Jaja Zarkasyi, MA
(alumnus pesantren Gedongan Cirebon, Direktur RUMI)
Ada tradisi yang hingga kini masih saya ingat dari Pesantren Gedongan Cirebon, yaitu lebaran ketupat atau dikenal pula dengan istilah syawalan. Waktunya adalah 1 minggu setelah perayaan Idul Fitri. Sesuai dengan namanya, lebaran ketupat identik dengan sajian ketupat sebagai menu utama. Berbagai jenis dan ukuran ketupat tersedia, ditambah dengan menu sayur cabe, kerupuk dan daging ayam. Belum lagi menu-menu tambahan yang juga akan menyediakan kelezatan.
Seperti halnya lebaran Idul Fitri, lebaran ketupat diramaikan dengan berbagai kunjungan para santri, alumni dan masyarakat luas kepada para kyai dan sesepuh yang sudah dianggap berjasa. Lebaran ketupat bersamaan dengan awal masuk para santri setelah menikmati liburan syawal. Pun, para alumni menjadikan lebaran ketupat sebagai momentum bersilaturahim dengan para ustadz, kyai dan sahabat. Tak pelak, suasana lebaran ketupat menyajikan kehebohan luar biasa saat para tamu saling menyapa dan bersenda gurau.
Tradisi lebaran ketupat menyimpan makna filosophis tentang pentingnya ikatan yang tak terputus antara guru dan murid, antara ulama dan ummat. Maka, walau telah terpisah jarak dan waktu, bagi para alumni tetaplah memiliki ikatan spiritual dan intelektual dengan sang guru.
Tradisi ini bukanlah sebatas ajang makan-makan dengan berbagai sajian ketupat, melainkan menyajikan berbagai kehangantan spiritual. Mereka yang telah berpisah lama dengan teman, kyai dan para juru masak, kini dapat kembali merasakan kehangatan interaksi yang tentu memberi rasa bahagia yang luar biasa, menyuguhkan pengalaman spiritual yang sangat berarti bagi jiwa.
Lebaran ketupat ibarat meng-up grade semangat, motivasi dan pengetahuan serta spiritualitas. Kita kembali menjejaki jalan-jalan yang pernah dilalui saat awal mendaki tangga spiritualitas. Mungkin, seabrek kesibukan dan aktifitas telah memalingkan orientasi hidup, membuat kita lupa akan tujuan hidup. Pun, berbagai problematika hidup telah melumpuhkan beberapa sendi di kehidupan sehingga terasa berat saat menghadapi pendakian hidup. Maka, momentum inilah kita dapat kembali menarik spirit dari guru-guru yang istiqomah memberi pendidikan spiritual terbaik bagi para muridnya, atau para sahabat yang telah sampai pada derajat “sukses” di bidangnya masing-masing.
Lebaran ketupat adalah satu diantara tradisi yang lahir dari rahim pesantren sebagai penggambaran kuatnya posisi kyai/guru sebagai pusat pergerakan spiritual. Kyai bukanlah sebatas sosok yang memiliki santri dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Kyai juga bukanlah sosok yang dipandang mampu memberi pengobatan singkat atas penyakit yang diderita dan doanya sangat ampuh. Kyai adalah manusia seperti halnya kita, namun memiliki keistimewaan yang dapat ia bagikan kepada siapa saja yang menghendaki kemuliaan.
Bagi saya, kyai bukanlah sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pusat pergerakan spiritual, menggerakkan para saalik melalui uswah hasanah (teladan yang baik) menapaki tangga-tangga spiritual sebagaimana diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW. Di sinilah, keistimewaan sosok kyai bukanlah terletak pada garis keturunannya, melainkan kekuatannya dalam mentransformasikan ilmu dan amaliah kepada para murid; menggerakkan jiwa-jiwa untuk masuk kedalam pusaran spiritualitas Islam dan menumbuhkembangkan tauhid.
Maka, menjejakkan kaki di pesantren seperti kembali membuka lembar demi lembar kisah-kisah heroik sewaktu mengaji kitab kuning, berjuang men-syarah (menerjemahkan) kitab dalam bahasa jawa yang sangat tak familiar, lalu sorogan (membaca kitab dan terjemahnya di hadapan kyai). Atau usaha yang begitu berat saat memulai belajar puasa sunah, tahajjud dan amalan wirid. Ternyata, untuk sampai pada derajat istiqomah itu penuh tantangan dan rintangan, membutuhkan kesungguhan dan strategi, serta beberapa bantuan motivasi dan bimbingan dari sang guru.
Walhasil, lebaran ketupat bukan hanya menuntaskan kerinduan akan kelezatan ketupat dan sayur cabe, akan tetapi juga menuntaskan kerinduan akan nilai-nilai spiritualitas pesantren. Setidaknya, ada motivasi yang dapat dibawa kembali ke tempat asal untuk kembali melanjutkan aktifitas, merangkai cita dan cinta. inna ma’al ‘usri yusraan. (kangjeje/foto:koleksi-pribadi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



