Oleh:
Ahmad Fauzi*
Apa makna layanan prima bagi masyarakat hari ini?
Di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas layanan pemerintah, kata "pelayanan prima" seharusnya tak lagi sekadar jargon penghias banner atau kalimat pembuka dalam pidato seremonial. Ia harus hadir nyata—dirasakan, bukan dibayangkan.
Itulah semangat utama yang digaungkan dalam Workshop Pembangunan Budaya Pelayanan Prima yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama, pada 24–26 Juli 2025 di Kabupaten Sleman, DIY. Workshop ini mempertemukan puluhan ASN dari Ditjen Bimas Islam, Kanwil Kemenag DIY, serta KUA dan Kantor Kemenag Kabupaten Sleman dalam satu titik refleksi dan pergerakan: bagaimana menjadikan pelayanan publik keagamaan sebagai wajah Kementerian Agama yang berdampak, ramah, dan berintegritas.
Dalam pemaparan inspiratifnya, Direktur Jenderal Bimas Islam Prof. Abu Rokhmad, mengatakan bahwa layanan prima bukan hanya kecepatan dan prosedur, tapi juga tentang sikap, komunikasi, dan empati. Masyarakat kini tak hanya menuntut urusan cepat selesai, tapi juga ingin merasa dihargai dan dimanusiakan dalam proses pelayanan.
"Pelayanan prima harus berdampak, harus terasa. Bukan hanya checklist administratif, tapi menyentuh langsung kehidupan masyarakat," tegas Prof. Abu dalam sesi kebijakan layanan yang disampaikannya.
Menariknya, workshop ini juga menghadirkan sosok yang familiar di layar kaca: Cholidi Asadil Alam, aktor pemeran "Azam" dalam film Ketika Cinta Bertasbih, yang kini aktif sebagai pendakwah dan motivator. Kholidi hadir sebagai bagian dari tim fasilitator untuk membawakan sesi motivasi pelayanan spiritual.
Dalam wejangannya, Kholidi menyentuh sisi paling dalam dari pelayanan: niat. “Kalau niat kita benar, insyaAllah kerja kita jadi ibadah. Kita ini bukan sekadar melayani administrasi, tapi sedang melayani umat Allah,” ucapnya yang langsung disambut hangat oleh para peserta.
Workshop ini membahas banyak hal—dari standar pelayanan dan SOP, strategi excellent service, simulasi kasus, hingga etika layanan berbasis moderasi beragama. Tak lupa, sesi evaluasi dan refleksi lokal pun dilakukan bersama Kepala Kemenag Sleman untuk mengurai praktik layanan yang masih perlu ditingkatkan di tingkat lapangan.
Kemenag Berdampak, ASN Bertransformasi
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan kembali bahwa transformasi layanan tidak cukup dengan digitalisasi, tetapi harus diiringi dengan perubahan mentalitas, keterampilan komunikasi, dan budaya kerja kolaboratif.
Pelayanan prima adalah napas baru birokrasi yang menyentuh: tidak hanya mencatat data, tetapi menyapa jiwa. Tidak sekadar mengisi formulir, tapi menguatkan kepercayaan.
Masyarakat tidak peduli seberapa canggih sistem yang kita bangun, jika senyum petugas tak pernah mereka temukan.
Karena itu, mari kita rawat makna layanan sebagai ladang amal, bukan hanya pekerjaan. Di tangan para pelayan umat inilah wajah negara tercermin—apakah sekadar prosedural, atau sungguh mengayomi dan menghidupi. Wallahu a'lam.
*ASN Kanwil Kemenag DIY



