Oleh:
Ahmad Syafaat*
(Tulisan ini untuk mengenang kepulangan Yai Nurkhazin, figur teladan yang tak pernah saya temui, kecuali ia sedang bekerja dan mengabdi)
Andai saja ada yang sempat bertanya kepada Isaac Newton bagaimana sebuah ide gravitasi itu datang? Maka ia akan menjawab, "dari sebuah kejadian tak terduga, ketika aku duduk anteng di bawah pohon apel, disusul dengan jatuhnya buah pohon itu tepat di atas kepalaku, aahaa euraka". Konon dari sinilah kira-kira teori gaya tarik menarik terjadi antara keseluruhan pertikel yang memiliki massa di alam semesta, dapat tercipta dan bermula.
Tak jauh berbeda dengan Isaac Newton, bagi banyak tokoh lainnya seperti Nelson Mandela, Soekarno atau Buya Hamka tempat penting dimana inspirasi itu bermula bahkan didapatkan dari bilik jeruji bernama penjara. Namun siapa menyangka dari ruang sempit nan pengap itu ketiganya dapat melahirkan karya yang luar biasa, diantaranya berupa gagasan pembebasan hak asasi manusia, pergerakan revolusi kemerdekaan hingga tafsir atas kitab Suci Al-Quran yang kesemuanya merupakan warisan berharga bagi peradaban umat manusia.
Tangga Thamrin: Pintu Literasi Birokrasi
Belakangan hampir belasan tahun lalu, kehadiran gedung-gedung pencakar langit di Ibu Kota, tampaknya menuntut para penghuninya untuk menemukan kembali sudut-sudut kreatif dengan nuansa imajinatif yang sama. Wal hasil, dengan merujuk pengalaman lapangan sebagai marbot di lantai VII Gedung Kemenag Thamrin 6 Jakpus, kedudukan tangga tiba-tiba muncul sebagai kandidat utama tempat bersemainya gagasan kreatif yang secara perlahan kian tercipta.
Tak ayal, tangga kemudian dalam definisi penghuninya diartikan sebagai ruang sempit yang dapat melahirkan kultur literasi birokrasi yang sangat luas dan tidak terduga. Menurut hikayat ringan dari salah seorang penghuninya, kelahiran konsep-konsep penting yang kemudian menjadi program kebijakan muncul dari sudut sempit yang berukuran tak lebih dari 2x1 meter tersebut.
Kenapa harus tangga?
Wis lumrah disadari bahwa tradisi birokrasi senantiasa beku dan kaku dengan rutinitas dan kebijakan yang cenderung itu melulu atau nyaris berulang sama. Dan bisa ditebak, dimana kira-kira kekakuan itu seringkali teraba? Ya memang tak jarang, bahwa hal2 administratif seringkali justru terbengkalai di atas tumpukan kertas di balik meja kerja. Hal lainnya yg dpt dirujuk tentu saja juga adalah samanya daftar produk kegiatan yang akan dilaksanakan secara tahunan dan kerangka acuan kerja yg ada sama sekali tak beranjak maju dan berubah.
Tren “kebuntuan” yang acap dialami di lingkungan birokrasi ini, tak heran lantas direkam oleh Mao Tse Tung dalam catatannya berjudul “Twenty Manifestations of Bureaucracy,” (terbit 1970, diterjemahkan Dwicipta; 2018). Dalam catatannya Mao menyebutkan diantara ciri-ciri birokrasi pada umumnya adalah tidak terbiasa memiliki atau mencari pengetahuan, alih-alih kemudian untuk mengolah atau mengembangkannya demi kemajuan sebuah program. Meski begitu ada banyak tumpukan dokumen dan laporan, namun sayangnya tradisi untuk membaca, mengkritisi atau mengevaluasi nyaris sama sekali tidak pernah menghinggapi benak pemikiran para pemegangnya. Dan salah satu penyebab kebuntuan lainnya yang turut memengaruhi ungkap Mao adalah dikarenakan luas dan besarnya ruang-ruang kerja yang memanjakan dan belakangan tampak membuat kebingungan baru atas sporadisnya jadwal gilir kegiatan yang diagendakan.
Lantas, kira-kira apa korelasi temuan yang diajukan Mao dengan kedudukan tangga yang menjadi potensi pendobrak tersumbatnya kreatifitas birokrasi itu?
Adalah kondisi psikologis yang ditawarkan oleh tangga sebagai tempat berpijak yang sangat sempit untuk kemudian dijadikan sebagai ruang jeda memikirkan kembali alam bebas kreatifitas seluas-luasnya. Bagi mereka yang pernah merasakan suasana berdiskusi di ruang tangga, setidaknya akan mendapatkan kesempatan bagaimana merayakan bertebarannya konsep yg melintas brilian.
Peristiwa lainnya adalah kesetaraan, yaitu dengan berdiri sama tinggi, menyandar sama tebal pada pijakan-pijakan lantai dan dinding yang mengitari.
Dari tangga, pertukaran literasi berjalan mengalir dan apa adanya. Tidak ada tendensi untuk saling menggurui, atau lebih jauh memberikan perintah tanpa arah. Kebutuhan untuk terus bertanya atas informasi yang tidak diketahui diniatkan untuk saling mempelajari, dan keniscayaan keluarnya ilmu dan pengetahuan didasarkan pada keikhlasan untuk saling berbagi. Dengan demikian sisi-sisi kekakuan yang sekiranya melekat di ruang-ruang formal, atau pun kecurigaan, egoisme serta celah perselisihan antar “generasi”, nyaris diabaikan dan dihindari.
Kedudukan tangga dalam tulisan ini, tentu adalah sekadar jembatan berbagi terbukanya kreatifitas pemikiran yang lebih luas. Tentu saja ada banyak ruang-ruang lain yang seghalibnya dapat dimanfaatkan bagi terbukanya suasana persemaian literasi itu, seperti lahan parkir, ruang luas seperti tempat ibadah, kantin, warteg mpok Mimi, café-café Sabang atau jalur jogging di lingkaran Monas. Namun sekali lagi tangga dengan ruang sempit dan temporernya mungkin menawarkan kulturnya yang unik dan berbeda. Wal akhir, kebutuhan gagasan brilian di era komunitas pintar saat ini ghalibnya bukan lagi barang yang bisa ditawar. Ide demikian itu tidak harus selalu linier dan ia dapat datang dari kutub mana saja, tugas kita selanjutnya adalah bagaimana kita menjemput, mengolah dan membumikannya.
*Pelaksana Kepustakaan Islam



