Ciamis, bimasislam—Tradisi Kerajaan Islam Jawa kuno, masjid dibangun dalam lanskap pembangunan sistem kenegaraan secara integral, yaitu menyatunya masjid, gedung pemerintahan (keraton), pasar (pusat ekonomi masyarakat), alun-alun (lapangan) sebagai pusat pertemuan massa untuk menyelenggarakan berbagai even-even keagamaan dan budaya seperti di Solo, Yogyakarta, Cirebon, Semarang, Demak, dan lain-lain.
Kerajaan-kerajaan Islam pada saat itu memebangun gedung untuk urusan negara dan agama menyatu dalam satu naungan agama (Islam), yang pemimpinnya disebut dengan Notogomo dan Nonegoro (pengelola agama dan negara). Pada konteks ini, masjid menjadi satu kesatuan kehidupan masyarakat dalam rangka menciptakan kesalehan individual dan sosial secara bersamaan.
Saat bimasislam berkunjung ke Ciamis menemukan sebuah potret yang menarik di sebuah desa bernama Bojongmengger. Terletak di jalan raya Ciamis. Disamping gedung kelurahan, terdapat gedung ruang pertemuan desa yang diperuntukkan bagi warga untuk rapat atau berkumpul. Sederet dengan gedung itu berdiri sebuah Masjid Jami’ Baiturrahim yang memuat jamaah kira-kira 200 orang. Pada saat siang hari nampak terang dan bersih. Di depannya terdapat sebuah alun-alun sebagai parkir motor dan mobil yang juga dijadikan tempat para pedagang kecil berjualan.
Menurut salah satu warga bernama Aminah, bahwa tempat ini enak untuk sekedar duduk-duduk santai bersama keluarga. Apalagi ada jajanan dan beberapa toko ritel sepanjang pinggir jalan raya, sehingga bisa untuk tempat mampir dengan berbagai keperluan.
“Asyik lah di sini, bisa santai-santai, dekat dengan masjid. Kalau shalat dekat. Kalau ada keperluan di kantor kelurahan juga dekat. Saya suka datang kesini”, ungkap Aminah kepada bimasislam. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



