Ende, Bimas Islam — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap memberikan layanan kepada masyarakat meski gedung kantor mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Pelayanan pernikahan hingga bimbingan perkawinan tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan kondisi dan mengutamakan keselamatan.
Kepala KUA Ndona, Abdul Latif, mengatakan, pihaknya tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah kondisi pascagempa. Pada Rabu (19/8/2026), petugas bahkan melaksanakan pelayanan pernikahan di Desa Nila, salah satu desa terpencil di wilayah tersebut.
“Peristiwa pernikahan tanggal 19 kemarin, ya, 19 Agustus, hari Rabu, di Desa Nila. Desa Nila itu salah satu desa yang sangat terpencil,” ujar Abdul Latif, Jumat (21/8/2026), di Ende, NTT.
Menurut Abdul Latif, perjalanan menuju Desa Nila cukup sulit. Petugas harus melewati jalur laut dan tebing sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan ojek untuk mencapai lokasi.
“Situasi jalur yang kita hadapi itu jalur yang sangat ekstrem karena melewati laut. Setelah melewati laut, kemudian ada tebing panjang yang harus dilalui. Setelah itu, untuk sampai ke lokasi tujuan, kita harus memakai ojek,” jelasnya.
Ia mengatakan, ojek yang digunakan merupakan kendaraan yang biasa melintasi medan tersebut. Jalan yang sempit dan berada di sisi jurang membuat perjalanan membutuhkan kehati-hatian.
“Ojek ini memang sudah dirancang khusus karena kondisi jalannya sangat terjal dan sangat ekstrem. Jadi lebar jalan untuk motor ojek itu hanya beberapa jengkal saja, dan di sampingnya jurang. Jadi butuh kehati-hatian, tukang ojeknya pun memang harus orang situ, karena orang situ sudah biasa menjalani jalur itu. Kalau orang baru, tidak bisa,” ujarnya.
Abdul Latif menambahkan, pelayanan pernikahan tetap dilaksanakan meski gempa susulan masih terjadi pada 19 Agustus. Sementara itu, kerusakan gedung KUA terjadi akibat gempa yang mengguncang Flores sejak 15 Agustus.
“Masih ada gempa. Jadi tanggal 19 itu masih ada gempa susulan. Kita masih merasakan gempa pada tanggal 19 itu. Tapi gempa yang pertama, yang mulai tanggal 15, itulah yang membuat gedung ini terdampak,” ujarnya.
Kondisi gedung juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan layanan berikutnya. Dalam dua hari setelah wawancara, KUA Ndona dijadwalkan menggelar bimbingan perkawinan dengan memilih lokasi yang lebih aman.
“Dalam dua hari ke depan nanti ada bimbingan pernikahan. Kita tetap laksanakan, tapi kita cari tempat yang aman. Kalau sedang di dalam ruangan, kita bisa pindah ke luar, karena menjaga jangan sampai nanti ketika ada bimbingan pernikahan tiba-tiba ada gempa, sementara bangunan ini sudah tidak kuat,” jelasnya.
Menurut Abdul Latif, pelayanan kepada masyarakat tetap diupayakan selama kondisi memungkinkan. Namun, keselamatan petugas dan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi dan pelaksanaan kegiatan.
“Jadi nanti bimbingan perkawinan bisa kita laksanakan di luar, biar aman,” imbuhnya.
Abdul Latif berharap gedung KUA Ndona segera mendapat penanganan dari pihak berwenang sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung secara optimal.
“Harapan saya satu: kalau ini dilihat oleh yang berwenang dari Jakarta, semoga ditindaklanjuti agar KUA ini bisa dibangun kembali dengan baik, sehingga pelayanan bisa maksimal. Jadi masyarakat yang datang ke sini juga tidak perlu khawatir dalam keadaan seperti ini,” harapnya.
“Harapan kami, semoga cepat direspons agar cepat diperbaiki,” lanjut Abdul Latif.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengatakan, Kementerian Agama terus mengupayakan layanan keagamaan tetap berjalan di wilayah terdampak bencana dengan mengutamakan keselamatan masyarakat dan petugas.
“Di tengah kondisi pascagempa seperti ini, kita perlu memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan keagamaan, tentu dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Ahmad Zayadi.
Menurutnya, langkah KUA Ndona menyesuaikan lokasi pelayanan dengan kondisi gedung merupakan bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat di tengah situasi bencana.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar jajaran Kementerian Agama di daerah terdampak bencana bergerak cepat melakukan pendataan, memastikan layanan tetap berjalan, dan memberikan dukungan kepada masyarakat.
“Kita tidak ingin masyarakat terdampak bencana semakin kesulitan mendapatkan pelayanan. Karena itu, layanan tetap kita upayakan hadir dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.
Zayadi juga berharap fasilitas layanan keagamaan yang terdampak gempa, termasuk KUA Ndona, segera mendapatkan penanganan. “Semoga kondisi segera pulih, fasilitas yang rusak dapat segera ditangani, dan jajaran KUA tetap diberikan kekuatan dalam melayani masyarakat. Keselamatan petugas dan masyarakat tentu menjadi yang utama,” pungkasnya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



