Jakarta, bimasislam— Wakil Menteri Agama, Prof.Dr.Nasaruddin Umar, meluncurkan lima buku sekaligus yang mengusung tema Tasawuf, Gender, dan Deradikalisasi Tafsir Agama, Selasa (19/8) di Hotel Sultan, Jakarta. “Menulis adalah bahagian dari hidup saya,” kata Nasaruddin ketika memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Hadir di antara 200 undangan sejumlah tokoh nasional dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menko Perekonomian Chairul Tandjung, Mendikbud Muhammad Nuh, Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan, Manakertrans Muhaimin Iskandar, Jaksa Agung Basri Arief, dan Kepala Bappenas Armida Alisyahbana. Tampak hadir juga para Wakil Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Pakar Tafsir Quraish Shihab, mantan ibu Negara Shinta Nuriyah Wahid, Mantan Menag Suryadharma Ali, aktivis Yenny Wahid, Ketua PBNU Said Aqil Siradj, dan Jajaran Pejabat Kementerian Agama.
Kelima judul buku yang di-launching berjudul Deradikalisasi Pemahaman Al Quran dan Hadis, Mendekati Tuhan dengan Kualitas Feminim, Ketika Fiqh Membela Perempuan, Menuai Fadhilah Dunia Menuai Berkah Akhirat, dan Tasawuf Modern Jalan Mengenal dan Mendekatkan Diri kepada Allah Swt. Pejabat sekaligus akademisi yang masuk dalam The Most 500 Influental Muslim in the World selama tiga tahun berturut-turut itu memang seorang akademisi yang produktif menulis. Saat ini, sekitar 17000 artikelnya yang tersebar di berbagai media sedang dalam tahap editing dan siap diterbitkan dalam 17 judul buku.
Dikatakan Nasaruddin, setiap hari dirinya selalu menulis minimal 10 halaman, dan ia menyisihkan waktu hanya tiga jam untuk tidur. Ia menulis antara tahajjud hingga menjelang Shubuh. Dari menulis itulah, Wamenag mengaku memperoleh uang untuk menghidupi diri, keluarga, dan adik-adiknya “Dengan menulis, saya bisa menghidupi keluarga dan adik-adik.”
Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menyambut baik kehadiran buku-buku karya Nasaruddin. Dalam sambutannya, mantan pimpinan MPR itu memberikan apresiasi yang tinggi kepada Wamenag yang disela kesibukannya sebagai pejabat Negara, masih meluangkan waktu untuk menuangkan gagasan brilian dalam bentuk buku.
“Buku rekan sejawat saya, Pak Nasaruddin Umar, menjadi argumen akademis tentang perlunya tafsir agama yang moderat, sebagai paham keberagamaan yang tepat untuk bangsa Indonesia. Semoga Pak Nassaruddin diberi kekuatan dan kesehatan agar senantiasa dapat memberikan sumbangan pemikirannya demi kemajuan bangsa. Penulisan kelima buku ini mengukuhkan Pak Nasaruddin Umar sebagai seorang penulis yang produktif, inovatif, dan inspiratif sebagai seorang akademisi.” paparnya.(Ska/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



