Tanjungpinang, bimasislam – "Manfaatkan tanah meski sejengkal, dan air meski setetes". Itulah pesan seorang tokoh panutan yang memberikan kesan mendalam bagi Kyai Supeno, Penyuluh Agama Non PNS Kementerian Agama Tajung Pinang Kota dalam berdakwah saat berbincang hangat dengan bimasislam (10/10).
Kalimat sederhana itu telah memberikan "energi" bagi kehidupan Kyai Supeno. Saat kebanyakan orang mengeluh dengan segala kekurangan dalam berdakwah, Kyai Supeno justru membangun kekuatan dengan tekad bulat. Baginya, waktu yang terus berjalan pasti akan selalu memberikan harapan baik bagi dirinya.
"Bagi saya, hari esok pasti lebih baik dari hari ini", katanya kepada bimasislam.
Menurutnya, manusia pasti mampu melewati cobaan-cobaan hidupnya karena semuanya telah diukur oleh Allah.
"La yukallifullahu nafsan illa wus'aha" (Allah tidak memberi cobaan kepada seseorang kecuali dia mampu menghadapinya).
Itulah kenapa, sosok Kyai Supeno selalu optimis dalam menjalani hidupnya sebagai pendakwah pendatang di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Dibesarkan dalam lingkungan pesantren di wilayah Tapal Kuda, Banyuwangi Jatim, Kyai Supeno membawa mandat berat untuk membangun dan mengembangkan pesantren Al-Kautsar Cabang Tanjung Pinang pada tahun 2006 dengan modal cekak. Gerak langkah yang serba terbatas membuatnya terus berpikir keras. Merajut puing-puing harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Tidak ada kamus putus asa dalam hidupnya. Yang ada dalam benaknya adalah kerja dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Porsi manusia adalah berikhtiar, dan Allah yang menentukan. Begitulah kira-kira filosofi lelaki setengah baya ini.
Pria bersarung dan berpeci khas Nahdliyyin ini pelan tapi pasti membangun pesantren dengan penuh keyakinan, setapak demi setapak. Dengan mengandalkan tekad kuat dan jejaring yang dimiliki, dirinya mengawali pembangunan dua lokal pesantren dengan modal minim dari Pesantren Al-Kautsar induk.
"Saat pertama kali dibuka, hanya 5 calon santri yang mendaftar, sementara ada 20 guru (ustad) yang dibawa dari Jawa. Bisa dibayangkan saat itu, bagaimana saya harus melakukan apa, karena guru yang mau mengajar lebih banyak dari santrinya, hehe...", katanya.
Namun kondisi tersebut menjadi pemacu pihaknya untuk terus berinovasi dan berikhtiar semaksimal mungkin agar menemukan jalan mudah sehingga pesantren idamannya benar-benar berdiri dan berkembang.
Beberapa cara awal yang dilakukan diantaranya melaksanakan pesan gurunya, yaitu memanfaatkan lahan kosong pesantren untuk dikelola secara produktif.
"Tanah kosong di sekitar pesantren saya kelola dengan menanami palawija agar memberi manfaat. Setidaknya bisa untuk keperluan sehari-sehari para santri dan guru", tegasnya.
Itulah awal yang dilakukan Kyai Supeno untuk memberikan optimisme dakwahnya. Tidak ketinggalan, para santri dan guru-guru juga didorong agar mengikuti jejaknya melakukan berbagai inovasi dan kreatifitas kerja, selain mengelola lahan kosong tentu saja. Dengan cara inilah kelak menjadi bekal para santri menjadi pribadi mandiri, dan dapat berkontribusi "menghidupi" pesantren dan masyarakat tanpa bergantung pada pihak lain.
Seiring dengan waktu, pesantren terus berkembang. Program pemberdayaan melalui pendidikan keterampilan Life Skill, meliputi pertanian (sayur-sayuran), perikanan, tata boga (kek pisang, kek ubi, kue bawang, kue keju, keripik, roti), meubeler, pavling dan batako.
Salah satu pemberdayaan ekonomi pesantren yang menjadi bagian dari usaha produktif adalah pabrik roti dengan brand Al-Kautsar.
"Selain untuk memenuhi kebutuhan para santri dan guru saat sarapan pagi, produk roti Al-Kautsar juga disetorkan ke beberpa gerai terdekat. Kami juga menerima pesanan dari masyarakat untuk kebutuhan hajatan dan semacamnya", imbuhnya.
Saat bimasislam mencicipi produk roti Al-Kautsar rasanya enak, tidak kalah dengan roti merk-merk ternama, semisal Sari Roti, My Roti, atau semacamnya. Selain rasa, roti yang dibuat oleh para santri ini sudah pasti halal dan higienis (bersih).
Ada satu usaha yang juga sangat diandalkan oleh Kyai Supeno sebagai pilar ekonomi pesantren, yaitu pengelolaan koperasi yang menjual kebutuhan-kebutuhan 175 santri dengan omset tidak kurang dari 800 juta rupiah dalam serahun.
"Dari sektor koperasi yang kami kelola dari dan untuk santri omsetnya tidak kurang dari 800 juta rupiah. Ini luar biasa. Ekonomi pesantren jika dikelola dengan baik akan menghasilkan keuntungan besar dan hasilnya bisa untuk subsidi belajar mengajar pesantren", urainya.
Sebagai pimpinan pesantren yang memiliki visi besar, Kyai Supeno menerapkan sistem pendidikan modern, yaitu penggabungan sistem salafiyah dengan modern diantaranya pendirian SMP, madrasah diniyah, pengajian takrar (ulang), penerapan bahasa Arab-Inggris sehari-hari, dan penerapan keterampilan life skill. Seluruh santri yang belajar di pesantren harus bermukim di asrama agar target pembelajaran tercapai.
"Sistem pendidikan di pesantren Al-Kautsar itu gabungan salafiyah dan modern untuk menjawab kebutuhan zaman. Agar tujuan pendidikan efektif dan efisien, kami menerapkan aturan bahwa semua santri harus bermukim di asrama, meski rumahnya ada di sekitar pesantren sekalipun.
Sebagai bagian dari penyuluh agama Non PNS, Kyai Supeno juga mendarmabaktikan kepada masyarakat sekitar pesantren. Selain metode ceramah dalam pengajian, hal yang juga dilakukan adalah melalui pemberdayaan ekonomi umat dalam bentuk agrobisnis holtikultura sebagaimana diterapkan di pesantren.
"Khidmat kami untuk masyarakat sekitar pesantren adalah mendorong masyarakat dapat mengembangkan usaha agrobisnis holtikultura. Bisnis ini sangat menjanjikan dan sangat cocok dengan letak lahan yang dekat dengan sumber mata air yang mempermudah proses pengairan. Dengan cara dakwah bilhal ini kami ingin mengangkat perekonomian masyarakat sekitar pesantren", ujarnya.
Kyai Supeno bercerita, kalau dirinya sering memberi motivasi kepada penduduk sekitar agar mau memanfaat lahan di sekitar rumah dengan menanam palawija atau sayuran yang bisa dijual atau dikonsumsi sendiri. Hal ini dia lakukan agar masyarakat tidak bergantung pada pihak lain, malah bisa memberikan kontribusi secara ekonomi.
"Ada seorang tukang ojek yang sudah dijalani lebih dari 10 tahun. Hari demi hari dia bekerja narik penumpang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah saya dekati dan berikan motivasi agar mau menanam tanaman di lahan yang nganggur dan saya berikan modal, sekarang dia sudah sukses. Asetnya sudah mencapai milyaran. Kuncinya, selama kita mau bekerja keras dan banyak inovasi dan keratifitas, maka Allah pasti akan memberikan jalan terbaik buat kita", urainya dengan penuh filosofi.
Kini, pesantren Al-Kautsar yang dirintisnya telah berkembang pesat, memiliki jumlah santri sebanyak 175 orang. Kyai Supeno mengaku tidak mengejar target jumlah santri yang banyak, tetapi menjaga kualitas yang paling diutamakan. Dia telah berhitung, jumlah santri yang banyak tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas, sehingga benar-benar menjadi lembaga pendidikan yang bisa bersaing (kompetitif).
"Santri-santri saya menguasai dua bahasa, Arab-Inggris. Alhamdulillah mereka percaya diri jika ada kunjungan atau studi banding dari luar negeri, misalnya yang sering itu dari sekolah-sekolah dari Singapura. Anak-anak nyambung ngobrol dengan mereka, dan tamu-tamu sangat terkesan dengan kami. Intinya kami mendidik santri dengan menjaga kualitas pendidikan, bukan jumlah (kuantitas) santri yang belum tentu berkualitas", tambahnya.
Bapak tiga anak ini tetap memiliki visi besar untuk mengembangkan pesantren Al-Kautsar untuk menyediakan lembaga pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, yaitu Madrasa Aliah dan mungkin juga Perguruan Tinggi.
Itulah sosok Penyuluh Agama Islam Non PNS yang telah berkontribusi bagi pembangunan SDM melalui wisdom pesantren. Bimasislam sangat terkesan dengan kepribadiannya yang humble, ramah, dan teguh pada prinsip. Akhirnya bimasislam harus berpisah dengan Kyai Supeno yang sangat menginspirasi, sangat atusias mengiringi crew bimasislam dengan alasan untuk berkhidmat kepada tamu, hingga kami berpisah di bandara Tanjung Pinang.
Selamat berjuang pak Kyai, semoga harapan, cita-cita, dan kerja kerasmu selalu didengar oleh Sang Pemilik alam ini. Sukses selalu untuk mendarmabaktikan ilmu dan wisdom untuk agama dan negeri.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



