Semarang, bimasislam— Di pinggir pusat kota Semarang, ibu kota Jawa Tengah, tepatnya di ketinggian bukit Ngalian, berdiri Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah, atau disebut juga Life Skill Daarun Najah Boarding School. Berada di sebuah komplek perumahan Bukit Beringin Lestari, Ngalian, Semarang, pesantren ini memang tidak terlalu mencolok, namun jangan tanya semangat dan cita-citanya dalam membangun Sumber Daya Manusia.
Saat bimasislam berkunjung liputan ke sana (26/10), nampak sekali kesahajaan pesantren ini, namun menyimpan cita-cita besar pendiri dan pengasuhnya. Ditemui pengasuh pesantren ini, Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag., bimasislam memperoleh informasi menarik bahwa pesantren ini didirikan untuk menyiapkan para ahli, khususnya bidang ilmu falak, yang menjadi keahlian pengasuhnya. Para santrinya pun bukan sembarang santri, tetapi mereka yang berstatus mahasiswa/mahasiswi UIN Walisongo Semarang.
“Semua santri di sini berstatus mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Mereka kuliah di berbagai fakultas yang ada di UIN Walisongo Semarang. Ada yang baru semester satu, tiga, tujuh, bahkan alumninya ada yang sudah menjadi dosen, pengusaha dan lain-lain. Namun mulai tahun ini pesantren Daarun Najaah diberi kepercayaan Kementerian Agama ketempatan 30 orang mahasiswa yang belajar ilmu falak dengan beasiswa penuh. Mereka adalah penerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi)”, terang Izzuddin.
Lebih lanjut Izzuddin menerangkan bahwa para santri mendapatkan materi-materi khusus tentang ilmu falak di pesantren ini, selain tentu saja didapatkan dari bangku kuliah. Para santri putra saat ini dapat bermukim penuh di pesantren, sementara yang putri sementara tinggal di rumah-rumah penduduk karena belum tersedia asrama putri.
“Kami terus berupaya mengembangkan pesantren ini. Untuk yang putra sudah ada asramanya, namun untuk yang putri belum ada, sehingga mereka untuk sementara tinggal di sekitar pesantren namun mereka tetap harus mengikuti kegiatan pesantren. Insya allah kami akan membangun gedung asrama putri di depan rumah kami ini”, katanya.
Dalam catatan bimasislam, nama Ahmad Izzuddin, yang menjadi pengasuh pesantren ini bukanlah asing di dunia ilmu falak Indonesia. Selain menjabat sebagai ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia, dia juga pernah menjabat sebagai Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Direktorat Urais dan Binsyar, Ditjen Bimas Islam. Selama dua tahun, Izzuddin telah melakukan banyak hal dalam membangun ilmu falak, dan implementasinya di Indoensia. Salah satu karya yang ditinggalkan saat menjabat sebagai Kasubdit adalah adanya aplikasi SIHAT (Sistem Informasi Hisab dan Rukyat) di Ditjen Bimas Islam yang telah digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk jadwal shalat dan imsakiyah.
“Saya optimis, ke depan penyatuan kalender hijriyah di Indonesia akan benar-benar tewujud. Hanya menunggu waktu saja. Kita telah memiliki tim kerja Hisab dan Rukyat yang sudah lama dibentuk, dimana para anggotanya terdiri dari perwakilan Ormas Islam di Indonesia. Karena itu, komunikasi antar elemen umat perlu terus ditingkatkan, dan kader-kader ilmu falak harus didorong agar mereka bisa tumbuh menjadi ahli falak modern”, ujarnya.
Izzuddin, begitu penulis produktif ini biasa dipanggil, akan memfasilitasi para calon ahli ilmu falak melalui pesantren ini. Dia berharap pesantren ini dapat berkembang ke depan, dan tentu saja mendapat dukungan dari banyak pihak, khususnya Kemenag RI.
“Ilmu falak itu suatu ilmu yang menarik sebenarnya. Banyak orang yang merasa ngeri dengan ilmu ini karena mereka belum menikmati bagaimana asyiknya ilmu ini. Ilmu falak itu sangat dinamis, terkait dengan perkembangan teknologi. Para santri di sini saya juga ajarkan bagaimana mereka belajar ilmu falak dengan pendekatan yang modern”, tutupnya. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



