Jakarta, Bimas Islam — M. Quraish Shihab, Mantan Menteri Agama sekaligus salah satu Cendekiawann Muslim, menegaskan bahwa esensi diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia. Hal tersebut disampaikan dalam tausiahnya pada Peringatan Nuzulul Qur’an Tingkat Nasional di Istana Negara, Jakarta.
Menurutnya, Al-Qur'an diturunkan pada malam Lailatul Qadar yang dilukiskan penuh dengan kedamaian hingga fajar kehidupan di hari kemudian. Ia mengajak bangsa Indonesia untuk memahami Al-Qur'an sebagai jembatan menuju harmoni di tengah keberagaman yang ada.
"Al-Qur'an yang diturunkan itu menjadi pedoman hidup bagi setiap kita. Dan dia hendaknya menjadi pangkalan tempat bertolak serta pelabuhan tempat bersauh. Allah Subhanahu wa taala mewajibkan kita mewujudkan kedamaian. Kedamaian bermula dari jiwa kita, keluar ke tengah masyarakat kita, ke tengah masyarakat dunia," ujar Quraish Shihab, Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan bahwa perbedaan dalam beragama maupun berkeyakinan adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh memicu perpecahan. "Allah ingin mengajarkan kita bahwa perbedaan itu adalah suatu keniscayaan, tetapi perbedaan tidak perlu menimbulkan pertentangan. Perbedaan yang dikehendaki Al-Qur'an itu adalah sama dengan falsafat bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika," lanjutnya.
Keadilan Sebagai Fondasi Kesejahteraan Rakyat
Selain perdamaian, Prof. Quraish Shihab juga memberikan penekanan mendalam pada aspek keadilan sebagai syarat mutlak terciptanya stabilitas nasional. Mengutip pidato perdana Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia menjelaskan bahwa kekuatan seorang pemimpin diukur dari keberpihakannya kepada mereka yang lemah untuk mendapatkan hak-haknya.
"Banyak definisi keadilan. Ada yang memberi definisi, keadilan adalah keberpihakan kepada yang kuat. Plato tidak setuju, tapi sebagian ulama Islam setuju dengan catatan yang dikaitkan dengan sambutan Sayidina Abu Bakar," jelasnya.
Ia menguraikan lebih lanjut bahwa dalam konsep keadilan Islam, mereka yang dianggap kuat oleh masyarakat sebenarnya adalah sosok yang lemah di mata hukum jika mereka mengambil hak orang lain. Sebaliknya, rakyat yang lemah menjadi kuat di sisi pemimpin hingga haknya berhasil dikembalikan.
"Yang kuat di antara kamu lemah di sisiku sampai aku mencabut hak orang lain yang diambilnya. Yang lemah, kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya kepadanya yang diambil oleh yang kamu namai kuat. Kalau ini kita terapkan, keadilan dan kedamaian akan tercapai," tegas penulis Tafsir Al-Misbah tersebut.
Menutup tausyiahnya, Prof. Quraish Shihab memanjatkan doa khusus bagi Presiden agar senantiasa dibimbing Tuhan dalam menjalankan tugas kenegaraan. Ia berharap kepemimpinan nasional dapat menjadi saluran takdir Tuhan untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hadir dalam giat, Presiden RI Prabowo Subianto, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Syafii, jajaran Pimpinan Kementerian dan Lembaga Kabinet Merah Putih.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



