“Ah, sudah…nanti MC-nya bu Lilih saja. Kalau sudah bu Lilih, pasti dinamis acaranya.” Begitu seloroh seorang pejabat di Kementerian Agama saat memastikan MC yang tepat untuk hajatan akbar Kementerian Agama di bilangan Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
***
Dakwah tidak mesti berceramah di mimbar-mimbar, tidak pula mesti di balik dinding masjid atau bilik-bilik pesantren. Bagi seorang presenter paling moncer di Bimas Islam, Lilih Rahmawati, menjadi seorang presenter juga merupakan sebuah jalan dakwah.
Wanita yang seringkali tampil sebagai presenter pada program religi di TVRI, Indosiar, dan SCTV itu telah merintis karir sebagai presenter sejak tahun 1998. Saat ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketika itu, seorang dosen mempromosikannya untuk menjadi pembawa acara di sebuah stasiun televisi, “Karena yang meminta adalah dosen, saya percaya ia punya penilaian tentang kemampuan saya” kisah Lilih saat ditemui Majalah Bimas Islam di ruang kerjanya, Gedung Kementerian Agama Lantai 7, Jalan MH.Thamrin Nomor 6, Jakarta Pusat.
Niatnya adalah belajar, prinsip itulah yang dipegang istri dari Muhammad Ridwan itu saat memandu berbagai program keagamaan baik on air maupun off air. Bagi Ibu dari empat anak ini, menjadi presenter pada program keagamaan membuat dirinya menjadi kaya. Bukan kaya dalam ukuran-ukuran materi, melainkan kaya akan ilmu dan hikmah dalam menyelami luasnya khazanah Islam. “Saya menjadi dekat dengan para ulama, kyai, dan para ustadz yang seringkali menjadi narasumber. Saya banyak belajar dan turut mendengarkan paparan beliau-beliau ketika menyampaikan materi.” Ujarnya. Itu sebabnya, lantaran jam terbangnya yang sudah tinggi dalam mendampingi para ustadz, ia kerap pula didaulat untuk mengisi taushiyah pada berbagai pengajian dan seminar di berbagai daerah.
Hal itu pula yang menjadi alasan mengapa ia menjatuhkan pilihan untuk menjadi pemandu khusus bagi program-program keagamaan, bukan presenter program lain. Baginya, dengan memandu acara religi, ia bisa berbagi ilmu dengan pemirsa dan turut berbagi manfaat bagi banyak orang.
Wanita kelahiran 1976 ini mengaku dengan menjadi presenter ia memiliki kesempatan untuk diskusi sekaligus berkonsultasi dengan para ulama, kiyai, atau ustadz. “Ibarat sambil menyelam minum air, saya banyak memetik ilmu dan khazanah keagamaan saat menjadi presenter. Banyak belajar untuk terus memperbaiki diri, serta menyadari betapa di dalam menjalani hidup sebetulnya kita sangat membutuhkan bimbingan,” jelasnya.
Lilih paham bahwa sangat banyak masyarakat yang mendapat manfaat dari program siaran keagamaan televisi yang ia pandu. Saat beberapa kali ditugaskan ke luar kota, Lilih bercerita, tak sedikit masyarakat yang menyambutnya. “Kami sering menyaksikan siaran agama di tv,” ujar Lilih menirukan sebagian pemirsa yang ia jumpai di sejumlah daerah. Hal ini menjadikan alumni Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini semakin termotivasi karena tersadar program yang ia pandu telah memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi masyarakat.
Menakar Kinerja Penghulu se-Indonesia
Kendatipun profesi sebagai presenter telah digelutinya sejak lama, Lilih tetap berupaya agar jadwal on air-nya tidak berbenturan tugas di kantor. Saat ini, wanita yang sudah mengabdi sebagai pegawai negeri sejak tahun 2000 itu diberi amanah sebagai Kepala Seksi Penilaian Kinerja Penghulu pada Subdit Kepenghuluan, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari'ah, yang tentu memiliki segudang kesibukan. “Yang selalu saya tekankan adalah saya selalu berupaya agar agenda on air tidak mengganggu tugas sebagai pegawai negeri dan ibu rumah tangga," ujarnya.
Terkait dengan profesinya di Kementerian Agama yang berkenaan dengan para penghulu di seluruh Indonesia, wanita berdarah Betawi ini meyakini bahwa tantangan para pelayan umat di tingkat kecamatan itu kian berat. Sebab menurutnya, saat ini para penghulu berhadapan dengan perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat yang terjadi di segala bidang, terutama tentu saja berkaitan dengan masalah pelayanan dan konsultasi nikah rujuk yang akan terus ada.
Menurut Lilih, peningkatan kinerja penghulu menjadi prioritas utama menuju penghulu yang profesional. Lebih-lebih, penghulu merupakan bagian tak terpisahkan dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang tengah menjadi PR Besar Bimas Islam. “Saat ini Bimas Islam Kementerian Agama tengah fokus pada peningkatan kualitas pelayanan KUA, penghulu merupakan bagian tak terpisahkan dari instansi KUA. Oleh karena itu, penghulu dituntut untuk memiliki kemampuan, keahlian dan keterampilan serta pengetahuan dan komitmen yang tinggi untuk keberhasilan bidang tugas profesinya,” tegasnya.
Saat ditanya faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja penghulu, Lilih menambahkan, kinerja para pelayan umat itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain Kemampuan (ability) berupa IQ (pendidikan, keilmuan dan skill/keahlian, EQ (kecakapan pribadi dan sosial), SQ (kecakapan spiritual) dan etos kerja. Selain itu, menurut Lilih, faktor lain yang memengaruhi kinerja penguhulu adalah faktor motivasi (motivation) berupa kebijakan, penghargaan, iklim kerja, serta sarana dan prasarana.
Ibu dari Sabrina Zahra, Syahdan Zahir (alm), Sami Zahir,dan Sulha Zahra itu mengingatkan bahwa sesuai dengan amanat KMA nomor 207 tahun 2014 tentang assesment Kementerian Agama, untuk menjadi penghulu seseorang harus melalui tahap assesment terlebih dahulu. Assesment penghulu tersebut meliputi kompetensi teknis berupa keilmuan dan keahlian, kompetensi manajerial dalam bentuk kepribadian yang baik, serta kemampuan dalam mengelola tugas dan fungsi manajemen.
“Dapat disimpulkan bahwa penghulu yang profesional adalah penghulu yang mampu merefleksikan ilmu amaliah (ilmu yang diamalkan) dan amal ilmiyah (amal yang dilandasi ilmu), sebagai ibadah ilahiyah (ketuhanan) dan khidmah insaniyah (kemanusiaan) dengan mengedepankan prinsip dan norma agama dan negara,”pungkas Lilih. (sigit)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



