Jakarta, bimasislam—Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Machasin mengatakanUmat Islam dewasa ini tengah menghadapi tiga hal yang perlu mendapat perhatian dari pelaku dakwah, termasuk para penyuluh agama Islam (PAI). Hal itu dikatakan saat memberi sambutan pada Kegiatan Pemilihan Penyuluh Agama Islam (PAI) Teladan Tingkat Nasional VII, di Hotel Grand Tropic Jakarta, Selasa (1/12) malam.
Tiga hal yang dimaksud adalah. Pertama, citra buruk terhadap Islam. “Jaman sekarang kita disuguhi atau diberi keadaan dimana memaknai agama Islam yang tidak menyenangkan, yang banyak kita dengar Islam adalah teror. Inilah tugas kita menyampaikan walau sedikit. Islam ditampilkan tidak menyenangkan seperti terorisme. Maka muncullah islamophobia, banyaknya media yang membentuk orang untuk takut atau trauma dengan umat Islam. Sayangnya banyak yang mendukung cerita-cerita itu. Sesungguhnya Islam itu agama yang lembut”, ujar Machasin.
Yang kedua adalah kecenderungan mengedepankan perbedaan. “Diantara kita sekarang ada kecenderungan lebihmengedepankan perbedaan daripada persatuan. Dimana banyak kita dengar dari media, anti ini atau anti itu seperti banyak kita dengar akhir-akhir ini.Mengapa seperti ini, padahal Islam tidak ada anti-anti seperti itu”, terang mantan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag ini.
Yang ketiga, lanjut Machasin adalah masalah kedewasaan. “Masyarakat kita ini masih banyak yang pada umumya belum dewasa, apa kedewasaaan masyarakat? yaitu menghargai perbedaan. Tidak memaksakan kehendak pada orang lain. Dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah”, tegasnya.
Mendewasakan masyarakat, imbuh Machasin bukan dengan menyelasaikan masalah dengan konflik namun dengan dialog. “Belum melakukan dialog tapi sudah menutup pintu taubat. Ini saya kira yang perlu direnungi oleh kita semua”, tambahnya.
Penyuluh adalah Api Penerangan
Ditempat yang sama, Machasin mengatakan tugas sebagai penyuluh agama Islam merupakan tugas suci, bagaikan lampu penerang di kegelapan malam, kehadirannya laksana cahaya di malam hari.
Dijelaskan Machasin bahwa kata penyuluh kata dasarnya yaitu suluh berarti api. Penyuluh semestinya seperti cinta yang membakar tapi tidak merusak, dia menyemangati. Menyala tapi tidak membakar. Jangan menjadi penyuluh yang dia sendiri terbakar
“Tugas memberikan penyuluhan itu lebih ke panggilan suci. Orang mengatakan menyalakan lampu atau api yang kecil di malam hari lebih bermakna dari pada menyalakan lampu besar di siang hari, seperti mercusuar yang memberi arah ketika malam hari, itulah penyuluh”, ujar Machasin seoalh memberi semangat pada para penyuluh agama Islam terbaik dari 33 provinsi ini.
Diakhir sambutannya, Machasin berharap agar pemilihan penyuluh agama Islam teladan kali ini dapat memperkuat identitas diri para PAI. “Kegiatan ini meneguhkan bahwa kita tidak sendirian tapi ada di 33 provinsi, semoga kita terus dikobarkan semangatnya dalam memberikan suluh (penerangan-red)”, pungkasnya. (syam/bimasislam).
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



