang tersebut memberi izin beliau mengajar di Mekah sehingga banyka muridyang datang dari dunia Melayu menjadi muridnya. Di antara muridnya sewaktu beliau mengajar di Mekah ialah Kyai Haji Hasyim, Kyai Haji Bisri Syansuri, dan masih banyak lagi. Beberapa ulama yang tersebut itu, adalah Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Umar asy-Syami adalah ulama-ulama yang mengajar di Masjid al-Haram, Mekah dalam tempoh masa yang sangat lama, sejak ulama yang sebaya dengan Syekh Nawawi al-Bantani, Kyai Haji Saleh Darat, Syekh Muhammad Zain al-Fathani dan lain-lain, hinggalah ulama-ulama peringkat Syekh Ahmad al-Fathani. Kyai Saleh Darat sebaya umurnya dengan ayah Syekh Ahmad al-Fathani, namun sama-sama seperguruan dengan ulama-ulama Arab yang tersebut di atas.
Setelah menetap di Mekah beberapa tahun belajar dan mengajar, Kyai Saleh Darat terpanggil pulang ke Semarang karenabertanggungjawab dan ingin berkhidmat terhadap tanah tumpah darah sendiridengan semangatHubbul wathan minal iman.Sebagaimana tradisi ulama dunia Melayu terutama ulama Jawa dan Patani pada zaman itu, bahwa setelah pulang dari Mekah untuk merintispusat pengajian pondok. Kyai Saleh mengasaskan pondok pesantren di daerah darat yang terletak di pesisir pantai kota Semarang. Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelaran Kiyai Saleh Darat Semarang.
Dengan merintispondok pesantren itu nama Kiyai Haji Saleh Darat menjadi lebih terkenal di seluruh Jawa, terutama Jawa Tengah. Banyak santribeliau yang menjadi ulama dan tokoh yang terkenal, di antara mereka ialah: Kyai Haji Hasyim Asy'ari (ulama besar di Jawa, beliau termasuk salah seorang pengasas Nahdhatul Ulama), Kyai Haji Muhammad Mahfuz at-Tarmasi (seorang ulama besar dalam Mazhab Syafie yang sangat ahli dalam bidang ilmu-ilmu hadis), Kyai Haji Ahmad Dahlan (pengasas organisasi Muhammadiyah), Kyai Haji Idris (pendiriPondok Pesantren Jamsaren, Solo), Kyai Haji Sya'ban (ulama ahli falak di Semarang) dan Kyai Haji Dalhar (pengasas Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang). Raden Ajeng Kartini yang menjadi simbol kebangkitan kaum perempuan Indonesia juga adalah santriKyai Saleh Darat.
Tiga orang di antara santribeliau yangdisahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, ialahKyai Haji Ahmad Dahlan (1868 M - 1934 M), dengan Surat Keputusan Pemerintah RI, No. 657, 27 Disember 1961, dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Hadhratusy Syekh Kiyai Haji Hasyim Asy'ari (1875 M - 1947 M), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 294, 17 November 1964 dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan Raden Ajeng Kartini (1879 M - 1904 M), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 108, 12 Mei 1964 dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.SantriKyai Haji Saleh Darat yang sangat terkenal di peringkat antarbangsa karenabanyak karya yangmenjadi rujukan ialah Kyai Haji Muhammad Mahfuz at-Tarmasi atau menggunakan nama lengkap Syekh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi (1285 H/1868 M - 1358 H/1939 M). Dua buah karyanya yang besar dan sangat terkenal dalam bahasa Arab ialah Muhibah Zawin Nazhar syarah Kitab Ba Fadhal merupakan kitab fikah Mazhab Syafie yang ditulis dalam empat jilid tebal. Dan sebuah lagi Manhaj Zawin Nazhar merupakan syarah kitab hadis membicarakan ilmu mushthalah dan lain-lain yang ada hubungan dengan hadis.
Karya Kyai Saleh Darat
Di antara karangan Kyai Haji Saleh Darat as-Samarani yang telah diketahui adalah seperti berikut:Kitab Majmu'ah asy-Syari'ah al-Kafiyah li al-'Awam, kandungannya membicarakan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam. Kitab Munjiyat, kandungannya tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihya' `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali. Kitab al-Hikam, kandungannya juga tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting daripada Kitab Hikam karangan Syeikh Ibnu `Athaullah al-Askandari.
Kitab Latha'if at-Thaharah, kandungannya membicarakan tentang hukum bersuci. KitabManasik al-Hajj, kandungannya membicarakan tatacara mengerjakan haji. Kitab ash-Shalah, kandungannya membicarakan tatacara mengerjakan sembahyang. Tarjamah Sabil al-`Abid `ala Jauharah at-Tauhid, kandungannya membicarakan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, mengikut pegangan Imam Abul Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
Mursyid al-Wajiz, kandungannya membicarakan tasawuf atau akhlak.Kitab Minhaj al-Atqiya', kandungannya juga membicarakan tasawuf atau akhlak.Kitab Hadis al-Mi'raj, kandungannya membicarakan perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dari Mekah ke Baitul Maqdis dan selanjutnya hingga ke Mustawa menerima perintah sembahyang lima kali sehari semalam. Kitab ini sama kandungannya dengan Kifayah al-Muhtaj karangan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.
Kitab Faidhir Rahman, kandungannya merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Kitab ini merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Jawa di dunia Melayu. Menurut riwayat, satu naskhah kitab tafsir tersebut pernah dihadiahkan kepada Raden Ajeng Kartini ketika berkahwin dengan R.M. Joyodiningrat (Bupati Rembang).Kitab Asrar as-Shalah, kandungannya membicarakan rahasia-rahasia shalat.
Hampir semua karya Kyai Haji Saleh Darat ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Arab (Pegon atau Jawi); hanya sebagian kecil yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian besar kitab-kitab yang tersebut sampai sekarang terus diulang cetak oleh beberapa percetakan milik orang Arab di Surabaya dan Semarang. Hal ini karena masih banyak diajarkan di beberapa pondok pesantren di pelbagai pelosok Jawa Tengah.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



